Sore itu sebelum hujan, aku bermimpi bertemu dengan mendiang kakekku. Kakekku adalah seorang pria kecil yang bentuk wajahnya merupakan potret sempurna dari dr. Watson. Ketika tersenyum, seluruh bagian wajahnya ikut tersenyum. Bahkan ujung bibirnya yang tertarik akibat senyuman itu seolah membentuk senyuman sendiri, dan kerutan di sudut matanya membentuk tawa abadi.

Setiap kali memikirkan kakekku, aku selalu teringat pada nenekku. Dalam mimpiku sore itu pun, figur nenekku tiba-tiba muncul di beranda samping rumahnya, tempatku dan Kakek berbagi cerita seperti dulu. Aku merindukan rumah besar yang terpencil di tengah bukit ini, dan gambaran ruang-ruangnya begitu hidup seakan aku benar-benar sedang berkunjung ke sana.

Ketika nenekku–yang masih cantik dan tak ada satu rumus Matematika pun yang pudar dari otaknya–menghampiri kami, yang terpikirkan olehku adalah bagaimana reaksinya ketika bertemu kakekku. Sejauh pengetahuanku, Nenek membenci Kakek, terutama setelah Kakek semakin renta dan satu-satunya hal yang dapat ia lakukan sendiri adalah bernapas.

Aku sempat panik. Aku ingin melindungi kakekku seolah Nenek berubah menjadi monster berbahaya yang akan merenggut Kakek dariku. Aku sering mendengar tentang kediktatoran Nenek dari ibuku, dan aku sedih memikirkan nasib kakekku. Kakek sendiri sangat mencintai Nenek. Dia akan menitikkan air mata setiap malam ketika Nenek memunggunginya saat tidur. Kakekku memang sedikit terlalu perasa, namun kupikir ia bermaksud baik. Dan Nenek juga tidak salah.

Aku sering mendengar Nenek mengeluh betapa kerasnya dengkuran Kakek dan bagaimana itu membuatnya menderita migrain akibat kekurangan tidur selama bertahun-tahun. Nenekku yang cerdas dan sinis lebih suka tidur sendiri di masa senjanya, dan itu membuat Kakek semakin sering menangis, dan gurat-gurat jenaka di wajahnya mewujud sebagai raut mengerikan dari seonggok daging yang nyaris membusuk di sebuah kamar tua yang tertutup rapat.

Aku masih penasaran dengan apa yang akan terjadi ketika Kakek dan Nenek bertemu lagi di rumah tercinta mereka, namun debam jendela yang tertiup angin kencang membangunkanku. Seluruh imaji berdebu tentang hantu Kakek dan bayangan Nenek pun tersapu hujan.

Tidak ada liburan sekolah yang menyenangkan, tidak ada rumah tua megah di atas bukit. Aku ada di kamarku, angin dingin melolong dan menggedor-gedor jendelaku. Air hujan tempias ke lantai, dan desaunya yang melankolis mengisi atmosfer dengan cara yang aneh. Mereka seperti mengingatkanku kembali ke hari ketika kakekku berhenti menangis dan kembali terlihat bahagia, namun tanpa jiwa.

Aku mengintip keluar jendela, menatap kelabunya langit yang mengirimkan temaram terlalu dini. Masa kecilku berlalu teramat cepat. Keceriaan yang pernah hadir telah menguap seluruhnya. Sosok pria tua yang dulu selalu mencerahkan pikiranku setiap musim liburan tiba, kini telah tiada.

Satu pemikiran pada “Sore Itu Sebelum Hujan

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s