Dengung kasar melintas di langit biru, di antara kepulan awan yang kami tatap dari teras rumah. Aku dan adik laki-lakiku sedang malas melakukan apapun di hari seterik ini, selain menerawang masa depan yang menggantung di atap Bumi.

“Itu Douglas,” adikku berkata. Dia mau jadi aviator seperti paman kami, tapi perjalanan ke sana masih jauh. Perjalanan ke koordinat Paman sekarang masih jauh.

“Mirip aligator,” aku memicingkan mata pada sebongkah awan, tidak menghiraukan ceracauan adikku.
Tak lama kemudian dengungan keras lainnya menelan kicauan burung di sekitar kami. Helikopter polisi.

“Apa ya, Kak, yang mereka lihat dari atas sana?” Adikku menengadah ke langit, menentang cahaya matahari. “Sepertinya enak jadi pilot.”

Aku tidak menjawab. Baru saja kutemukan awan berbentuk beliung.

Gelegar mesin jet menggetarkan udara, kaca-kaca jendela rumah kami berderak-derak.

“Tebak, Kak, Lion atau Garuda?” Adikku menyenggolku, tersenyum menantang.

“Citylink,” jawabku asal.
Hening lagi setelah burung besi raksasa hijau-putih itu lenyap ke balik awan. Tebakanku benar, adikku menepuk kening.

“Besok aku mau bikin maskapai sendiri: Arbi Air. Terbang antar negara bahkan benua,” adikku membusungkan dada.

Aku mendesah. “Tapi jangan terbang ke Samudera Hindia, ya, nanti susah nyarinya.”

 

Mengenang Penerbangan MH370.

 


Cerita mini ini pernah terpilih dalam CerMin mingguan Bentang Pustaka dengan tema “Pesawat” pada tahun 2014. Syaratnya cuma satu, tidak boleh ada kata “pesawat” di dalamnya.

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s