The Guy On The Train

Clotilde tahu bahwa melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan korset ketat itu sedikit menyesakkan. Menarik perhatian orang-orang juga. Tetapi, korset itu baru saja menyelamatkan hidupnya. Pada pertarungan melawan mafia lokal di Vladivostok, lebih jelasnya.

Jadi sebagai rasa terima kasih pada kain keras yang ditanami butiran berlian itu—Clotilde mengencangkan tali pengikat di punggungnya dengan bantuan cermin, lalu melapisinya dengan jaket kulit hitam yang tak kalah mencolok.

Aku terlahir sebagai pusat perhatian, batinnya. Ia meninggalkan kabinnya di gerbong kelas satu untuk bersosialisasi dengan penumpang lain. Ini penting karena perjalanan kembali ke Moskow akan memakan waktu seminggu lebih. Dari Moskow, ia berencana terbang langsung ke Lyon, markas besarnya, tetapi sebelumnya ia ingin menyegarkan pikiran dengan menikmati bentangan alam Siberia yang luas tak bertepi.

Tak banyak penumpang yang terlihat di gerbong-gerbong yang dilewatinya. Saat Clotilde memasuki lounge yang dipenuhi warna jingga semarak, hanya ada beberapa orang yang sudah duduk di dalamnya.

Mereka berasal dari daerah yang lebih jauh, pikir Clotilde sambil mencari sofa yang nyaman. Kota mana yang lebih jauh dari Vladivostok? Pyongyang?

Ia membayangkan bertemu orang Korea di gerbong ini. Namun ekspektasinya terlalu sederhana. Ia mendapati seorang pemuda dengan mantel abu-abu yang duduk di dekat jendela bersama setumpuk buku di sisinya. Clotilde memilih sofa di hadapan pemuda itu seperti insting alami. Pemuda itu mendongak dari buku yang dibacanya.

Baca selengkapnya

Mencari Picolino–And Beyond

Sering dikatakan bahwa anjing adalah sahabat terbaik manusia, bukan, Hortense? Apakah karena kesetiaannya? Kurasa tidak. Ada makhluk yang lebih setia daripada anjing.

Mata kelam itu terbuka untuk pertama kalinya pagi ini. Ia mengerjap; merasakan kekosongan di sisi kiri. Tangannya meraba sepetak tempat yang kosong di ranjangnya, lalu melonjak; menyadari dirinya ditinggal sendiri.

“Picolino!” Ia berteriak separuh memaki. Tubuh kurusnya terisi penuh oleh energi. Cahaya mentari menembus jendela dan menerangi rambutnya yang sewarna jerami.

Ia berdiri, kemudian berlari. Pintu kamarnya terbuka lebar sejak tadi. Dugaannya, Picolino sudah meluncur ke dapur untuk mencari kudapan pagi.

Di ambang pintu, kakinya menginjak tali leher berwarna merah tua. Milik Picolino, anjingnya. Bertambah kesallah si gadis belia. Ia meneriaki anjingnya tanpa nada. Tungkai kecilnya tergesa-gesa menuruni tangga. Antara dapur dan ruang keluarga; ia memilih dapur sebagai tempat Picolino seharusnya berada.

Baca selengkapnya

Sore Itu Sebelum Hujan

Sore itu sebelum hujan, aku bermimpi bertemu dengan mendiang kakekku. Kakekku adalah seorang pria kecil yang bentuk wajahnya merupakan potret sempurna dari dr. Watson. Ketika tersenyum, seluruh bagian wajahnya ikut tersenyum. Bahkan ujung bibirnya yang tertarik akibat senyuman itu seolah membentuk senyuman sendiri, dan kerutan di sudut matanya membentuk tawa abadi.

Baca selengkapnya

Maskapai Awan

Dengung kasar melintas di langit biru, di antara kepulan awan yang kami tatap dari teras rumah. Aku dan adik laki-lakiku sedang malas melakukan apapun di hari seterik ini, selain menerawang masa depan yang menggantung di atap Bumi.

“Itu Douglas,” adikku berkata. Dia mau jadi aviator seperti paman kami, tapi perjalanan ke sana masih jauh. Perjalanan ke koordinat Paman sekarang masih jauh.

“Mirip aligator,” aku memicingkan mata pada sebongkah awan, tidak menghiraukan ceracauan adikku.
Tak lama kemudian dengungan keras lainnya menelan kicauan burung di sekitar kami. Helikopter polisi.

“Apa ya, Kak, yang mereka lihat dari atas sana?” Adikku menengadah ke langit, menentang cahaya matahari. “Sepertinya enak jadi pilot.”

Aku tidak menjawab. Baru saja kutemukan awan berbentuk beliung.

Gelegar mesin jet menggetarkan udara, kaca-kaca jendela rumah kami berderak-derak.

“Tebak, Kak, Lion atau Garuda?” Adikku menyenggolku, tersenyum menantang.

“Citylink,” jawabku asal.
Hening lagi setelah burung besi raksasa hijau-putih itu lenyap ke balik awan. Tebakanku benar, adikku menepuk kening.

“Besok aku mau bikin maskapai sendiri: Arbi Air. Terbang antar negara bahkan benua,” adikku membusungkan dada.

Aku mendesah. “Tapi jangan terbang ke Samudera Hindia, ya, nanti susah nyarinya.”

 

Mengenang Penerbangan MH370.

 


Cerita mini ini pernah terpilih dalam CerMin mingguan Bentang Pustaka dengan tema “Pesawat” pada tahun 2014. Syaratnya cuma satu, tidak boleh ada kata “pesawat” di dalamnya.

24 Jam – Son of Déjà Vu part 2

istanbul-library

Saddam sudah lama terjebak dalam ketakberhinggaan ini. Terkurung di ruangan ini, membaca halaman komik yang sama, menatap susunan awan yang sama, melihat purnama setiap malam tanpa melewati fase lainnya. Dia terikat di sini, sendirian, menjalani waktu yang membeku, tidak pernah bergerak lebih jauh daripada satu hari.

Dia sudah hidup di perpustakaan ini selamanya, dan satu-satunya penanda bahwa semua ini hanyalah pengulangan tiada akhir adalah garis-garis yang memenuhi lengan kirinya seperti kode batang.

Suatu hari, dia ingin mengakhiri kutukan ini. Baca selengkapnya

[Cerpen] Sore Andre

aur

Ketika berdiri di atas selusur jembatan dan menatap genangan air yang luas membentang puluhan meter di bawah kakimu, kau takkan pernah mengira kengeriannya akan menyiksa seperti ini.

Kau berjalan ke jembatan ini sendirian menjelang matahari terbenam, begitu putus asa dan merindukan kematian. Kendaraan berlalu lalang tanpa sempat memperhatikanmu.

Kau memandangi pantulan cahaya keemasan di permukaan sungai sembari mengisap dalam-dalam rokok terakhirmu. Sampai sejauh ini, tak ada seorangpun yang menandai keganjilan pada dirimu.

Singkatnya, tak akan ada yang menjeritimu sekalipun kau melompat ke sungai tanpa aba-aba.

Tapi keyakinanmu memudar diterpa angin yang menderu-deru di atas ketinggian tertentu. Terutama, tinggi badanmu sendiri lebih dari 180. Detak jantungmu berdentam-dentam di dalam rusukmu. Ada pergolakan besar di dalam batinmu.

Satu sisi dirimu mengatakan lebih baik kau sudahi saja kekonyolan ini sebelum setan air menyedotmu ke dasar sungai. Namun, sisi dirimu yang lain dengan lugas menyatakan bahwa kau tak lagi punya rumah.

Baca selengkapnya

[FF] Cinta.

image

Hawaii, tepi laut, ketika hanya tersisa segaris cahaya jingga di kaki langit,

Sasuke: Katakan, Sakura, apa yang kau sukai dari pantai? [menggenggam tangan Sakura]

Sakura: Mataharinya.

***

Gunung Bromo, kala fajar hendak menyingsing,

Sasuke: Lalu, Sakura, apa yang kau sukai dari gunung? [mendekap bahu Sakura yang gemetar karena kedinginan]

Sakura: Mataharinya.

Sasuke: ….

***

Washington, DC, pertengahan musim semi, di bawah pohon cherry,

Sasuke: Sakura, bagaimana dengan ini? Apa yang kau sukai dari pemandangan ini? [berjalan di belakang Sakura yang tengadah ke kanopi pohon]

Sakura: Mataharinya.

Sasuke: @!#%&

***

Tepi air terjun Reichenbach, tengah malam, bulan purnama,

Sasuke: Sekarang bagaimana, Sakura? Apa yang kau sukai dari tempat ini? Kau tidak mau bilang kau menyukai mataharinya juga, kan? [menyiapkan kunai di belakang punggungnya]

Sakura: [memandang kosong ke depannya] Mataha—

Sasuke: [bersiap mencekik Sakura] Yang benar saja! Aku sudah mengajakmu berkelana ke seluruh dunia dan kau hanya menyukai matahari! Tidak adakah—

Sakura: [menatap dalam] Sasuke… kau lihat, kan? Ketika malam tidak ada matahari.

Sasuke: [terengah] Lalu kenapa…!

Sakura: [menunjuk Sasuke] Tapi matahariku masih tetap ada. Segelap apapun dunia yang sedang kusinggahi.

Sasuke: [terperanga] Sa-Sakura… [tertunduk malu] baka-baka-baka! [memukul-mukul pundak Sakura]

TAMAT

You Don’t Have To Kill Your Rabbit

Kemarau.

Lintah-lintah menggeliat keluar dari rawa, mencari air dan rumput hijau.

Zaki jadi tak berani turun ke rawa untuk memetik kangkung demi memberi makan kelincinya yang rakus.

Ibu warung menaikkan harga sayuran sebanyak 200% persen. Seikat kecil kangkung dihargai Rp3000,-. Uang jajan harian Zaki Rp5000,-. Setelah mengurangi jajanannya, ia hanya bisa memberi makan kelincinya seikat kangkung sehari.

Biasanya si kelinci memakan empat ikat kangkung sehari, plus kudapan kulit wortel. Kini tubuh abu-abu kelincinya menyusut, tulang pinggulnya menonjol di punggungnya.

“Kalau tidak sanggup memberinya makan, kita potong saja dia,” saran sang ibu.

Mom Never Wants You Cry

Tangisan kencang seorang balita merobek dinginnya udara malam, disusul raungan geram ibunya dan sesuatu yang dibenturkan ke tembok rumah. Tangisan pun terhenti.

Malam belum terlalu larut dan deretan rumah serupa yang mengapit rumah itu masih terang-benderang. Semua tetangga—terutama Naya yang berbagi tembok dengannya—tahu apa yang diperbuat Kira setiap malam untuk menidurkan anaknya. Memukulkan gagang sapu ke pintu, mengempaskan sofa ke dinding, menjerit-jerit sambil mengentak-entakkan kaki ke lantai—belum ada yang berani mengintip ke dalam rumah Kira setiap kali bunyi-bunyi ganjil itu terdengar, tapi dari suaranya, mereka bisa menebak sendiri.

Baca selengkapnya