Expert Writing Class GWP Batch 3

i02yrfio

Jadi ceritanya akhir pekan kemarin aku ke Jakarta. Kalau bukan demi menghadiri Expert Writing Class yang diadakan oleh Gramedia, enggak mungkin Tarzan ini mau turun dari pohon lalu terbang ke kota besar.

Expert Writing Class ini sendiri diadakan sebagai acara penutupan ajang pencarian naskah Teenlit dan Young Adult melalui Gramedia Writing Project Batch 3. Puncaknya, pengumuman pemenang GWP3, dong. Hadiahnya besar banget, makanya enggak heran kalau pesertanya juga membludak. Empat ratusan naskah yang masuk! Dan dari empat ratusan naskah itu, hanya 73 naskah yang lolos seleksi untuk mengikuti Expert Writing Class tanggal 22 Juli kemarin di Jakarta Creative Hub.

Baca selengkapnya

Happy Birthday, Woman!

Ya, sekarang blog ini sudah menjadi wanita dewasa. Dia bukan lagi gadis remaja yang selalu mengejar waktu. Dia kini menjelma sebagai sang Waktu sendiri. 

*ditepok raket nyamuk*


Sebenarnya saya enggak sengaja buka wordpress hari ini karena ada pemberitahuan postingan baru dari situs yang saya ikuti di e-mail. Karena materi postingannya sedang membahas topik yang saya gandrungi belakangan ini, maka saya berencana menge-like dan mem-pingback. Tapi kemudian karena titik oranye pada ikon notifikasi lebih menggoda, akhirnya saya lupa postingan apa yang mau saya pingback tadi dan malah menulis postingan sampah ini, karena blog ini berulang tahun hari ini.
Tepatnya, ini ulang tahunnya yang keenam.

Enam tahun…

Waktu sudah berlalu sedemikian lama. Ketika membangun (?) blog ini, saya masih kelas sebelas dan lagi semangat-semangatnya di kelompok teater sekolah. Maka, saya membuat blog khusus untuk naskah-naskah drama sekolah dan dilengkapi daftar tautan ke situs-situs penyedia naskah drama remaja gratis lainnya. Saya juga kemudian menyelipkan beberapa cerpen yang saya tulis di bangku SMA ke blog itu, sebagai variasi dan filler blog supaya kelihatan lebih ramai isinya.

Namun, ternyata minat saya pada teater tidak bertahan lama. Saya, secara inkonsisten dan tak tahu malu malah memposting hal-hal absurd semacam prediksi akhir cerita Detektif Conan (postingan itu laris manis sampai saya tarik dari peredaran setelah terbukti prediksinya meleset jauuuuh). Saya juga memenuhi blog ini dengan postingan-postingan sampah lain yang sudah tidak ada bau-bau teaternya. Saya prihatin kalau mengingat kelabilan diri sendiri di masa lalu.

Setelahnya, blog ini berubah haluan lagi menjadi blog review buku amatiran, karena saya mulai menyukai novel-novel Indonesia dan berencana untuk stay update terhadap bacaan terbaru supaya blog ini tetap hidup. Tapi lagi-lagi saya melanggar komitmen sendiri tatkala saya mulai menulis review drama adaptasi Death Note.

Sampai di sini, isi blog saya sudah begitu beragam dan tidak fokus lagi. Tapi, saya pikir saya masih bisa merapikannya dengan menggolongkannya ke dalam empat kategori induk: naskah drama, fiksi, review, dan catatan bebas.

Akan tetapi, karena kalian sudah tahu sifat saya sekarang, isi blog ini bercampur lagi dan lagi. Semakin beragam dan random, dan saya bahkan tidak peduli lagi tentang konsistensi. Saya hanya menulis apa yang ingin saya tulis dan bisa saya selesaikan saat itu juga. Jika tulisan itu berhenti di tengah dan tidak saya lanjutkan lagi, saya akan dengan mantap menyimpan berkasnya jauh-jauh dari publik lalu melupakannya. 

Karena bagi saya, setiap awal harus memiliki akhir. Dan saya tahu tentang akhir bagi setiap tulisan yang tak terselesaikan: jangan pernah tampakkan.

Maka, jika blog ini terlihat begitu random bagi kalian, mungkin itu karena awalnya saya ingin mengembangkan sebuah sistem yang teratur (misalnya resensi buku setiap Jumat dan cerpen setiap Selasa) tetapi jiwa impulsif saya memporak-porandakannya dengan jaya seperti gempuran Sekutu atas Jerman di Normandia. Dan jika topik yang saya angkat pada setiap postingan terkesan dangkal dan tidak-ditulis-dengan-penuh-minat, itu juga karena jiwa impulsif saya yang begitu mudahnya bosan dan menyerah pada satu hal lalu melompat ke topik baru yang menarik hati untuk sesaat.

Jadi, sudah enam tahun blog ini mengudara. Ratusan pengunjung sudah singgah untuk melihat-lihat; ada yang numpang lewat lalu pergi tanpa permisi, ada pula yang memberikan umpan balik yang bernutrisi. Saya memahami, masih ada banyak PR untuk membenahi konten blog ini supaya lebih bermanfaat untuk para penduduk dunia maya lainnya, terutama anak-anak sekolah menengah atas (di mana jiwa saya masih tertinggal di sana).

Usia 6 tahun bukanlah usia muda lagi. Seorang anak sudah mulai mengenyam pendidikan di sekolah dasar, seekor kucing jantan yang merantau sudah pulang ke rumah, sebuah tunas sudah menjadi pohon, seorang mahasiswa sudah hampir di-DO, dan sebuah kota sudah berkembang pesat sejak terpilihnya walkot baru. Begitu pula seharusnya blog ini. Blogger-blogger lain yang memiliki opini kuat kerap berkomentar di postingan tertentu yang diisi dengan banyak imajinasi, yang membuat saya mau tak mau harus berubah menjadi lebih realistis. Ada juga usulan-usulan posting yang tidak pernah terpikir sebelumnya, yang mendorong kreativitas saya lebih jauh lagi (tapi sayangnya proyek kreatif itu tidak pernah selesai, haha). Saya sungguh berharap kehidupan dunia perbloggingan yang seperti ini tetap langgeng hingga peradaban manusia punah nanti (kok doanya seram).

Sekianlah dulu kata sambutan saya pada hari jadi Woman yang keenam ini. Sebenarnya saya ingin membuka sesi pertanyaan dan keluhan, tapi berhubung ini masih dalam suasana libur lebaran, saya ganti menjadi sesi maaf-maafan saja.

Pelayanmu yang patuh,

akaigita

[Giveaway] Less Than A Minute Ago

chgiveaway


Obrolan kita yang mana yang layak dijadikan prolog autobiografiku?

Mike

Mike, pertama-tama, kamu gak bakal bisa nulis autobiografi. Pikirin aja gimana caranya melewati hari esok. Saranku, tetaplah bernapas. Kedua, aku ingat satu obrolan yang menarik, tapi nanti aku kirim lewat e-mail aja.
Kara • 8 menit yang lalu

Halo, dalam rangka menyambut hari jadi salah satu karakter fiksiku, aku mengadakan giveaway berhadiah SENANDIKA PRISMA karya Aditia Yudis (@adit_adit) dan THE BLACK CAT AND OTHER STORIES karya Edgar Allan Poe.

Berminat?

Dalam giveaway ini, aku menantangmu untuk menuliskan potongan yang hilang di dalam buku CHILDHOOD’S HOUR. Kutipan cerita di atas diambil dari bab pertama buku tersebut. Jika diamati, kamu akan mendapati aliran waktunya dimulai dari ‘8 menit yang lalu’. Nah, tugasmu (ya, itu tugasmu) adalah tulislah prolog atau epilog cerita ini dalam aliran waktu ‘kurang dari satu menit yang lalu’. Menarik, bukan?

Ini ketentuan lainnya:

  1. Panjang cerita maksimal 1000 kata & boleh berformat narasi maupun epistolari.
  2. Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu karya.
  3. Cerita boleh diterbitkan di @storialco atau blog/platform menulis lainnya, jangan lupa sertakan tagar #GACH pada buku atau postingan blogmu.
  4. Mention aku di Twitter dengan format: #GACH [kalimat promosi] [judul tulisan] @akaigita @StorialCo [tautan tulisan].
  5. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 25 Februari hingga 17 Maret 2017 pukul 22.00 WIB.
  6. Pengumuman pemenang dilaksanakan pada Jumat, 24 Maret 2017 di www.storial.co
  7. Terbuka untuk peserta yang memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

Untuk keterangan lebih lengkap klik di sini.

Selamat menulis, teman-teman! Oh ya, kalau ada yang kurang jelas, silakan tanya-tanya di kolom komentar atau mention @akaigita di Twitter ^^

Pelayanmu yang patuh,

@akaigita

[Playlist] Childhood’s Hour

​Sampai tahun lalu (2015), aku selalu melengkapi ritual menulisku dengan playlist khusus. Playlist ini berbeda-beda untuk setiap proyek menulis, dan biasanya kubuat berdasarkan lagu apa yang sedang ‘in’ waktu itu, atau lagu dengan warna yang sesuai dengan mood cerita.

Untuk proyek menulis (ulang) cerita Kara dan Maik ini, karena waktunya bertepatan ketika Of Monsters And Men mengeluarkan album baru, maka playlist Childhood’s Hour didominasi lagu-lagu OMAM dari album “Beneath The Skin”. Berikut daftarnya.

Baca selengkapnya

[FF] Pensiun

Papa tak pernah bangun kesiangan, sekalipun ia mengakui terkadang ia menginginkannya. Hampir setiap jam ponselnya berbunyi—cuma nada pengingat, tapi lebih penting daripada seluruh panggilan telepon yang pernah diterimanya. Sarafku mulai terganggu dengan suara monofonik melengking ponsel tua itu.

Pernah sekali aku menanyakannya, “jika Papa pensiun, apakah ponsel Papa juga akan pensiun?”

Papa sedang mengatur pengingat untuk rapat di hari Sabtu. “Dia akan pensiun jika dia rusak.”

Nyatanya ponsel itu tak pernah rusak. Papa rela menghabiskan malam untuk men-service benda-benda yang mendukung pekerjaannya. Mobil, komputer, radio. Aku heran pernahkah sekali saja seumur hidupnya ia duduk tenang tanpa melakukan apa-apa? Maksudku benar-benar tidak melakukan apa-apa. Tapi gagasan itu membuatku takut. Aku harus melakukan sesuatu.

Baca selengkapnya

Shuichi Akai and Okiya Subaru (And All Aoyama’s Patterns)

Jreng-jreng…

Saya tahu postingan ini sudah out of date, tapi karena saya masih belum berkomentar apa-apa, maka hari ini saya akan angkat bicara.

Aoyama-sensei, please stop all this bullshit right now!

No, no, no.

Itu cuma teriakan dari hati yang merembes keluar dan nggak bisa ditahan. We start from this.

Kalian pasti sudah pada nebak dari dulu, kan? Kalau Okiya Subaru itu sebenarnya Shuichi Akai. Atau, kalau saya, nebaknya malah mereka kakak beradik (nebaknya salah banget). Sekarang telah terkuak bahwa adik laki-laki Shuichi Akai atau kakaknya Masumi Sera adalah (WARNING: spoiler) si cowok berkacamata berambut buntut bebek mantannya si polwan lalu lintas.

Let me show you.
Baca selengkapnya

[Reblog] Short and Sweet Advice for Writers – Try/Fail Cycles with Yes, But / No, And

Source: Short and Sweet Advice for Writers – Try/Fail Cycles with Yes, But/No, And

 

What a cute writing advice!

Buat kamu-kamu yang sedang belajar merangkai konflik atau berusaha menemukan pola di balik cerita-cerita yang ‘sukses’ menjalankan misinya, baca ini.

Pastikan kamu membawa buku tulis dan pena karena tanganmu akan langsung gatal untuk ‘menciptakan’ sesuatu 🙂

Oh, kalau kamu masih bingung dengan penggunaan Yes, but… atau No, and…, artikel di bawah ini memberi contoh yang mudah 🙂

http://thewritersaurus.com/2015/09/11/scene-and-sequel-the-scene/

[Reblog] Menulis Review Novel

Source: menulis review novel

Pas lagi getol-getolnya belajar bikin resensi untuk koleksi di rak bukuku, pas juga Mbak Jia Effendie nge-post dos-and-donts dalam menulis resensi buku. Tips yang bagus banget buat kamu-kamu yang ingin dunia tahu buku apa saja yang sudah kamu baca dan bagaimana pendapatmu tentang buku tersebut.

Intinya tetap, jaga etika. Tunjukkan kamu adalah pembaca yang bermartabat dengan menulis komentar yang bermartabat pula 🙂