[Playlist] Childhood’s Hour

​Sampai tahun lalu (2015), aku selalu melengkapi ritual menulisku dengan playlist khusus. Playlist ini berbeda-beda untuk setiap proyek menulis, dan biasanya kubuat berdasarkan lagu apa yang sedang ‘in’ waktu itu, atau lagu dengan warna yang sesuai dengan mood cerita.

Untuk proyek menulis (ulang) cerita Kara dan Maik ini, karena waktunya bertepatan ketika Of Monsters And Men mengeluarkan album baru, maka playlist Childhood’s Hour didominasi lagu-lagu OMAM dari album “Beneath The Skin”. Berikut daftarnya.

Baca selengkapnya

[FF] Pensiun

Papa tak pernah bangun kesiangan, sekalipun ia mengakui terkadang ia menginginkannya. Hampir setiap jam ponselnya berbunyi—cuma nada pengingat, tapi lebih penting daripada seluruh panggilan telepon yang pernah diterimanya. Sarafku mulai terganggu dengan suara monofonik melengking ponsel tua itu.

Pernah sekali aku menanyakannya, “jika Papa pensiun, apakah ponsel Papa juga akan pensiun?”

Papa sedang mengatur pengingat untuk rapat di hari Sabtu. “Dia akan pensiun jika dia rusak.”

Nyatanya ponsel itu tak pernah rusak. Papa rela menghabiskan malam untuk men-service benda-benda yang mendukung pekerjaannya. Mobil, komputer, radio. Aku heran pernahkah sekali saja seumur hidupnya ia duduk tenang tanpa melakukan apa-apa? Maksudku benar-benar tidak melakukan apa-apa. Tapi gagasan itu membuatku takut. Aku harus melakukan sesuatu.

Baca selengkapnya

Shuichi Akai and Okiya Subaru (And All Aoyama’s Patterns)

Jreng-jreng…

Saya tahu postingan ini sudah out of date, tapi karena saya masih belum berkomentar apa-apa, maka hari ini saya akan angkat bicara.

Aoyama-sensei, please stop all this bullshit right now!

No, no, no.

Itu cuma teriakan dari hati yang merembes keluar dan nggak bisa ditahan. We start from this.

Kalian pasti sudah pada nebak dari dulu, kan? Kalau Okiya Subaru itu sebenarnya Shuichi Akai. Atau, kalau saya, nebaknya malah mereka kakak beradik (nebaknya salah banget). Sekarang telah terkuak bahwa adik laki-laki Shuichi Akai atau kakaknya Masumi Sera adalah (WARNING: spoiler) si cowok berkacamata berambut buntut bebek mantannya si polwan lalu lintas.

Let me show you.
Baca selengkapnya

[Reblog] Short and Sweet Advice for Writers – Try/Fail Cycles with Yes, But / No, And

Source: Short and Sweet Advice for Writers – Try/Fail Cycles with Yes, But/No, And

 

What a cute writing advice!

Buat kamu-kamu yang sedang belajar merangkai konflik atau berusaha menemukan pola di balik cerita-cerita yang ‘sukses’ menjalankan misinya, baca ini.

Pastikan kamu membawa buku tulis dan pena karena tanganmu akan langsung gatal untuk ‘menciptakan’ sesuatu 🙂

Oh, kalau kamu masih bingung dengan penggunaan Yes, but… atau No, and…, artikel di bawah ini memberi contoh yang mudah 🙂

http://thewritersaurus.com/2015/09/11/scene-and-sequel-the-scene/

[Reblog] Menulis Review Novel

Source: menulis review novel

Pas lagi getol-getolnya belajar bikin resensi untuk koleksi di rak bukuku, pas juga Mbak Jia Effendie nge-post dos-and-donts dalam menulis resensi buku. Tips yang bagus banget buat kamu-kamu yang ingin dunia tahu buku apa saja yang sudah kamu baca dan bagaimana pendapatmu tentang buku tersebut.

Intinya tetap, jaga etika. Tunjukkan kamu adalah pembaca yang bermartabat dengan menulis komentar yang bermartabat pula 🙂

Kecelakaan Pesawat yang Paling Banyak Memakan Jiwa

image

Karena akhir-akhir ini pemberitaan heboh dengan hilangnya pesawat Malaysia Airlines bernomor MH370, saya jadi tambah sering mencari info tentang pesawat terbang dan kecelakaan-kecelakaan terburuk yang pernah terjadi di dunia penerbangan. Berikut beberapa di antaranya yang saya kutip dari Natgeo Indonesia, Kompas, dan Tribunnews.

1. Dua Boeing 747 Bertabrakan
Tragedi ini terjadi pada 27 Maret 1977 di Tenerife, Kepulauan Canary, Spanyol. Melibatkan pesawat dari maskapai Pan Am dan KLM. Jumlah korban tewas mencapai 583 orang, menjadikannya kecelakaan penerbangan terburuk di dunia.

2. Boeing 747 Menabrak Gunung Baca selengkapnya

Someday

As long as know about this world is…
There’s nothing last for long time.
For several years I walked the same dusty road.
The same misery.
The same loneliness.
Emptiness.
Bitterness to be through.
The sunray burned every single poster that show me the most wanted person.
And he’d never been caught up.
So I wonder where are the cops?
Did they exist under the blizzard? Blistering cold night? Destructive tornado?
Did they know that this bad guy could vanish behind the shadow, and haunted into the endless nightmare?
Did they know I was just to write his name in my hideous notebook?
I continued to walk, but traffic jam distracted me.
Why are humans so selfish?
Can’t they walk slowly, side by side, with no pride, with no evil thought?
Then I arrived at my very familiar place, where I could take a little bit long breath before I started to walk again.
Routinities, boredoms, lies, pains, tears made me smuthered far, far away beneath the Earth surface.
I got to crawl back to my world and stop deceiving anyone.
I got to tell someone that I really needed her.
And how my feeling stabbed deeply into my core.
I got to say I’m so sorry for everyone.
I got to confess how I regret all that I’ve done.
I got to hit my chest and realize that I was all wrong.
I got to run fast and faster, test my heart for the last time.
I got to chase her, find her, to say that I love her more than she knew.
I really love her, the one and only I have.
I got to see how much I bleed and how dark my blood was.
I got to feel how hurt I must suffer before my last breath.
I got to say hi to someone that I’d killed in the past.
I finally saw the best summer sunshine.
I got to smile because it’s over.
Bye, world.