Mencari Picolino–And Beyond

Sering dikatakan bahwa anjing adalah sahabat terbaik manusia, bukan, Hortense? Apakah karena kesetiaannya? Kurasa tidak. Ada makhluk yang lebih setia daripada anjing.

Mata kelam itu terbuka untuk pertama kalinya pagi ini. Ia mengerjap; merasakan kekosongan di sisi kiri. Tangannya meraba sepetak tempat yang kosong di ranjangnya, lalu melonjak; menyadari dirinya ditinggal sendiri.

“Picolino!” Ia berteriak separuh memaki. Tubuh kurusnya terisi penuh oleh energi. Cahaya mentari menembus jendela dan menerangi rambutnya yang sewarna jerami.

Ia berdiri, kemudian berlari. Pintu kamarnya terbuka lebar sejak tadi. Dugaannya, Picolino sudah meluncur ke dapur untuk mencari kudapan pagi.

Di ambang pintu, kakinya menginjak tali leher berwarna merah tua. Milik Picolino, anjingnya. Bertambah kesallah si gadis belia. Ia meneriaki anjingnya tanpa nada. Tungkai kecilnya tergesa-gesa menuruni tangga. Antara dapur dan ruang keluarga; ia memilih dapur sebagai tempat Picolino seharusnya berada.

Baca selengkapnya

You Shoot Me I Won’t Die

Semua orang sudah mati.

Yang tersisa dari barisanku hanyalah aku, dengan baju compang-camping, noda darah dan lumpur di sekujur tubuhku.

Kau pasti menganggapku gila karena aku hanyalah gadis kecil berambut tipis dan lepek, kulitku sepucat langit November, tulang-belulangku gemetar. Yang kuhadapi adalah tentara musuh dengan senapan mesin terbidik ke kepalaku.

Debu padang pasir menghambur bersama angin dari Terusan Suez. Mengubah rambut kelamku jadi kepirang-pirangan. Mataku tak berkedip. Aku tak mau kehilangan sepertiga detikpun momen kekalahan musuh.

Satu per satu serdadu terkapar di depanku. Mereka menggelepar-gelepar seperti ayam yang disembelih. Meraung-raung, membuat ngeri teman-temannya yang lebih baru. Tapi itu tidak mempengaruhiku. Semakin banyak dan semakin cepat mereka mati, itu semakin baik.

Baca selengkapnya

Hukum Mati

Di dalam ruang gelap
Aku terjerembab
Oleh bab-bab
Pasal-pasal
Ayat-ayat

Di dalam peti mati
Aku terkunci
Oleh dosaku sendiri
Tapi tak bolehkah aku
hidup sekali lagi?

Perempatan Jalan

Lampu rambu-rambu berubah menjadi hijau.

Semua kendaraan yang terhenti di perempatan jalan itu melaju.

Pemandangan dari jendela restoran cepat saji di sudut sana pun menjadi lega. Meskipun yang terlihat hanya… yah, hiruk-pikuk jalanan di siang bolong.

Terik matahari memanggang trotoar yang dilalui pria tua dengan sepeda untanya, anak-anak SD dengan jajanan tidak menentu, ibu-ibu dengan keranjang sayuran, dan orang-orang yang disebut seniman jalanan: pengamen, pengemis, pencopet, dan satu orang lagi yang tak mau dijuluki apapun.

Ia adalah seorang pemuda yang seharusnya sedang giat-giatnya belajar di sekolah dan aktif di keorganisasian. Tapi nasib tak pernah ramah padanya. Ia tak mau ikut gerombolannya dalam aksi pencopetan, ia tak ingin lebih merendahkan martabatnya dengan cara mengemis, dan bahkan ia ditolak oleh kawanan pengamen karena suaranya fals.

Lalu, bagaimana ia menghadapi hari-harinya yang tak berarti?

Ia berdiri di luar jendela restoran itu, memperhatikan orang-orang menikmati santap siang. Melihat orang meneguk minuman dengan biasa saja, dan menyantap makanan dengan tak berselera, membuatnya keheranan.

Kenapa bukan dia yang menghabiskan makanan itu?

Kenapa makanan itu datang kepada orang-orang yang perutnya kenyang?

Kemudian muncul seekor kucing hitam kurus berbulu jigrak dan terlihat berminyak, mengeong dengan suara parau di dekat kakinya. Kucing itu menengadahkan kepala dan terus mengeong, seolah mengajak pemuda itu berbicara.

Demi Kian

Gemericik suara hujan begitu deras, mengisi kekosongan malam yang gelap dan pekat. Sesekali gelegar guntur menggertak bumi, begitu pula kilatan yang menerangi langit beberapa saat.

Ada sebuah rumah berdinding kayu, gelap gulita, tampak tak berpenghuni, namun samar-samar, di antara suara hujan, melodi piano sendu terdengar, dari dalam rumah ini.

Nada pertama bagaikan teriakan getir yang menyayat hati, diikuti nada-nada yang menggambarkan ketak berdayaan hidup. Nada-nada itu berulang-ulang, menegaskan sebuah kisah sedih yang ingin diceritakannya.

Rumah itu memiliki lorong panjang yang menghubungkan ruang depan dengan ruang makan dan juga tangga menuju lantai atas. Langit-langitnya tidak terlalu tinggi dan di saat seperti ini terkesan seperti lorong bawah bawah yang membawa menuju kematian.

Baca selengkapnya

Close Criminal

Siang itu begitu cerah. Aku diundang seorang temanku untuk makan siang di sebuah restoran di pinggir laut. Angin laut berhembus agak kencang dan sejuk. Aku mendapati temanku duduk di sebuah meja di dekat jendela yang menghadap laut.

“Suasananya sempurna, bukan?” kata temanku berbasa-basi. Aku tak menghiraukannya. Aku sibuk membuka jasku, menaruhnya di sandaran kursi, barulah aku duduk.

“Tampaknya hari ini kau sibuk sekali, teman,” kata temanku sambil mematikan rokoknya di asbak lalu mengangkat tangannya, memanggil seorang pelayan. Pelayan itu segera menghampiri kami dan menyodorkan buku menu.

Aku memilih makanan yang standar-standar saja, sedangkan temanku memesan makanan yang di telingaku terdengar aneh. Aku memang tidak biasa makan di restoran.

Dua gelas minuman ala tropis disajikan. Aneh, kubilang rasanya aneh. Temanku tertawa.

“Jangan terlalu kaku, teman,” katanya.

“Lalu apa yang ingin kau bicarakan?”

“Oh, kau terlalu serius. Sebenarnya tidak ada yang serius dari obrolan ini. Percayalah….”

“Kalau ini tidak penting, aku akan kembali ke kantorku. Aku sedang banyak kerjaan,” aku bersiap-siap untuk pergi.

“Duduklah. Sebenarnya ini penting. Duduklah, temanku….”

Aku duduk kembali. Mataku menatapnya tanpa berkedip. Dia adalah seorang ahli kriminal yang kupercaya. Dia akan memberiku banyak informasi dan tak mungkin kusia-siakan.

“Kau tahu kasus pembunuhan di Jalan Saka 134 minggu lalu?” dia memulai. Baca selengkapnya

D

Mimpi burukku. Ya, itulah yang setiap malam menghantuiku. Sekarang aku sudah kebal terhadap kebahagiaan, dengan rautku yang selalu murung. Baru tiga tahun ini aku tinggal dengan orang tua kandungku. Dari kecil aku diasuh oleh adik ayahku, Om Wilson, di kota lain. Aku sendiri tidak tahu apa alasan mereka membedakan perlakuan terhadapku dengan Danny, adik kembarku.

Aku Alex, dan ini mimpi burukku. Ternyata Danny tidak suka dengan kehadiranku di rumah ini. Di sekolah pun, dia selalu mencari-cari masalah denganku. Dan tampaknya aku tidak berdaya menghadapi perlakuannya yang sangat kasar. Senyum sinis senantiasa melekat di wajahnya tiap kali melihatku dicelakakan oleh teman-teman gengnya. Untung ada seorang gadis manis yang baik hati mau menolongku. Namanya Mariana, teman kecil Danny yang kini menentangnya.

Entah mengapa Danny tak pernah tentram jika belum melihatku celaka dalam sehari itu. Ada saja hal kecil yang bisa diubahnya menjadi perkara besar. Seperti pagi ini. Gara-gara aku hendak memakai warna kaus kaki yang sama dengannya, Danny langsung memarahiku dengan kata-kata kasar. Waktu itu ayah sedang dinas ke luar kota. Dan ketika berusaha melerai, Ibu lebih membelaku karena menurut Ibu, Danny-lah yang salah.

Danny buru-buru pergi ke dapur dan mengambil pisau yang kemudian diacungkannya tinggi-tinggi. “Oke, aku memang selalu salah. Kalau aku mati rumah ini pun pasti tenang kembali!” serunya. Kata ibu, Danny memang mengidap leukimia sejak kecil. Rasanya saat itu aku mulai paham mengapa sejak kecil kami dipisahkan.

Awalnya kupikir Danny hanya main-main dengan pisau itu. Tapi lama-lama didekatkannya mata pisau itu ke pergelangan tangannya. Tentu aku dan Ibu tak ingin dia berbuat gegabah. Aku dan Ibu berusaha menghentikannya, kucoba merebut pisau itu dari tangannya. Sayangnya, pada perebutan pisau itu, justru pergelangan tanganku yang terluka. Saat aku panik dengan darah yang terus-terusan mengalir dari luka itu, Danny hanya mencoba menahan tawanya dengan senyum puas.