Tidak ada bukti memang, benda mati itu memiliki nyawa, namanya saja sudah benda mati, tentu saja tidak hidup seperti manusia. Tetapi, bagaimana kalau sebenarnya mereka memiliki perasaannya sendiri?

Berawal dari rintihan blog yang saban bulan enggak diisi dan banyaknya buku yang ngantri buat diulas, aku dan Chester sepakat untuk membuat ulasan buku “Si Pagar dan Cerita Lainnya” terlebih dahulu. Alasan pertama, buku ini adalah hasil karya teman-teman sesama penulis di situs storial.co. Alasan kedua, aku patut bangga karena mendapatkannya secara cuma-cuma (mental pemenang giveaway sejati, nih). Alasan ketiga, yah… Chester yang mau.

BTW Chester itu kacamataku. Dia senang membaca buku karya Shindy Farrahdiba dkk. ini karena menemukan teman-teman sesama benda mati yang kehidupannya unik-unik. Kehidupan Chester sendiri sangat datar karena pemiliknya sangat kalem dan pemalas. Jika bisa memilih kehidupannya sendiri, Chester pasti memilih menjadi kacamata milik seorang otaku yang kesehariannya menonton anime cewek-cewek moe atau bermain game online yang karakter heroine-nya warbiasa seksi.

Ehem, sekarang kita ke bukunya. Mulai dari mana, ya? Mungkin tema yang diangkat. Tentang benda mati. Jadi, cerpen-cerpen dalam buku ini kesemuanya mengambil sudut pandang dari benda-benda mati yang biasa mendampingi kehidupan manusia. Tema yang unik, ya? Cerita-cerita yang dihadirkan pun tak kalah unik. Ada sepuluh penulis storial.co yang kece-kece berkolaborasi di buku ini. Daripada penasaran mending kita bahas satu per satu cerpennya, oke?

Buku ini dibuka dengan sebuah cerpen berjudul “Kamar Yang Bisa Menyusut” karya si penggagas proyek ini, Shindy. Dari judulnya saja sudah bikin penasaran banget, ya, kira-kira ngapain ntu kamar pakai acara menyusut segala. Rupanya kamar itu akan menyusut saat ingin menguras kejujuran dari orang-orang yang ada di dalamnya. Ini kutipan favoritku dari cerpen ini:

“Tapi, namanya juga kalau kita gak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, pasti kasih janji muluk-muluk kayak ‘gue gak akan pernah ngelepain lo kalau jadi dia’. Jadi kata-kata gue tadi bisa jadi bullshit, because I can’t have you.”

Hayo… penasaran enggak sih, gimana cerita lengkapnya? Ada masalah apa dengan tokoh-tokoh manusia di dalam kamar yang bisa menyusut ini?

Cerpen kedua yang berjudul “Dobby” dipersembahkan oleh Johanes Jonaz, salah satu dedengkot storial.co. Ia menulis cerita tentang macbook dan kelakuan-kelakuan si pemilik macbook yang bikin ngakak.

“Wadah Sang Saksi Bisu” adalah cerpen karya Mayounice yang bercerita tentang mug kopi yang menjadi saksi bisu sebuah tindak pidana pembunuhan. Related banget sama kasus kopi bersianida yang lagi naik daun belakangan ini.

Kisah keempat, “Sisil Pensil”, ditulis oleh Zulham Farobi. Tentang pensil yang telah membantu pemiliknya menuangkan kreativitasnya di atas kertas. Ending-nya tragis.

Cerpen kelima, salah satu favoritku, berjudul “Obrolan Para Uang Dalam Dompet”. Kisah ini ditulis oleh Jein Oktaviany, dan BTW dia ini cowok, lho. Jein bercerita tentang stereotipe pecahan uang yang menghuni sebuah dompet, dari uang 500 bergambar orang utan yang sudah ‘sepuh’, uang 100.000 yang sombong, uang 2.000 yang sering berpindah tempat, dan uang 50.000 yang bijak. Ada pula uang 10.000 yang memiliki dua kepribadian. Eh, kok bisa? Hm… kasih tau gak, ya?

Cerpen keenam adalah romansa telur dan keju mozzarella yang berjudul “Eggy Si Telur Retak”. Berasa nonton drama Korea atau apa gitu, waktu telurnya pura-pura hilang ingatan. Unyu banget. Dilihat dari tokoh-tokoh yang dipakai, kelihatan yang menulis ini akrab banget sama dapur dan bahan-bahan masakan, hehe.

Kisah ketujuh adalah “Si Pagar” yang ditulis Shindy Farrahdiba. Mengapa cerpen ini yang menjadi judul utama buku ini? Hm… pasti karena cerita ini istimewa. Ini adalah tentang pagar yang menjadi saksi cinta yang terpendam antara seorang gadis (si pemilik rumah) dan cowok yang biasa datang ke rumahnya.

Cerpen berikutnya bercerita tentang laptop dan tetikus, “Dua Sekawan” karya Ahmad R. Laptop dan mouse ini menjadi saksi perjuangan seorang mahasiswa dalam menggarap skripsinya. Plot twist-nya terletak pada fungsi ctrl+alt+del si laptop.

Cerita kesembilan, “Black Sweet Mimi” karya Dilla Meyda, berkisah tentang sepeda motor yang menemani seorang gadis dalam kesehariannya. Cuma terakhirannya kasihan banget mereka, ya? Hiks.

Nah, jika kebanyakan cerpen di buku ini bernuansa gembira, dua cerpen berikutnya sendu banget. Ada cerpen karya Ariqy Raihan yang berjudul “The Man Who Can’t Be Moved”, tentang sebuah buku catatan dan gadis pemiliknya yang tidak kunjung kembali setelah berbulan-bulan. Ada juga “Ubin Yang Menyerap Duka” karya Shindy yang bercerita tentang kehilangan. “Ubin selalu ada kalau kita jatuh!” itulah jargonnya.

Berikutnya ada cerpen agak panjang yang ditulis oleh Nanda Muhammad F, yang berjudul “Equinox”. Kisah ini terbagi menjadi tiga bagian dan bercerita tentang orang utan yang merindukan habitat aslinya, dengan kerangkeng besi sebagai saksinya. Cerpen ini mengandung pesan moral “berani menentang kewajaran dosa-dosa”.

Cerita pamungkas yang tak kalah manis dari kisah-kisah karya Shindy sebelumnya, berjudul “Menaruh Harapan Pada Sekotak Donat.” Dari judulnya aja sudah bikin ngiler, sumpah. Yang bikin aku terkagum-kagum itu bagaimana Shindy memberikan sentuhan makna pada setiap benda mati yang menjadi objek ceritanya. Bagi orang biasa, donat ya donat, kue enak yang bentuknya mlenuk-mlenuk dan rasanya menyus-menyus, membuat siapa pun yang memakannya merasa bahagia. Tapi siapa sangka donat juga memiliki misi untuk memperpanjang harapan seseorang?

Nah, itulah tadi ketiga belas cerpen yang dimuat di dalam buku ini. Aku enggak bisa memilih mana yang paling kusukai karena semuanya punya bagian-bagian tersendiri yang jadi favoritku. Untuk rating, aku memberi buku ini tiga bintang. Satu bintang untuk keunikan tema yang diusung. Satu bintang lainnya untuk teknik penulisan yang rapi dan plot-plot cerita yang tidak umum. Satu bintang terakhir kupersembahkan untuk teman-teman penulis storial.co yang berkontribusi di dalam buku ini. You guys are awesome! Kuharap buku kolaborasi lain dari para penulis kece ini akan segera kudapatkan (dengan cara giveaway juga).

*lalu melipir kabur*

4 pemikiran pada “[Resensi Buku] Si Pagar Dan Cerita Lainnya

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s