Si Arip : DUEL

Duel Dua Kubu

Tika : Baiklah pemirsa, berjumpa lagi dengan saya, presenter kesayangan Anda, Rahmatika Luthfiana Sholikhah dalam Berita Sore. Nah, berita utama kali ini kami siarkan langsung dari lokasi kejadian dimana ada dua kubu, masing-masing adalah kubu gemuk dan kubu kurus yang sejak siang tadi menutup jalan untuk melaksanakan kepentingan mereka sendiri, yakni tawuran antar berat badan! Tapi sampai sekarang mereka masih duduk-duduk di pinggir jalan dan belum memulai tawuran mereka. Sementara barisan polisi anti huru-hara sudah berjejer rapi untuk mengamankan lokasi tawuran. Apa lagi yang mereka tunggu?? Baiklah langsung saja kita wawancarai pemimpin dari…Kubu Gemuk. Pak, dengan bapak siapa? (menyodorkan mic pada pimpinan Kubu gemuk, Kirul.)

Kirul : Pak, pak…nggak lihat saya ini masih anak-anak?!

Tika : I-iya…nak, siapa namanya? (dalam hati : suara bapak-bapak gini ngakunya anak-anak?!)

Kirul : Khairul Aswat. Mbak tau itu siapa? Itu yang nulis puisi “Aku”.

Tika : Itu Chairil Anwar!

Kirul : Kan mirip! Mo ngapain sih mbak ini, hah?

Tika : Sa, saya… (dalam hati: hii…serem kali orang ini, apa dibatalin aja kali ya? Eits, nggak bisa, ini kan siaran langsung, nggak bisa dicut, duh gimana iniiii!!!)…Saya dari redaksi Berita Sore. Gini Pak, eh Mas, eh Nak, sebenarnya ada apa ini? dari tadi pagi menutup jalan begini, orang-orang kan nggak bisa lewat. Apakah ini adalah aksi mogok makan, tawuran, atau gimana?

Kirul : Mogok makan?? Jangan salah, mbak, kalo mogok makan, gimana kami mau menang? Kami mau ngelawan kubu kurus yang ngejek-ngejek kami gembrot itu! (mengarahkan telunjuknya pada kubu kurus yang stand by di seberang jalan.)

Tika : Oh, jadi kalian mau hajar anak-anak yang ngejek kalian gembrot, ya? Saya mau gabung sama kalian kalo gitu! (terbakar emosi.)

Kirul : Bukan mau hajar mereka, mbak! Kami cuma mau ngebuktiin siapa yang terkuat, orang gemuk atau orang kurus!

Tika : Ooh…iya, iya…(dalam hati: belum mudeng nih gue.) Baiklah, pemirsa, setelah meminta komentar dari salah satu kubu yang akan bertarung, ada baiknya kita mintai keterangan dari para polisi, kenapa aksi yang hendak dilakukan dua kubu ini tidak dihentikan. Oke, Bu Polisi, namanya siapa, Bu? (mendekatkan mic pada Inspektur Yoan yang sedang bertolak pinggang.)

Si Arip Ulang Tahun

Berkhayal tentang Arip memang asyik. Teman-teman sekelasnya yang bilang begitu. Khayalan kali ini bukan seperti yang kemarin-kemarin, lebih logis dan mungkin bisa terwujud dengan doa teman-teman tersayangnya.

Ceritanya berawal dari pengisian absen pagi ini. sudah banyak yang sadar bahwa besok adalah hari ulang tahun Arip. Si Arip-nya sendiri no comment and no expression.

“Cih, kasih tanggapan dikit dong!” kesal Tiara,

“Heh, Rip. Kalo besok kau mau ulang tahun, buatlah daftar doa dan harapan yang kau mau!” bisik Sandy.

Cuma gara-gara satu perintah itu, Arip pusing seharian memikirkan doa apa yang ingin dipanjatkannya.

“Arip, hapus papan tulis! Cepat!” perintah bu Risma ketika masuk jam pelajaran matematika. Sewaktu ingin menghapus bagian atas, ia merasa kesulitan. Ia pun melirik Lilis.

Istirahat tiba. Awalnya Arip hanya main kejar-kejaran dengan Sandy. Begitu masuk kelas, ia terbengong mendengar lagu yang dinyanyikan Tiara and The Backbone, eh, The Friends. Arip makin ternganga melihat jemari Erwin yang sangat lincah menari di antara senar-senar gitarnya.

“Tolooo…ng!!” jerit Tika. Ia dikejar Amid, mau dipetet pakai dasi.

Arip melihat kearah meja Marlina. Tampak anak itu sedang berkerut kening menghadapi soal latihan di depannya.

Setelah itu Arip berpaling ke arah pintu, terlihat Wira dengan pede setengah mati sedang joget ala Michael Jackson.

“Wenli….!!!” teriak Yoan sambil mengejar-ngejar Wendri yang tadi menyagilinya.

“Hua..hahahahaha!!!” tawa Khairul yang menggelegar meletus di tengah kegaduhan suasana kelas. Kalau Manto sok cool, cuma mondar-mandir keliling kelas kayak orang bingung. Steffanny sibuk merapikan rambutnya yang ‘indah’. Irena dan Dearma sibuk ngota-ngota sendiri. Leni cekakakan sambil balas-balasan ejek bersama rival ngomong terberatnya, Wendri. Untung Yoan sang pemuda kelas sangat bijaksana dan dapa manjatuhkan vonis paling tepat untuk terdakwa Wendri.

Arip geleng-geleng kepala, ia lalu memandangi Iman yang ikut main dasi-dasian di depan kelas.

“Bule yang satu itu…” gumam Arip dalam hati.

Malam tiba. Arip merenung di teras rumahnya, mengingat-ingat kejadian di sekolah tadi siang.

“Aha!” Arip tiba-tib mendpat ide. Ditulisinya sebuah kertas panjang dengan kalimat, Baca selengkapnya

Si Arip 2

Mari kita lanjutkan khayalan tentang Arip. Anggap saja cerita sebelumnya tidak pernah terjadi, tapi situasinya masih sama, Arip jatuh cinta pada adik kelasnya. Kita akan cari cara lain untuk membantunya mengungkapkan isi hatinya.

Misalnya, gadis yang disukai Arip adalah primadona sekolah yang kebetulan juga banyak tingkah. Walaupun masih baru, tapi dia sudah berani memberi penilaian terhadap siapapun di sekolah ini. Dan Arip sudah terlanjur jatuh hati padanya.

Bagaimana cara meruntuhkan hati cewek yang tinggi dan angkuh itu? si Arip pusing tujuh keliling memikirkan apa yang harus dilakukannya. Apalagi, Arip tak sejangkung Lilis, tak semerdu suara Tiara, tak sealim Manto, tak sekonyol Sandi, tak sepintar Marlina, tak se-dewasa Fanny, dan tak seputih Iman….

Sementara gadis pujaan Arip itu lebih pintar dari Marlina, lebih putih dari Iman, lebih centil dari Dearma, lebih lebay dari Leni, lebih otoriter dari Yoan, dan lebih misterius dari Amid.

Hmm…sudah jelas Arip butuh bantuan teman-temannya. Arip tidak bisa memutuskan keinginan sendiri. Semua saran dari temannya diterima dengan hati terbuka, tanpa banyak protes seperti Manto. Tapi apa kata teman-temannya?

“Tipe cewek judes tuh, cari yang lain aja deh!” kata Sandi.

“Kalau diibaratkan isi kebun binatang, cewek itu komodo,” kata Khairul.

“Setelah kuterawang isi pikirannya, ternyata cewek itu lagi punya lima pacar, Rip!” kata Rene.

Bukannya menciut nyalinya, Arip malah makin nekad. Dia mulai mencari info tentang gadis itu dari teman-temannya. Tapi ternyata gadis itu tahu apa yang dilakukan Arip.

Gadis itu menemui Arip secara langsung dan memberinya tantangan. Jika Arip bisa mengumpulkan 100 kumbang kepik kesukaannya dalam satu hari selama di lingkungan sekolah, maka mereka bakal jadian.

Mendengar tantangan dari gadis itu, anak-anak 9-1 tertawa.

“Ayo! Bolos belajar aja kita hari ini!” tantang Erwin.

Semua anak laki-laki 9-1 langsung berlari ke semak-semak di belakang ruang kelas mereka. Mereka belum sadar, menemukan kepik sekecil upil di padang rumput setinggi perut itu susah setengah mati. Yang mereka temukan malah jangkrik, capung, lebih-lebih Khairul bertemu ular. Baca selengkapnya

Si Arip 1

M. Arief Darmawan, bisa dibilang dia adalah anak terculun di kelasnya. Tubuhnya kecil sendiri, suaranya pun belum pecah seperti semua kawan laki-lakinya. Gayanya amat sederhana, cengengesan, dan suka melamun di tengah pelajaran.

Kalau kupinta pendapatmu, bisakah kau mengubah Arip (nama sapaannya) menjadi sedikit lebih baik? Kenapa tidak kita buat dia menjadi anak penentang tata tertib sekolah seperti Khairul? Atau kita buat menjadi anak kutu buku seperti Marlina? Atau anak jago ngerumpi seperti Leni, Tiara, dan kawan-kawan? Bisakah dia berubah menjadi sosok diktator dan otoriter seperti Yoan? Atau mungkin anak gila fashion yang cute seperti Dearma?

Entahlah, kepolosan Arif masih merupakan kepolosan seorang anak kecil. Jiwa seninya belum apa-apanya dibanding Erwin Ketawa, bodinya belum se-jangkung Lilis,orangnya belum punya kepribadian menganehkan seperti Manto. Kurang suka mencela orang, tak seperti Wendri dan rombongannya. Bahkan baru bisa membuat tingkah lucu, bukan membuat cerita lucu seperti Sandi dan Iman.

Ya, kalau kita expose lebih dalam, ternyata Arip belum mempunyai ciri khas tersendiri. Tapi karena kepolosannya itulah, dia menjadi murid yang unik. Tak punya suara merdu seperti Tiara atau Tika, tak punya kecerdasan berbicara seperti Irena, tak unggul seperti Marlina. Yah, prestasinya pokoknya melempem saja. Padahal dia diamanatkan sebagai sekretaris kelas tahun ini, tapi dia tak menunjukkan tanggung jawabnya. Benar-benar seperti anak kecil bau kunir yang baru dilepas di SMP, tak tahu apa-apa.

Siapakah di antara kamu yang ingin Arip berubah menjadi sosok dewasa seperti Steffanny? Atau mungkin menjadi pembaca puisi yang ekspresif seperti Wiranata? Selama ini Arip hanya jadi murid pendiam dan nggak nyambung dengan pelajaran guru.

Ataukah menjadi anak pelamun di pojok kelas seperti Abedul Amid?

Baiklah, kita akan pergi ke dunia khayalan tentang kelas 9-1 yang tercinta ini. kita berandai-andai bahwa tiba-tiba Arip jatuh cinta pada seorang adik kelasnya di kelas 7.
Baca selengkapnya