Yatta… beri aku selamat karena akhirnya bisa menamatkan novel ini. Berapa bulan berlalu sejak mulai baca ini, ya? Awalnya iseng-iseng je, enggak terlalu tertarik, cuma karena teman-teman yang lain lagi pada baca novel ini makanya sini pun ikutan baca.

But really, dari awal sudah suka dengan gaya berceritanya E. Lockhart ini. Narasinya tertuang dalam kalimat-kalimat pendek yang personal dan memikat. Gimana cara bilangnya, ya? Dia mengatakan sesuatu yang gamblang, biasa saja, tapi di saat bersamaan berhasil membangun atmosfer kental yang meyakinkan kita bahwa ada cerita berbeda dari yang ia sampaikan. She’s just lying. She hides something behind her back.

Ups, sampai lupa menceritakan sinopsisnya. Ini adalah tentang Cadence ‘Cady’ Sinclair Eastman, cucu tertua dari putri bungsu keluarga Sinclair yang terpandang. Setiap musim panas mereka akan menghabiskan waktu di Pulau Beechwood, sebagaimana terlampir pada peta.

Cady tinggal bersama ibunya di Windemere, rumah dengan lima kamar yang nanti jadi perebutan para bibinya. Harris sang kepala keluarga Sinclair, kakeknya Cady, tinggal bersama istrinya Tippie di Clairmont. Bibi tertua Cady, Carrie, tinggal bersama kedua putranya, Johnny dan Will, di Red Gate. Sementara anak tengah Sinclair, Bess, tinggal dengan keempat anaknya di Cuddledown.

Silsilah keluarga mereka juga terlampir. Ini petunjuk penting karena sampai di bagian akhir Part 3 pun masih kesulitan mengidentifikasi Mirren itu anak siapa dan Gat itu sepupu dari pihak mana (rupanya aku melamun waktu baca bab-bab awal, padahal informasinya ada di sana).

Jadi ceritanya, Cady memiliki geng yang dinamai “Liars”. Enggak tahu diterjemahkan jadi apa, karena aku baca versi English. Liars beranggotakan Cady, Mirren putri sulung Bess, Johnny putra harapan Carrie, dan Gat. Gat ini beda sendiri karena punya darah India. Akibatnya, dia didiskriminasi oleh kakeknya Cady. Harris tak pernah memanggilnya dengan namanya, hanya dengan sebutan ‘young man’. Nah, kacaunya, Cady jatuh cinta pada Gat.

Yah, seperti yang diduga, Gat ini memang hot. “He was contemplation and enthusiasm. Ambition and strong coffee.” That’s how Cady described him.

Astaga, dari tadi ngalor-ngidul ngomongin apa sih? Itu baru sampai setting-nya doang, belum ke konfliknya! Yah, ini salah satu keunikan—atau boleh dikata, kelemahan—cerita bertema keluarga. The family tree should’ve been established since the very beginning, tapi sebagai konsekuensinya, biasanya konflik jadi terlambat dihadirkan. Untungnya kelemahan yang itu enggak ditemukan di novel ini.

Masa-masa indah setiap musim panas bersama geng kecil Cady itu berganti menjadi teka-teki besar tatkala memasuki summer fifteen, ketika Cady mengalami migrain dan amnesia. Dia tidak ingat apa yang terjadi padanya hingga sampai di pantai dalam keadaan tak sadarkan diri. Tidak ada diagnosis aneh-aneh di kepalanya. Hanya migrain. Cady mulai menyadari perubahan sikap sepupu-sepupunya sejak ia mengalami migrain. Keluarga besarnya kompak merahasiakan apa yang terjadi pada summer fifteen. Cady bahkan tercengang saat melihat Clairmont telah dirombak habis menjadi New Clairmont. Dari sebuah bangunan klasik yang hangat menjadi bangunan serbakaca yang modern dan dingin.

Rahasia-rahasia dan ingatan-ingatan yang hilang satu per satu terkuak. Dan… tadaaa… Part 4 dan Part 5 ini sableng. Cady berhasil membohongiku! *drama mode on*

Yah, aku memang suka lebay saat mengulas sesuatu, jadi ketika kukatakan buku ini bagus bagiku, itu belum tentu bagus bagimu. Prinsip utamaku: semua hal itu pada dasarnya bagus. Jadi, aku memberi buku ini empat dari lima bintang. Aku suka bagaimana Cady mengumpamakan kisah keluarganya dalam dongeng-dongeng. Aku juga menyukai rasa yang dihadirkan cerita si Cady ini. Dari sesuatu yang megah, hidup dan berwarna-warni, lalu kehilangan sesuatu dan tak pernah bisa kembali lagi.

Gat, my Gat… *lalu nangis sesenggukan*

2 pemikiran pada “[Resensi Buku] We Were Liars

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s