IMG_20160513_065509

Penulis: Aditia Yudis

Penerbit: Gagas Media

Tahun Terbit: 2015

Tebal: 294 halaman

Lewat sebuah paket misterius, pintu masa lalu terbuka. Kau tiba-tiba saja diberi kesempatan menelusuri rahasia.

Akankah kau mengambil kesempatan yang mungkin hanya ada dalam dongeng belaka?

Sebenarnya waktu Gagas Media nerbitin 3 buku dalam serial time travel ini tanganku sudah gatal banget mau beli. Nggak nyangka juga Gagas Media bakal ngeluarin novel [semi] fantasi begini. Aku pun berpikir, wah, ini pasti sesuatu.

Eh, siapa sangka dengan sedikit bersabar, aku bisa dapetin novel ini gratis plus tanda tangan! Yah, itulah hikmah dari rajin ngikutin serial cerita yang ditulis Aditia Yudis di Storial, haha.

Sekarang kita ke ceritanya. Konsep ceritanya lumayan mirip sama anime yang baru aku tonton, Boku Dake Ga Inai Machi, tentang penyesalan dan keinginan untuk mengubah masa lalu. Waktu yang dikunjungi pun cuma selisih setahun, kalau di BokuMachi tahun 1988, di novel Time After Time ini 1989.

Aku jadi curiga ada sesuatu pada kisaran tahun itu. Bedanya, kalau di BokuMachi nggak ada piranti khusus untuk melakukan “Revival”, di novel ini kita akan bertemu sebuah kompas perak yang ajaib, hahaha.

Jadi novel ini bercerita tentang Lasja yang baru kehilangan ayahnya dan ingin mengetahui rahasia masa lalu ibunya. Dalam perjalanan lintas waktu itu, Lasja menyamar menjadi Arwen, lalu bertemu seorang pemuda yang secara iseng mengaku bernama Aragorn (hayoo penggemar Lord of The Ring merapat).

Aliran cerita di 100 halaman pertama sangat lambat sih, aku nggak menemukan tense meskipun Lasja sempet dikejer-kejer anjing yang menyebabkan kompasnya hilang. Halaman buku ini baru terbuka-buka secara gila setelah Lasja bertemu dengan Leia, ibunya yang dikabarkan sudah mati ketika Lasja masih kecil. Misteri demi misteri tentang sosok sang ibu pun terkuak…

Mungkin karena aku sudah duluan membaca cerita-cerita Aditia Yudis yang gelap dan cenderung ‘disturbing’, jadi baca novel ini nyantai banget. Nggak ada ancaman apa-apa di balik tembok dan aku seperti dijanjikan bahwa endingnya nggak bakal bikin sakit. Dan rupanya benar, babak ketiga cerita ini terasa kurang klimaks. Aku kira setelah bertemu Ratu di aliran waktu masa kini, akan terjadi hal buruk pada Lasja.

Eh, apa lagi, ya? Untuk sebuah novel berbau fiksi ilmiah–atau katakanlah, fantasi–cara bertutur di dalam cerita ini kurang ‘ajaib’. But it’s good, tho, mengubah sesuatu yang tadinya nggak masuk akal menjadi sangat alami seperti kehidupan sehari-hari.

Kalau soal tokoh, aku kayaknya paling suka Lasja. Membayangkan dia berkepang satu mirip Katniss Everdeen, deh. Cuma aku rasa karakternya kurang digali lagi jadi aku nggak menemukan sesuatu yang unik dari dia.

Soal chemistry-nya dengan Lendra maupun Banyu juga. Ah, dua makhluk tamvan ini sebenarnya bikin geregets, tapi pas berinteraksi sama Lasja kayaknya datar aja. Mungkin karena mereka tipikal cowok penurut yang memperlakukan cewek dengan lemah lembut, ya?

Oh ya, aku ketemu kutipan bagus banget di sini:

“Ingatan bisa terluka, Arwen. Ingatan bisa dengan mudah dimodifikasi. Ingatan itu sesuatu yang pribadi. Bisa saja kita melihat tempat yang sama, tapi yang kita catat dalam kepala berbeda. itu yang menyebabkan pintumu terbuka di tempat yang tidak tepat.”

Konsep ingatan yang dikatakan Leia ini sama dengan pemahamanku tentang terbentuknya ingatan. Ingatan masa kecilku sendiri campur baur, antara kenyataan, khayalan, dan mimpi buruk. Aku masih ingat mimpi buruk yang terjadi saat aku berusia tiga tahun. Dan kalau misalnya aku punya kompas peraknya Lasja, mungkin aku akan tersesat di alam mimpi buruknya Pitch Black alih-alih tempat yang menyenangkan.

Ngg… apa lagi, ya? Kalau untuk rating, aku kasih tiga bintang, nih.

Satu bintang untuk bahasanya yang singkat, sederhana, namun page-turner.

Satu bintang lainnya untuk tokoh antagonisnya yang tak terduga.

Satu bintang lagi untuk plot yang berkait satu sama lain. Setelah cerita tamat lalu aku balik ke halaman depan aku malah jadi sedih sama nasib Lendra, hiks.

2 pemikiran pada “[Resensi Buku] Time After Time

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s