i02yrfio

Jadi ceritanya akhir pekan kemarin aku ke Jakarta. Kalau bukan demi menghadiri Expert Writing Class yang diadakan oleh Gramedia, enggak mungkin Tarzan ini mau turun dari pohon lalu terbang ke kota besar.

Expert Writing Class ini sendiri diadakan sebagai acara penutupan ajang pencarian naskah Teenlit dan Young Adult melalui Gramedia Writing Project Batch 3. Puncaknya, pengumuman pemenang GWP3, dong. Hadiahnya besar banget, makanya enggak heran kalau pesertanya juga membludak. Empat ratusan naskah yang masuk! Dan dari empat ratusan naskah itu, hanya 73 naskah yang lolos seleksi untuk mengikuti Expert Writing Class tanggal 22 Juli kemarin di Jakarta Creative Hub.

20170722_085114
Suasana di Classroom A menjelang pembukaan Expert Class. Eike nyempil di belakang gitu.

Antusiasme para pesertanya gede banget. Semuanya punya mimpi yang sama: naskahnya dilirik sama editor-editor GPU *diam-diam masih berharap ada e-mail dari editor*. Lebih mujur lagi kalau bisa keluar sebagai juara, ye kan, *****? (Kepingin sebutin nama pemenangnya di sini, tapi nantilah, di akhir postingan aja). Eh, tapi kebanyakan peserta yang lolos GWP3 ini sudah menerbitkan buku di penerbit major, lho, jadi mereka enggak sepenuhnya newbie *nyali ciut*. Aku seperti menyelipkan diri di tengah para pro, berharap ketularan pro juga, haha (amin).

Oke, kita ke acaranya. Setibanya di Jakarta Creative Hub (aku jalan kaki dari hotel ngandelin Google Maps), kita registrasi dan dapat tote bag yang isinya macem-macem, terus ngumpul di Classroom A. I’m always having a problem with the crowd, dan begitu melihat keramaian di ruangan itu, mendadak otakku blank. Harus menghampiri siapa? Akhirnya aku nempel sama peserta yang berasal dari kampung halamanku juga, namanya Kak Rara.

Setelah sedikit kata sambutan dari GM-nya GPU, kami berpencar ke kelompok masing-masing untuk mengikuti kelas kepenulisan bareng coachcoach kece. Aku masuk ke Kelompok 3 dan ketemu sama penulis The Playlist, Erlin Natawiria. Parahnya, aku enggak sempat foto sama dia. Padahal, kesempatan ketemu sama doski kan bisa jadi cuma sekali ini aja!

Kelas pertamaku adalah kelas Plot bersama Kak Rosi L. Simamora. Beliau mengumpamakan sebuah cerita sebagai sebuah rumah, dengan bab-bab cerita sebagai ruang-ruang, tokoh-tokoh sebagai penghuni, dan alur cerita sebagai jalanan yang melewatinya. Lantas beliau bertanya, di manakah letak plot pada rumah ini?

Jawabannya, tidak terlihat.

Beliau bilang, sebuah cerita yang baik adalah cerita yang plotnya tidak terlihat di permukaan, tetapi begitu kita menutup buku, ada kepuasan lahir batin yang tak terungkap dengan kata-kata (sori, kayaknya Kak Rosi enggak ngomong gitu-gitu amat deh kemarin, haha).

Plot pada dasarnya terdiri atas sebuah awal, sebuah akhir, dan klimaks yang menjembatani keduanya. Untuk mencapai klimaks, haruslah ada konflik. Konflik dimulai ketika si karakter memiliki keinginan. Lalu ada hambatan. Lalu ketegangan yang meningkat. Lalu reaksi si tokoh terhadap hambatan itu. Setiap kejadian haruslah tersusun dengan hubungan sebab-akibat, karena tidak ada unsur kebetulan dalam cerita fiksi. Semuanya harus dapat dijelaskan dengan logika.

Ide tulisan bisa datang dari mana saja, tetapi penulis yang baik selalu menemukan sudut pandang yang spesial.

– Tere Liye

Di kelas berikutnya, kita ketemu sama penulis yang SEMUA judul bukunya terpampang di rak best seller Gramedia di sepenjuru tanah air (sarcasm level: extremely high). Siapa lagi kalau bukan Bang Darwis Tere Liye.

Pas pertama melihat beliau, terus terang, kaget sih. Kukira beliau itu gendut, lebih tua lagi, dan pendiam+seriusan. Eh ternyata orangnya lucu. Beliau memberikan materi mengenai Ide dan Karakter. Bang Tere Liye bilang, “enggak ada ide buat nulis” itu omong kosong. Setiap hal yang kita temui bisa dijadikan ide cerita. Beliau kemudian memberi satu kata kunci untuk latihan menulis. Buatlah sebuah cerita dengan menggunakan kata HITAM.

Setelah sesi latihan itu, beliau memberi contoh yang bagus sekali tentang penggunaan kata “hitam” tanpa menunjukkannya sebagai warna, kemuraman, ataupun kesedihan. Beliau juga menambahkan bahwa ide tulisan bisa datang dari mana saja, tetapi penulis yang baik selalu menemukan sudut pandang yang spesial. Inilah yang membedakan buku yang laris dengan buku yang bahkan tidak dilirik oleh editor.

Selepas istirahat siang, ada kelas dengan pujangga yang lagi naik daun nih, Bang M. Aan Mansyur. Beliau membahas mengenai Narasi. Tentang bagaimana menciptakan kalimat yang menarik pembaca. Kebanyakan dari kita tidak bisa menikmati proses menulis cerita itu karena kita sudah tahu ceritanya dan ingin sekali segera menyelesaikannya. Dan itu ternyata berimbas pada ketertarikan pembaca juga. Terus juga, biasakan untuk menulis ulang. Seperti kata Ernest Hemingway, draf pertama adalah sampah. Beliau bercerita bahwa Hemingway akan mengirim sepuluh versi dari cerpennya kepada redaksi, dan satu yang terbaik dari kesepuluh cerpen itu akan ia tulis ulang kembali.

Begitu sulitnya pekerjaan menjadi penulis ini, ya? Yep, karena menulis bukan cuma sekadar menuangkan kata-kata, melainkan merupakan hasil olah pikir si penulis (bagian awal kalimat ini kureka-reka sendiri, karena enggak ingat, haha).

Dari kelas M. Aan Mansyur, kita balik ke Classroom A dan berjumpa dengan Mbak Hetih Rusli. Image menyeramkan langsung luntur karena ternyata beliau itu orangnya lucu.

Mbak Hetih memberi ringkasan tips penulis disertai kutipan-kutipan dari penulis kenamaan dunia. Sayang banget waktunya sedikit jadi beliau bicara kayak sesak boker, haha. Lha… enggak tahunya beliau memang merangkum semua tips menulisnya menjadi B-O-K-E-R *keplak jidat*. Apakah gerangan definisi boker menurut seorang Hetih Rusli?

B – Baca

O – Observasi

K – Kill your darlings

E – Eksekusi

R – Rewriting

Haha, keren banget cara menyingkatnya, ya?

Jadi, modal pertama untuk bisa menulis adalah membaca dulu. Pakde Stephen King berpesan, “jika kita tidak punya waktu untuk membaca, kita tidak akan punya waktu juga buat menulis. Sesederhana itu.”

Kill your darlings” itu maksudnya buang semua karakter manis yang kamu hadirkan di ceritamu cuma karena kamu berpikir sepertinya mereka harus ada, tetapi sesungguhnya tidak berperan apa-apa dalam cerita. Di kelas Tere Liye juga membahas tentang ini, bahwa karakter yang tidak diperlukan tidak perlu muncul, tidak perlu juga diberi nama. Karena sekali diberi nama, pembaca akan terus memikirkan nasib si karakter itu walaupun dia enggak memberi sumbangan apa-apa ke cerita.

Oke, sip. Lanjut ke pemateri terakhir. Bang Bernard Batubara! Yee….

Sudah belajar tentang plot, tentang ide cerita dan karakter, narasi, editing, sekarang kita belajar memanfaatkan media sosial secara optimal untuk memasarkan cerita kita. Bagaimana menciptakan persona di akun media sosial, membangun interaksi dengan audience/followers, dan lain-lain. Seperti yang kita tahu ya, Bang Bara ini eksis banget di media sosial. Beliau menjalin ikatan yang bagus dengan para pembaca dan fansnya. Konten-konten tulisannya juga berkualitas dan hanya fokus pada platform-platform tertentu. Beliau mengaku juga belajar dari akun-akun author lain yang memiliki strategi pemasaran mumpuni. Pokok aku merasa tercerahkan banget setelah selama ini cuma bisa nyampah dan bikin jengkel followers. Mulai hari ini aku akan tobat (tapi enggak janji deh, haha).

Udah hepi-hepi di kelasnya Bang Bara, kemudian tibalah puncak acara yang bikin panas-dingin enggak karuan. Mungkin di antara semua peserta di ruangan itu, aku yang paling selow karena udah sadar diri duluan enggak bakal menang, haha. Setelah sedikit sambutan dari Direktur GPU, nama-nama pemenang pun diumumkan. Berikut nama-nama pemenang GWP3 beserta judul naskah mereka:

Juara I                     Mahfud Dwipatra (Twinwar)

Juara II                   Indah Erminawati (Being Seventeen Once Again)

Juara III                  Vevina Aisyahra (A Sweet Mistake)

Harapan I               Lia Isvaricha Nurida (Carramellove Recipe)

Harapan II              Anastasye Natanael (Seira dan Tongkat Toar Lumimuut)

20170722_162124
Para pemenang (sori, lagi-lagi gambarnya diambil dari sudut yang enggak enak)

Nah, setelah acara berakhir, kami ada acara tukaran buku buat kenang-kenangan, nih. Jadi buku-bukunya dibungkus koran, terus diacak dan ambilnya rebutan. Sayangnya aku enggak tahu buku yang kudapat ini dari siapa, enggak ada nama pemilik aslinya, sih.

Sementara itu, buat para pemenang, mereka langsung ada sesi wawancara di depan kamera dan briefing lanjutan gitu. Malamnya mereka makan bareng redaksi Gramedia dan coach Expert Class. Hiks, asli bikin iri….

Oh ya, anak-anak GWP3 ini juga bikin grup di Whatsapp yang ramai tak terkira sampai sekarang, setelah acara berlalu. Selama ini, sudah tak terhitung berapa banyak curhatan para penulis muda ini yang kuperhatikan (tanpa kurespons karena, yah, aku benar-benar menikmati menjadi hantu). Suka-duka di dunia penerbitan yang enggak akan dimengerti orang luar yang kerjanya cuma mengkritik. Dan lain-lainlah.

Ditinggal sebentar aja, chat-nya sudah ribuan, jadi agak capek menyusuri chat-nya sampai ke atas, haha. Ini sebabnya aku sering ketinggalkan percakapan dan akhirnya jadi penonton di sudut ruangan. Semakin ke sini semuanya semakin akrab, dan semoga pertemanan ini awet selama-lamanya (kok jadi mellow).

Demikianlah catatan perjalananku mengikuti Expert Writing Class yang diadakan GPU. Aku berutang banyak bantuan kepada banyak orang demi terwujudnya keinginanku mengikuti kelas ini. Karena berdasarkan mindset-ku yang hutansentris, rasanya hanya seperti mimpi saja aku bisa bergabung ke dalam komunitas besar yang terdiri dari anak-anak muda berbakat dari seluruh pelosok negeri. Ini benar-benar sebuah pengalaman yang berharga.

Iklan

5 pemikiran pada “Expert Writing Class GWP Batch 3

  1. (((Kukira beliau itu gendut, lebih tua lagi, dan pendiam+seriusan.))) wkwkw

    asik banget kayanya yah T_T
    makasih Git udah rangkumin tips BOKER nya XD

    kok fotomu sama kapten ngga ada Git? Hahahahaa

    1. Hahaha iya seru banget kak, sampai lupa kalau di sana itu bukan buat have fun aja, pesakitannya juga ada 😂😂😂

      Oh, pertemuanku sama Kapten sih di luar acara GWP, makanya gak kumasukin haha

      Makasih sudah mampir ke blog ini kak 😁😁😁

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s