tonari-no-totoro-full-1835897
image source: zerochan.net
English: My Neighbor Totoro
Japanese: となりのトトロ (Tonari no Totoro
Type: Movie
Aired: Apr 16, 1988
Producers: Studio Fantasia
Licensors: Walt Disney Studios, GKids
Studios: Studio Ghibli
Genres: Adventure, Comedy, Supernatural
Duration: 1 hr. 26 min.
Rating: G – All Ages

 

Film ini dirilis tahun ’88 dan sudah melegenda sebagai ‘Winnie The Pooh’-nya Jepang, sementara aku baru menontonnya kemarin. Telat banget, ya? Tapi wajar sih, usianya jauh lebih tua dariku (dan lagi-lagi kisaran tahun 88, aku semakin yakin ada sesuatu yang istimewa pada masa-masa ini).

My Neighbor Totoro” berkisah tentang Tatsuo Kusakabe yang pindah ke daerah pedesaan bersama kedua putrinya agar lebih dekat dengan ibu mereka yang dirawat cukup lama di rumah sakit. Dua bersadari Kusakabe ini, Satsuki dan Mei, adalah dua gadis cilik periang yang sangat menikmati lingkungan baru rumah mereka yang luar biasa asri.

Meskipun rumah mereka dikabarkan berhantu, mereka malah menanggapinya dengan gembira. Kelak diketahui bahwa rumah tua itu dihuni oleh ribuan—mungkin jutaan—makhluk kecil yang disebut susuwatari, semacam siluman penunggu rumah tua. Mereka akan pergi saat terkena cahaya dan mendengar gelak tawa, dan mereka dipercaya merupakan penyebab begitu banyaknya debu hitam pada rumah-rumah yang tidak berpenghuni. Setelah kehadiran keluarga Kusakabe, makhluk-makhluk itu dengan sendirinya hijrah ke rumah tak bertuan lainnya—yang tadinya di awal cerita aku nggak ngeh rupanya mereka pindah ke rumah Totoro.

Suatu hari saat sedang bermain di halaman rumahnya, Mei tidak sengaja menemukan sarang Totoro, makhluk raksasa bertelinga panjang yang fluffy banget. Namun ketika Mei menceritakan penemuannya pada kakak dan ayahnya, seluruh jejak keberadaan Totoro telah menghilang, yang mengindikasikan bahwa Totoro itu sebenarnya makhluk gaib.

Aku tadinya berharap sesuatu yang sinister akan terjadi pada mereka, sampai sadar bahwa film ini buat anak-anak. Totoro pun ternyata adalah jin hutan yang baik. Adegan yang kawaii banget waktu mereka sama-sama menunggu di halte bus dan Satsuki meminjamkan payung ayahnya pada si Mbah Totoro. Dan tokoh paling unyu di film ini pun muncul: BUS KUCIIING!!

Nggak tahu kenapa, tapi seringainya mengingatkanku pada Cheshire Cat. Dan serius, bus kucing ini superkawaii dan fluffy. Bus ini nggak ada rodanya, sebagai gantinya digerakkan dengan kaki kucing yang jumlahnya banyak, lebih banyak dari Appa-nya Avatar. Nah, Mbah Totoro ini masuk ke bus kucing itu dan memberikan bungkusan kecil dari daun kepada Satsuki, yang rupanya benih pohon. Kelak, benih pohon ini akan tumbuh ketika dua bersaudari itu melakukan tarian khusus bersama Mbah Totoro—eh kenapa jadi manggilnya Mbah, sih?

Things gone wrong ketika Satsuki menerima telegram dari rumah sakit, yang membuat ia dan adiknya berpikir telah terjadi hal buruk pada ibu mereka. Dua bersaudari itu pun bertengkar dan mereka terpisah, lalu Mei menghilang. Sampai di sini aku mengendus sesuatu yang gelap dan jahat akan terjadi pada mereka yang sudah bergaul dengan roh penunggu hutan. Tapi rupanya justru Totoro dan si Bus Kucing yang membantu Satsuki menemukan adiknya. Klasik. Klasik sekali namun juga indah dan menghangatkan hati.

Secara total, ini adalah film ter-unyu yang pernah aku tonton hingga hari ini. Aku suka aura mistis yang mengintip diam-diam pada film ini, namun tidak muncul sebagai ancaman. Mereka hanya seperti bingkai atau kaca pelapis, dan kurasa ini cuma perasaanku saja.

Seperti cerita anak-anak lainnya, cerita ini hanya memuat konflik yang sederhana namun mengena. Tidak ada karakter antagonis, namun plot dan penokohannya bagus sekali. Aku salut kepada Satsuki sebagai seorang kakak; aku nggak pernah jadi kakak sebaik dia. Dia itu… baiiik banget sampai-sampai aku kasihan melihatnya. Mei itu menggemaskan dengan segala kepolosannya. Anak cowok yang di awal cerita suka mengejek Satsuki pada akhirnya akrab ketika seluruh penduduk desa bahu-membahu mencari Mei yang hilang. Dan ayah mereka juga baik banget. Di tengah kesibukannya bekerja dia masih peduli dengan anak-anak dan istrinya.

Oh, dan aku masih penasaran sama penyakit yang diderita ibu anak-anak itu. Kalau dia sampai dirawat lama di rumah sakit, itu artinya sakitnya parah banget, kan? Tapi balik lagi, kepiawaian penulis cerita ini adalah memilah-milah informasi agar tetap mudah dicerna anak-anak, sehingga tidak mengganggu jalan cerita. Kebayang kalau penyakit ibunya dipaparkan panjang lebar kayak di film-film tentang kanker, mendokusai sekali, bukan?

Aku juga suka rumah mereka. Tipikal rumah yang akan kuhuni suatu hari nanti dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya, supaya bisa bertapa dalam kesendirian dan berteman lebih banyak dengan… err… Mbah Totoro?

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s