d-day

Judul: D-Day 6 Juni 1944: Puncak Pertempuran Perang Dunia II | Penulis: Stephen E. Ambrose | Alih Bahasa: Masri Maris | Penerbit: Yayasan Obor Indonesia | ISBN: 978-979-461-722-9 | Tebal buku: xxiii + 772 hlm

Ini adalah buku elektronik pertama yang saya pinjam dari iJakarta. Sebenarnya saya tidak menyukai film perang, tetapi buku tentang perang adalah perkara yang berbeda. Deskripsi “tertembak”, “terkena bom”, atau “hujan peluru” di atas kertas tidak menimbulkan kengerian yang sama dibandingkan jika mengalaminya secara visual.

Maka, beranjak dari prolog yang mengisahkan prajurit pertama yang gugur dari masing-masing kubu, saya beranjak ke bab berikutnya.

Buku ini berisi kumpulan kesaksian dari ratusan saksi mata pertempuran D-Day di Pantai Normandia pada 6 Juni 194, disusun secara kronologis mulai dari perencanaan invasi pihak Sekutu terhadap Jerman hingga debriefing setelah pertempuran.

Kita diperkenalkan terlebih dahulu kepada latar belakang para jenderal tertinggi yang ‘beradu kepala’ dalam invasi ini. Dwight D. Einsenhower dari Amerika, dan Erwin Rommel dari pihak Jerman.

Kita juga diajak mengintip gudang persejataan kedua kubu, strategi-strategi yang dicanangkan, persiapan angkatan perang, hingga rintangan-rintangan yang dihadapi. Sebagai penulis biografi Eisenhower, fokus Stephen Ambrose memang pihak Amerika, tetapi secara keseluruhan tidak berat sebelah. Ia memaparkan keunggulan antara Sekutu dan Jerman, serta kelemahan masing-masing, meskipun proporsi cerita pihak Amerika jauh lebih besar.

Yang semakin menggugah selera baca saya, dari buku ini saya tahu rumah Agatha Christie pernah menjadi tempat persinggahan para serdadu Sekutu. Penulis peraih nobel sastra, Ernest Hemingway, juga lagi jadi wartawan di pertempuran ini. Selain itu, mesin kode yang dibangga-banggakan Jerman, Enigma, juga disebut-sebut di sini.

Saking yakinnya Jerman bahwa kode mereka tak akan bisa dipecahkan pihak Sekutu, mereka tidak tahu bahwa Inggris sudah berhasil menciptakan alat untuk mengurai kode itu (penemu alat itu, Alan Turing, tidak disebutkan di sini, tapi kita yang hidup di abad 21 dan sudah menonton “The Imitation Game” tahu kerja kerasnya). Mereka juga menyebut-nyebut Dunkirk (bagi yang menunggu film garapan Om Chris Nolan itu pasti sudah tidak sabar), dan penyerangan Pearl Harbor.

Kita juga serasa dibawa kembali ke rapat para petinggi militer Sekutu dalam merencanakan invasi menembus Atlantic Wall agar bisa memasuki Eropa. Mereka memilih menyerang Pantai Normandia di Prancis. Pantai ini, yang terkenal dengan tebing-tebing curam dan tinggi, memiliki bagian yang landai. Pantai-pantai landai (tapi, ya Tuhan, dijaga superketat oleh Jerman) itu kemudian dinamai Utah, Omaha, Gold, Juno, dan Sword. Di Omaha-lah pertempuran terdahsyat dan paling berdarah-darah terjadi.

Kisah pertempuran ini mencakup banyak hal, dari harapan dan semangat, rasa cemas, kekonyolan para prajurit (dan jenderalnya), kisah-kisah menghangatkan hati, doa, perjuangan, kecerobohan, neraka, frustrasi, tragedi, penyesalan, juga sukses-sukses kecil yang mengundang kelegaan.

Semuanya tercampur aduk dalam paragraf-paragraf acak, sehingga membuat saya yang sedetik yang lalu terpingkal-pingkal tiba-tiba membelalak ngeri. Prajurit-prajurit payung yang gagal mendarat dengan tepat dan menjadi korban kebiadaban tentara Jerman. Pasukan infanteri yang menjadi umpan peluru di pantai. Serdadu-serdadu yang mati muda. Tank-tank, persenjataan, dan logistik lain yang tenggelam percuma di Selat Inggris. Sarana komunikasi yang buruk.

Namun di sisi lain, ada juga cerita-cerita yang mencerahkan. Tentang pemimpin-pemimpin di medan tempur yang cemerlang, yang heroik seperti di film-film Hollywood, petugas kesehatan yang sibuk, kawan seperjuangan yang bertindak konyol di tengah baku tembak, juga aksi-aksi cerdik yang berhasil mematahkan serangan pihak Jerman.

Yang paling lucu adalah cerita Robert Capa, salah satu fotografer perang yang terkenal pada zaman itu. Ia hanya berhasil mencetak delapan dari ratusan foto pertempuran Normadia paling tersohor karena kecerobohan tukang cetaknya.

Ups, sudah lima ratusan kata saja. Ada banyak cerita lain yang ingin saya sampaikan dari buku ini, karena kisahnya benar-benar hidup dan bergerak. Ini adalah buku yang menghidupkan kembali daya imajinasi saya setelah dua tahun belakangan ini masuk ke fase dormansi. Seru, menggembirakan, juga menyayat-nyayat hati.

Dan, ini buku non-fiksi tertebal yang pernah saya baca. Ada tujuh ratusan halaman, but it’s well worth it. Terutama karena sebentar lagi Juni tiba. Sekarang ada banyak objek wisata sejarah yang bisa dikunjungi di seputaran Normandia, salah satunya pemakaman prajurit dan museum. Berharap suatu hari bisa berkunjung ke sana.

Iklan

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s