Ini bukan tipikal tempat yang gue senangi. Gue lebih suka ngebut melintasi Øresundbroen menuju Malmö daripada duduk-duduk bengong di Nyhavn.

Di sini, gue cuma bisa ngeliatin kano-kano yang tertambat diam di pinggir kanal serta deretan bangunan warna-warni yang bikin mata sakit. Plus, alih-alih kencan sama bule cantik, gue malah harus mengasuh salah satu keponakan kembar gue, entah Frank atau Luglini, yang tiba-tiba menyodorkan sebuah buku dan meminta gue membacakannya.

Sejauh yang tertulis di cover belakang, buku ini bercerita tentang tiga anak yang dibesarkan serigala.

“Kenapa kamu ingin mendengar omong kos—cerita ini, Franky?” tanya gue sambil membuka halaman pertama.

“Aku suka serigala,” tuturnya mantap, walau dengan pelafalan yang belum sempurna.

“Kenapa kau suka serigala?”

Frank berpikir keras.

“Karena… um… karena dia lebih kuat… ketika kesepian.”

Gue terdiam. Kata-kata itu terlalu tinggi untuk diucapkan bocah 3 tahun.

“Dari mana kamu tahu itu, Nak?”

“Dari Onkel Garys.

Duh. Kapan pula gue pernah ngomong kayak begitu, ya?

“Dengar, Franky Delano Roosevelt,” gue menutup buku. “Serigala tidak bertambah kuat ketika kesepian. Dia terpaksa melakukannya karena serigala yang sendirian lebih rentan diserang hewan buas lain. Sebenarnya dia lebih senang hidup dengan teman-temannya. Mengerti?”

Frank mengangguk. Lalu, meminta gue membacakan buku itu lagi.

Kata-kata yang tadi bukan milik gue. Dia yang mengatakannya. Dia, you know who? Dia yang gue panggil “Bos” di kantor dan gue simpan dengan nama “Veta” di daftar kontak.

Dia pernah memberi wejangan tentang serigala kesepian karena gue sering menyendiri di kantor. Hanya bergelut dengan apa saja yang bikin gue nyandu di pojok ruangan. Tumpukan tugas. Bercangkir-cangkir kopi. Rokok.

Belakangan, secara ajaib, dia mengalihkan gue dari semua itu. Simsalabim! Dialah candu baru gue.

Setelahnya, hidup gue nggak pernah biasa-biasa aja. Yang kena lempar sepatulah… yang jadi sopirlah…

Ada pesona aneh dari Miss Boss berjiwa impulsif ini yang bikin gue betah mendengar ceracauannya tentang Putri Duyung seharian atau pun menjadi samsak ketika dia lagi PMS. Dia lucu, menyebalkan, dan menakutkan dalam waktu bersamaan.

Ya, menakutkan. Bukan karena jabatannya sebagai atasan gue, bukan pula karena dia putri pemilik perusahaan, melainkan karena dalam waktu-waktu tertentu, dia sama sekali nggak mengenal gue.

Jika biasanya dia selalu menatap gue dengan wajah cranky, maka di waktu-waktu tertentu itu, dia akan menjadi orang asing yang sama sekali nggak ada jejak “Veta”-nya.

Gue memaklumi itu karena pada dasarnya hubungan kami adalah hubungan atasan-bawahan. Ada saatnya dia menjadi milik gue, ada saatnya dia menjadi milik perusahaan. Tapi, gosip-gosip yang merebak di internal perusahaan bikin gue ngeri. Bahwa pemeran Velveta selalu berbeda setiap hari.

“Pemeran”, katanya?

Lalu mana “pemeran” yang mencintai gue? Bagaimana gue bisa memastikan gue nggak sedang terjebak dalam permainan korporasi yang melibatkan “Veta” sebagai tokoh utamanya?

Bagaimana gue bisa merebahkan kepala dengan tenang pada orang yang menjadi candu hidup gue, jika dia selalu muncul dan tenggelam di balik wajah berbedak tebal dari tokoh bernama Velveta? Gue nggak mau dibodoh-bodohi oleh sisi jahat dirinya.

Meskipun begitu, ketika gue memutuskan pergi, gue tahu itu adalah tindakan paling pengecut yang pernah gue lakukan. Gue meninggalkan sisi baik dirinya sendirian, di saat yang paling dia inginkan adalah duduk di bangku yang gue duduki sekarang, menikmati udara musim gugur di kota kelahiran gue.

Yang nggak pernah dia tahu, setiap harinya gue bergulat dengan puluhan surel permintaan maaf buat dia, tapi nggak ada satu pun yang akhirnya gue kirimkan. Ada kemungkinan yang akan membacanya bukan Veta milik gue, dan gue nggak mau itu.

I wonder if it is worth my whole life to really find her.

Iklan

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s