Sering dikatakan bahwa anjing adalah sahabat terbaik manusia, bukan, Hortense? Apakah karena kesetiaannya? Kurasa tidak. Ada makhluk yang lebih setia daripada anjing.

Mata kelam itu terbuka untuk pertama kalinya pagi ini. Ia mengerjap; merasakan kekosongan di sisi kiri. Tangannya meraba sepetak tempat yang kosong di ranjangnya, lalu melonjak; menyadari dirinya ditinggal sendiri.

“Picolino!” Ia berteriak separuh memaki. Tubuh kurusnya terisi penuh oleh energi. Cahaya mentari menembus jendela dan menerangi rambutnya yang sewarna jerami.

Ia berdiri, kemudian berlari. Pintu kamarnya terbuka lebar sejak tadi. Dugaannya, Picolino sudah meluncur ke dapur untuk mencari kudapan pagi.

Di ambang pintu, kakinya menginjak tali leher berwarna merah tua. Milik Picolino, anjingnya. Bertambah kesallah si gadis belia. Ia meneriaki anjingnya tanpa nada. Tungkai kecilnya tergesa-gesa menuruni tangga. Antara dapur dan ruang keluarga; ia memilih dapur sebagai tempat Picolino seharusnya berada.

Sepi–hanya perabotan sederhana yang catnya telah terkelupas dan jendela terbuka yang menampilkan suasana pagi buta. Ada es pada udara yang ia hela; tubuhnya pun menggigil di bawah balutan piyama.

Ia mencapai meja makan. Ada sekeranjang roti dan buah-buahan. Selai jeruk dan irisan daging panggang. Dan, melengkapi kepenuhsesakan itu: berbotol-botol obat-obatan. Setiap darinya dilengkapi sticky notes warna-warni: “minum tiga pil”, “satu sendok tiga kali sehari”, “dua kapsul sekali makan”. Gadis itu mengernyit, tidak tahu mana yang harus diminum duluan.

Setelah dipikir-pikir, Hortense, apa yang bisa dilakukan seekor anjing? Bisakah ia membuatkanmu sarapan? Bisakah ia mengingatkanmu obat apa yang harus kau minum? Bisakah ia merawatmu dan menjagamu tanpa membuat dirimu ‘berkurang’ setiap harinya?

Tetapi tetap saja kau kembali memilih anjing. Dan hanya itu yang membuatmu bahagia. Tak peduli setiap kali kau mencari anjing itu–Picolino–umurmu semakin berkurang sedangkan Picolino semakin abadi.

Gadis itu, setelah puluhan kesah, menyerah untuk menyayat roti ataupun menyelipkan seiris daging ke dalamnya. Pikirannya terlalu kusut dan hampa–ia kerahkan seluruh tenaga untuk membalik meja. Lengkingan nama Picolino menyayat udara. Gadis itu memegangi kepala, melangkahi apel dan anggur yang menggelinding ke sini dan sana.

Semakin lama pekikannya semakin histeris. Kerapuhannya tumbuh menjadi bengis. Seluruh lemari penyimpanan dan jendela tak berteralis; engsel-engsel berderit gaduh, panel-panel kayu bertubrukan, ruang-ruang gelap terbuka di depan matanya, mengepulkan debu dan menamparinya dengan rasa kehilangan.

“Picooo!!” Jejaknya berdebam-debam di atas lantai kayu yang berkeriat. Menggeratak seisi rumah bagai berburu hewan pengerat. Dari ruangan besar di sisi Selatan hingga lubang kecil tempat pembuangan.

Jangan mengiraku jahat, Hortense. Tetapi kau memang harus belajar bahwa sewaktu-waktu anjing tidak akan datang saat dipanggil. Bisa jadi karena dia telah pergi jauh, atau menolak dipanggil dengan nama itu.

Putus asa, gadis itu kembali ke kamar, meringkuk di samping ranjang, menangis sejadi-jadinya. Tungkainya menendang-nendang, berharap rumah ini akan mengeluarkan Picolino dari udara kosong untuk menghiburnya.

Lalu, di sela tangis, terdengar gemerasak dari bawah ranjang. Seorang pemuda menyembulkan kepala dari balik bed cover yang menjuntai. Tatapannya menahan ratusan rasa letih dan ribuan kasih sayang.

“Ciluk… ba…” ucap pemuda itu, tersenyum penuh derita.

Si gadis berhenti menangis seketika. Diulurkannya tali leher berwarna merah tua. “Pakai ini, Picolino,” katanya.

“Iya, iya, Dik,” pemuda itu mengalungkannya di lehernya sendiri, lalu memasang pengaitnya. “Hortense sudah sarapan?”

Gadis itu menggeleng. Pemuda itu bangkit di atas kedua kakinya, menepuk-nepuk lutut yang bernoda debu. “Mau digendong?”

Gadis itu menjawab, “ya”.

Sering dikatakan bahwa anjing adalah sahabat terbaik manusia, bukan, Hortense? Apakah karena kesetiaannya? Kurasa tidak. Ada makhluk yang lebih setia daripada anjing.

Tetapi tetap saja kau kembali memilih anjing. Dan hanya itu yang membuatmu bahagia. Tak peduli setiap kali kau mencari anjing itu–Picolino–umurmu semakin berkurang sedangkan Picolino semakin abadi.

——-
Cerita pendek ini ditulis untuk sebuah proyek menulis “30  Things I Want To Do (And Keep Doing It With You)” yang digagas Johanes Jonaz di Storial.co.

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s