img-20161019-wa0000.jpg
cover by Aditia Yudis

Pernikahan bukanlah permainan catur.

Aku pernah janji mau mengulas buku “Potret” karya Aditia Yudis, salah satu serial terpopuler di situs storial.co. Lalu janji itu sempat terlupakan lantaran kesibukanku yang semakin menggila. Lalu teringat lagi setelah menyadari kesamaan situasiku sekarang dengan tokoh utama serial itu, Tatyana.

Ehem, mungkin kita bisa mulai dari plotnya. Potret bercerita tentang perjalanan Tatyana dan Saddam menuju hari pernikahan mereka. Selama itu, mereka menemui banyak rintangan dari (sebagian besar) saudara-saudara Saddam (dan ayah mereka). Semuanya berawal dari ucapan dingin Saddam saat makan mie di paviliun Tatyana: “Kita nikah, yuk.”

At that moment I laughed aloud. Kok bisa-bisanya sih ngajak nikah dalam situasi yang enggak ada romantis-romantisnya? But the scene was written vividly and deeply, we readers felt like we were the part of the room, watching them argueing about memories and feelings. Jadi meskipun sikapnya Saddam itu enggak romantis banget, tapi berkat narasi yang indah, kisah mereka pun jadi manis.

Sebentar, sebentar, manis? Yes thank you untuk perbukaannya yang memikat, Bung, karena semakin ke belakang kesan manis itu berubah menjadi gelap dan kelam, terutama setelah Tatyana bertemu mantan terindahnya Saddam, Malina. Masa lalu mereka terkupas satu per satu di setiap chapter, dan puncaknya benar-benar intens dan ‘jahat’, seperti perebutan takhta yang berdarah-darah di keluarga royal.

Serial ini dimulai sejak Oktober tahun lalu di storial.co dan berakhir awal April 2016. Aku termasuk pembaca setia yang langsung baca begitu ada update-an setiap Sabtu pagi (bukan pamrih, kebetulan aja aku juga update cerita setiap hari Sabtu). Dan aku merasakan keseruannya. Ketika Potret berakhir, seperti ada rutinitas yang hilang, dan sampai sekarang tokoh-tokoh di dalamnya, Saddam, Tatyana, Samudra, Sivan, Malina, dan Har masih sering disebut-sebut dalam diskusi antarpenulis storial.co, seakan-akan mereka benar-benar ada. Potret adalah sebuah drama tragedi keluarga yang membius dan melegenda. Lo bukan storialis kalau belum baca Potret.

Kelebihan cerita ini adalah formatnya yang berupa cerita pendek dengan tema berbeda setiap minggunya. Buat pembaca yang pikun akut sepertiku, mengikuti sebuah serial dengan banyak tokoh dan alur yang bersambung-sambung sampai berbab-bab itu kayak ikut Ujian Nasional, deh. Nah, karena Potret bisa dinikmati secara acak, itu menguntungkanku. Meskipun demikian cerita ini tetap memiliki satu story-spine yang klimaksnya tereksekusi dengan baik di bab-bab terakhir. Setiap tokoh memiliki karakter dan peran berbeda-beda di sekeliling tokoh utamanya, menambah konflik dan dilema.

Kelemahannya, ada juga pembaca yang enggak suka dengan tipe bab lepas seperti ini. Cerita ini jadi terasa bolong-bolong, loncat-loncat, not related from one chapter to another. Plotnya jadi tidak mengalir mulus, lebih kayak menanjak bukit bebatuan. But it’s just the matter of flavor, I think. Dan lagi mempertimbangkan bahwa ini adalah serial online, chapter-chapter singkat yang langsung selesai lebih enak diikuti.

Ada petikan narasi yang kusuka yang menjadi paragraf pamungkas Bab 6:

Mereka akan menikah. Itu jadi satu yang pasti.

Entah kenapa kalimat ini terdengar seperti ancaman, mengingat karakter Tatyana dan Saddam sejatinya sama-sama ‘hard’ dan kayaknya kalau disatukan malah jadi bentrok. Kalimat itulah yang menantangku untuk membaca kelanjutan Potret, lagi dan lagi, karena masih sangsi mereka bisa benar-benar menikah.

BTW, kalau penasaran dengan kisah cinta Saddam dan Tatyana yang pelik (not recommended for under 18), kalian bisa membacanya di sini. Selamat jatuh cinta dengan saudara-saudaranya (atau malah ayahnya?) Saddam. Aku pribadi suka sama Sigit, dia bisa ditemui di chapter Buah Tangan dari Semipalatinsk.

10 pemikiran pada “Her Name Is Tatyana

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s