486361886

Pria yang memesan kopi hitam di sebelahku bernama Pierre.

“Bukan orang Prancis, sebenarnya,” dia menambahkan catatan kaki pada namanya, seolah-olah itu adalah merek detergen dengan formula khusus yang perlu penjelasan lebih lanjut.

Sesungguhnya, dia adalah manajer toko kerajinan keramik ini. Bisnisnya sudah dimulai sejak beberapa tahun silam, target pasarnya kala itu hanya sebatas pemilik-pemilik usaha konveksi, yang menyediakan jasa pembuatan suvenir pernikahan, syukuran, atau kampanye tokoh politik lokal. Sekarang, Pierre bilang, dia sudah mulai merambah ekspor ke Malaysia, Singapura, dan Brunei.

“Kami mulai membubuhkan signature pada karya-karya kami,” ucapnya, dengan gerakan jemari sedemikian rupa saat meraih cangkir kopinya yang meyakinkanku bahwa ia tidak hanya pintar berjualan, tetapi juga berkarya dengan tangannya sendiri. “Kamu tahulah, seperti menambahkan motif tertentu atau warna tertentu.”

Aku sudah tiga tahun menjadi pelanggan toko keramik ini. Maksudku, aku sudah berkali-kali singgah di sini selama itu. Aku memperhatikan setiap desain produk terbaru yang dipamerkan Nice—temanku sekaligus pegawai toko ini. Aku menemukan apa yang disebut Pierre sebagai signature mereka; gagang mok dan cangkir yang bersimpul seolah-olah itu adalah tali atau pita, bukannya tanah liat yang mengeras. Sejujurnya, simpul-simpul sederhana itu membuat karya-karya pengrajin pemasok galeri ini menjadi manis dan feminin.

“Selain itu?” Pierre masih menyimakku. “Apalagi menurutmu nilai plus—atau minus—yang ada pada desain cangkir-cangkir kami?”

Kami. Sesungguhnya, penggunaan kata ganti itu membuatku iri dan berkecil hati. Di sini dia seperti menegaskan bahwa aku hanyalah orang luar; pengamat, dan bukan bagian dari tim kreatifnya. Oleh Nice, aku merasa diperlakukan lebih dari itu.

Makanya, aku tertawa.

“Aku bukan kritikus barang seni,” ucapku sopan. Sedapat-dapatnya aku tidak ingin menyelipkan nada sarkastis, karena bagaimanapun Pierre adalah pria yang sopan.

“Tapi setidaknya kamu spesial,” dia menunjuk mok berisi kopi susu di hadapanku. “Nice tidak menyuguhkan kopi kepada orang biasa. Dan siapa pun yang dianggapnya istimewa, istimewa juga bagiku.”

Ada jeda panjang yang canggung setelah itu, memberi kesempatan pada lagu Paramore yang berjudul “I Caught Myself” untuk mengambil tempat di antara kami sejenak.

Pierre kemudian mengoreksi kalimatnya. “Em… ya… kamu tahulah, maksudku sebagai pelanggan toko ini.”

Aku tidak bisa mencegah diriku untuk tertawa lagi. “Sebenarnya aku sangat-sangat-sangat jarang membeli produk dari toko ini.” Dan aku tidak bermaksud membuat kalimatku terdengar bangga. Sebaliknya, aku merasa miris.

“Kenapa demikian?” Pierre mengejar pertanyaanku dengan lembut.

“Ya…” aku mengedikkan bahu, saatnya berkata jujur. “Terus terang, setiap kali aku membeli mok atau vas di sini, Nice pasti akan menggunakan kesempatan itu untuk membonuskan barang-barang mantannya padaku.”

Kali ini, tawa Pierre pecah juga. “Sungguh?” katanya, pipinya yang semula pucat mulai merona. Bukan orang Prancis, dia bilang. Tapi setidaknya dia juga bukan peranakan Indonesia murni.

“Ya… Nice punya sentimen khusus dengan mantan pacarnya. Dan aku, entah beruntung atau sial, menjadi tempah sampah untuk benda-benda ajaib Doraemon yang didesain mantan pacarnya itu. Sebagian kupakai sendiri, tapi sebagian sisanya kujual dengan harga tinggi. Aku bilang, hak patennya mahal.”

“Cerdik,” komentar Pierre, membuatku bertambah geli.

Aku heran mengapa Pierre tidak merasa tersindir. Atau aku saja yang lagi-lagi gagal menangkap ekspresi mikro di wajah berbrewok tipisnya. Ada beberapa orang yang memang lihai menyembunyikan ekspresi itu. Aku pernah mengenal salah satunya.

Genangan kopi di cangkirku beriak. Aku menyentuh bibir cangkir, lalu ikatan simpul di pangkal gagangnya, seperti menyentuh wajah seseorang sebelum menciumnya. Ini cangkir yang sama yang kugunakan selama bertahun-tahun. Aku pernah memprotes Nice bahwa aku tidak akan mau minum kopi lagi di sini jika tidak dengan cangkir favoritku. Nice terheran-heran, apa yang membuatku tertarik pada cangkir biru ini. Aku bilang kutipan yang diukir timbul pada dindingnya.

We live, as we dreamalone.

Kata-kata itu bergema di pikiranku beberapa tahun yang lalu, sampai aku memutuskan untuk meng-Google sumbernya dan menemukan bahwa kata-kata itu diambil dari buku yang sering dibaca oleh teman sebangkuku waktu SMA dulu.

Mungkin karena orang itu telah tiada—atau begitulah tepatnya bagaimana dia memberi kesan pada kami semua—kata-kata itu menajam dan menancap dalam-dalam di kenangan.

“Dan kamu bahkan belum menyebutkan namamu,” kata Pierre, setelah menandaskan isi cangkirnya.

“Menurutmu itu perlu? Aku cuma pengunjung di sini. Belum tentu kita bertemu lagi.”

“Jadi, kamu berpikir hanya setelah pertemuan kesekian dua orang yang selalu bertemu itu boleh saling mengenal?”

Aku mengangkat bahu. “Aku introvert.”

“Atau punya masalah dengan menaruh kepercayaan kepada orang lain?”

Aku menyeringai tipis. “Dua-duanya.”

Pierre tergelak kecil. “Sudah kuduga, kamu tidak seterbuka yang kamu tampilkan di awal.”

“Jadi, aku terlihat terbuka?”

“Ya. Kamu membuatku bicara panjang lebar tentang hal-hal yang tidak perlu. Aku tidak bicara tentang bisnis pada orang asing. Itu cara berkenalan yang membosankan, bukan?”

“Tidak juga,” kataku. “Aku senang mendengarkan kisah sukses orang lain. Jadi motivasi untuk diriku sendiri.”

“Syukurlah,” ucapnya.

“Ini aneh,” kataku, yang kali ini berpura-pura.

“Ya, ini aneh,” timpalnya. “Mungkin kita pernah bertemu di kehidupan sebelumnya.”

Memang.

“Bisa jadi.”

“Kira-kira siapa kita di masa lalu?”

“Kalau maksudmu ‘apa’, aku punya jawabannya,” kataku.

“Beritahu aku.”

“Aku adalah rembulan dan kamu adalah kota yang kesepian di tengah gelap.”

Ekspresi riang yang ditunjukkan Pierre sejak kami bertukar kata “halo” berangsur memudar. Ada sesuatu pada tatapannya sekarang. Bukan hanya pantulan wajahku, melainkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

“Itu… puisi?” tanyanya tak percaya.

Aku mendadak salah tingkah. “Ah, t-ti-ti-ti-tidak. Aku cuma mengumpamakan… kita. Dulunya apa. Bukan begitu?”

Sekarang aku yakin wajahku sudah semerah kepiting rebus.

“Tapi itu perumpamaan yang sangat… cantik,” ungkapnya, dan aku menemukan kata yang sudah di ujung lidahku soal sesuatu pada tatapannya.

Damba.

“Terima kasih,” aku berusaha merespons senormal mungkin, walaupun tidak bisa lagi. Aku benar-benar malu.

Pierre terbahak pelan. “Kamu gadis yang menarik dan penuh kejutan.”

Am I?”

“Kalau-kalau kamu ada perlu sesuatu dengan kami,” Pierre lantas meletakkan kartu namanya di atas permukaan kayu konter. Di sana tertera alamat kantornya. Buka Senin sampai Jumat. Sekarang Minggu. Di situ juga ada alamat e-mail pribadinya.

Namun, tidak ada nomor telepon.

“Calon mitramu pasti kebingungan,” kataku sembari menyelia kartu nama tersebut, baik dari desain dan isinya. “Mereka tidak bisa meneleponmu secara langsung.”

“Sekarang orang lebih senang berkomunikasi secara tidak langsung lewat media sosial. Dan lagi nomor telepon itu cuma untuk orang-orang terdekat. Ibu, saudara, istri.”

Istri. Jadi, dia sudah menikah. Hanya saja aku tidak melihat adanya cincin di jari manisnya, atau di jari mana pun.

Tidak dipakai? Apakah karena dia pengrajin keramik?

Astaga, kok aku jadi repot-repot memikirkannya?

“Jadi, aku tidak boleh tahu namamu sampai perjumpaan berikutnya?” dia mengungkitnya lagi.

Aku berusaha keras menahan senyum. “Tapi, memangnya apa lagi yang tidak kamu ketahui tentangku?”

Kemudian, hujan mereda. Lalu aku teringat bahwa hujanlah yang mempertemukanku dengan Pierre di galeri keramik ini. Aku juga ingat di kehidupan sebelumnya bahwa hujan pulalah yang mempertemukanku dengan seseorang. Sulit dipercaya, bukan? Akan tetapi, rembulan sungguh-sungguh bertemu dengan kota yang kesepian di kala hujan. Sebab tatkala seisi dirinya menyepi akibat guyuran hujan yang dingin, sang Kota menengadah ke langit, mencari kawan, dan mendapati Rembulan bersinar untuknya di balik sobekan awan. Rembulan menjadi temannya mengarungi malam-malam tanpa cahaya.

Namun, sang Kota segera sadar bahwa malam saja tidak cukup. Ia membutuhkan Rembulan di kala siang, di kala terik, di kala badai menerjang, lalu bertanya-tanya ke mana saja dirinya selagi kota itu memasuki hari terang benderang.

Rembulan menjawab apa adanya, “Aku menyinari kota lain yang gulita.”

Dan Kota yang Kesepian merasa terkhianati. Ia mulai menciptakan bulan-bulannya sendiri. Satu masa berlalu, dan ia tidak pernah membutuhkan Rembulan lagi. Kota yang Kesepian berpikir ia telah membalas pengkhianatan Rembulan dengan setimpal, dan berharap tidak perlu melihat Rembulan lagi di atas kubah kotanya. Namun Rembulan masih setia mengunjunginya setiap malam, disadari atau tidak disadari sang Kota. Air mata Rembulan menetes, menyaksikan Kota yang Kesepian menari bersama ribuan bulan-bulan kecil di bumi, tidak memedulikannya lagi.

“Kemudian, apa yang terjadi pada mereka?” tanya Pierre, dalam perjalanan mengantarkanku pulang dengan mobilnya.

Kota meredup menjadi biru. Jalanan dibanjiri titik-titik cahaya, dan di sudut yang nyaris terhalau atap gedung, bulan sabit menggantung pucat. Tak terlihat oleh siapa pun. Mungkin dia baru saja menangis lagi.

Aku mengedikkan bahu. “Mereka saling menyakiti seperti itu. Bulan pergi ke kota lain di kala siang, dan Kota menari dengan bulan-bulan lain di kala malam. Ketika mereka kelelahan dengan pengkhianatan mereka sendiri, mereka mati, memasuki siklus reinkarnasi dan bangkit lagi.”

“Menjadi kita?”

Kami saling beradu pandang. Mata cokelat kopinya menatapku teduh dan hangat. Aku rindu tatapan itu.

Malam telah menjelang saat aku tiba di rumah. Tempat ini gelap gulita. Pierre mengikutiku keluar, menghela udara segar perkebunan selepas hujan.

“Aroma ini tidak tercium di tengah kota tadi,” katanya.

“Aku tahu perasaanmu,” gurauku sambil mencari-cari kunci rumah di tas kecilku. Saat itu tiba-tiba saja hawa hangatnya menghampiriku dari belakang, napasnya menyapu tengkukku.

“Hei,” bisiknya di telingaku. Jemarinya meraih pinggangku.

Aku menoleh, mendapati hidungku bertubrukan dengan hidungnya, dan sebelum aku sempat berpikir untuk mengatakan apa pun, dia mengecup bibirku.

“Senang menemukanmu kembali. Selene.”

Dia masih ingat namaku.

“Aku juga, Paris.”

“Kopi lagi besok?” katanya riang saat kembali ke mobilnya.

“Besok aku kuliah,” kataku.

“Jam berapa selesainya?”

“Malam.”

“Oke,” katanya tak ambil pusing, lalu masuk ke mobilnya.

Aku tidak tahu apakah yang kali ini akan berhasil. Apakah dia akan setia menantiku setiap malam, dan apakah aku setia menerangi malamnya.

Akan tetapi, mungkin itulah mengapa kami tidak lagi terlahir sebagai rembulan dan sebuah kota. Dengan menjadi manusia, kami bisa hadir untuk satu sama lain dengan cara yang lebih sederhana, dan lebih lama.[]

Iklan

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s