Clotilde tahu bahwa melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan korset ketat itu sedikit menyesakkan. Menarik perhatian orang-orang juga. Tetapi, korset itu baru saja menyelamatkan hidupnya. Pada pertarungan melawan mafia lokal di Vladivostok, lebih jelasnya.

Jadi sebagai rasa terima kasih pada kain keras yang ditanami butiran berlian itu—Clotilde mengencangkan tali pengikat di punggungnya dengan bantuan cermin, lalu melapisinya dengan jaket kulit hitam yang tak kalah mencolok.

Aku terlahir sebagai pusat perhatian, batinnya. Ia meninggalkan kabinnya di gerbong kelas satu untuk bersosialisasi dengan penumpang lain. Ini penting karena perjalanan kembali ke Moskow akan memakan waktu seminggu lebih. Dari Moskow, ia berencana terbang langsung ke Lyon, markas besarnya, tetapi sebelumnya ia ingin menyegarkan pikiran dengan menikmati bentangan alam Siberia yang luas tak bertepi.

Tak banyak penumpang yang terlihat di gerbong-gerbong yang dilewatinya. Saat Clotilde memasuki lounge yang dipenuhi warna jingga semarak, hanya ada beberapa orang yang sudah duduk di dalamnya.

Mereka berasal dari daerah yang lebih jauh, pikir Clotilde sambil mencari sofa yang nyaman. Kota mana yang lebih jauh dari Vladivostok? Pyongyang?

Ia membayangkan bertemu orang Korea di gerbong ini. Namun ekspektasinya terlalu sederhana. Ia mendapati seorang pemuda dengan mantel abu-abu yang duduk di dekat jendela bersama setumpuk buku di sisinya. Clotilde memilih sofa di hadapan pemuda itu seperti insting alami. Pemuda itu mendongak dari buku yang dibacanya.

Wajahnya luar biasa rupawan. Clotilde melempar senyum pertamanya. Sebagai jawaban, pemuda itu mengangguk secara formal, lalu kembali pada bacaannya.

Kasar, deh, gumam Clotilde. Ia malah bertambah penasaran.

Crime and Punishment?” Clotilde berbasa-basi dengan cara menerjemahkan judul berhuruf sirilik pada sampul buku bacaan si pemuda.

Pemuda itu mengerjap sebelum beralih padanya lagi. Kali ini tatapannya bertahan lama. Tanpa kedipan. Memabukkan.

“Hm,” jawab si pemuda.

“Kau bicara Bahasa Rusia? Atau kita—”

“Bahasa Inggris saja,” celetuk pemuda itu, suaranya mulai tercetak jelas di ingatan Clotilde. Bariton yang lembut, renyah, manis, seperti kudapan Perancis.

“Oke,” kata Clotilde, tiba-tiba terserang grogi. Garis wajah pemuda itu begitu halus, namun tidak pucat. Bukan tipikal orang Rusia. Kecuali logat bicaranya. Mungkin dia keturunan Asia. Rambut tebalnya begitu kelam ketika jatuh menutupi keningnya, dan tidak tembus pandang saat diterpa cahaya matahari yang menyilaukan dari jendela. Sikapnya tenang dan seanggun bangsawan. Oh, pria muda ini terlalu indah untuk keluar dari sebuah bingkai lukisan.

Clotilde bahkan tidak menyadari sejak kapan kereta mulai melaju. Rasa pusingnya sudah dimulai jauh sebelum itu.

“Jadi,” Clotilde menghela napas, lalu menyilangkan kakinya yang berbalut celana hitam mengkilap. Tak perlu rasanya ditambahkan kata ‘ketat’ lagi. Dalam lima menit kebersamaan mereka, sudah terlalu banyak lekuk tubuh Clotilde yang terpampang, namun tidak lantas membuat pemuda itu memelototinya dengan mata berbinar.

Kemungkinan 1: pemuda itu sangat sopan dan tidak tertarik untuk ikut campur urusan orang lain, tipikal orang Inggris.

Kemungkinan 2: dia gay.

Clotilde menelan kembali kata-kata yang ingin diucapkannya. Setelah episode malam yang panjang dengan rentetan tembakan dan pertumpahan darah, ketenangan di gerbong ini memang seperti surga. Namun tetap saja Clotilde merasa ini tidak adil. Rasanya ingin kembali saja ke markas mafia itu dan mendengarkan sang bos penjahat melemparinya dengan makian dan kata-kata cabul daripada duduk berhadap-hadapan dengan percakapan satu arah seperti ini.

Atau, ia bisa memulai kegaduhan. Sepucuk Tokalev masih terselip di balik jaket kulitnya. Akan menjadi kenang-kenangan dari Rusia, pikirnya. Tapi ia memupuskan rencana itu dan merebahkan punggung. Bantalan sofa menenggelamkan tubuh langsingnya.

“Hei, kalau kita melewati Khabarovsk tolong bangunkan aku,” kata Clotilde, tak peduli apakah akan didengar atau tidak oleh pemuda itu. Ia melipat lengan di dada lalu memejamkan mata. Posisi tidur seorang satpam, bisa dibilang.

“Kau ingin ke Khabarovsk?” siapa sangka, pemuda itu kembali bersuara. Masih terpejam, Clotilde menggeleng. Sekarang ia yang bersikap jual mahal.

“Hanya ingin tahu stasiunnya seperti apa.” Ia membuka mata lagi.

“Kita baru akan berhenti di Novosibirsk.”

Clotilde berusaha keras menahan senyum. “Um… baiklah, Tuan Pemandu.”

“Pertama kalinya ke Rusia?” buku pemuda tadi terkulai di atas pangkuannya. Sikapnya sedikit merunduk ke depan, memperhatikan lawan bicaranya.

Clotilde mengangguk. “Ada saran perjalanan?”

“Jangan ke Rusia.”

Karena Clotilde tertawa, pemuda itu melanjutkan, “bukannya aku meremehkan negaraku sendiri, tapi hampir tidak ada yang menarik di sini jika dibandingkan… uh… dari mana asalmu?”

“Coba tebak,” Clotilde mengulas senyum penuh rahasia. Ia sudah berhasil membuat pemuda ini penasaran padanya.

“Perancis?” pemuda itu benar dalam sekali tebak.

“Kau familiar dengan gadis-gadis Perancis, ya?” Clotilde meluruskan kakinya, lalu berpangku dagu pada meja yang memisahkan mereka.

“Aku pernah berkencan dengan seorang gadis Perancis.”

Tak ada yang menyangka percakapan mereka menjurus ke kehidupan pribadi begitu cepat.

“Dan?” Clotilde hampir-hampir menggigit bibirnya.

“Kami putus,” pemuda itu mengangkat bahu dengan sikap abai.

“Karena kau memegang prinsip ‘jangan berpacaran dengan pria Rusia’?”

Pemuda itu terbahak lembut. Sekilas, terlintas sinar di benik mata kelamnya yang meyakinkan Clotilde bahwa ia sebetulnya ramah, hanya saja kesulitan memulai percakapan dengan orang baru.

Betapa menggemaskannya!

“Aku Rodion. Kau?”

“Sonia,” ucap Clotilde seraya melirik buku yang menjadi teman seperjalanan pemuda itu. “Sonia Marmaledova.”

Pemuda itu mendengus. “Jadi kita sepakat soal peran kita di kereta ini.”

Tawa ringan Clotilde pecah. Betapa serunya bercanda dengan seorang kutu buku!

“Apakah itu berarti kau akan membunuh seseorang?” pancing Clotilde. “Ibu-ibu tua … lintah darat, misalnya?

“Kenapa tidak?” ada senyum aneh di wajah pemuda itu, yang menjanjikan Clotilde bahwa perjalanan sejauh delapan ribu kilometer ini akan dipenuhi kesenangan yang berdarah-darah.[]

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s