Saddam sudah lama terjebak dalam ketakberhinggaan ini. Terkurung di ruangan ini, membaca halaman komik yang sama, menatap susunan awan yang sama, melihat purnama setiap malam tanpa melewati fase lainnya. Dia terikat di sini, sendirian, menjalani waktu yang membeku, tidak pernah bergerak lebih jauh daripada satu hari.

Dia sudah hidup di perpustakaan ini selamanya, dan satu-satunya penanda bahwa semua ini hanyalah pengulangan tiada akhir adalah garis-garis yang memenuhi lengan kirinya seperti kode batang.

Suatu hari, dia ingin mengakhiri kutukan ini. Ia tidak bisa menolong dirinya sendiri, karena usaha apapun yang ia lakukan hanya akan melemparkannya kembali ke waktu sebelum semuanya terjadi. Seseorang harus menyelamatkannya. Seseorang harus diberitahu bagaimana cara menyibak selubung sihir yang memenjarakannya.

Maka, ia mendobrak batasan. Menahan jarum jam yang bersiap untuk berputar mundur setelah dua puluh empat jam berlalu. Dan, mengirim sebuah surat. Surat permintaan tolong yang ditujukan pada sebuah alamat yang ia tahu.

Tentu saja, ia tidak menghitung sudah berapa kali ia mengirimkan surat itu. Ia telah menuliskannya seumur hidup, dan tidak tahu kapan bantuan akan tiba. Ia tidak akan pernah merasakannya karena waktu hidupnya hanya satu hari, dan selamanya.

Dalam penantiannya, ia kembali pada halaman komik yang sama, adegan yang sama, tokoh-tokoh yang sama, dialog yang sama, di ruang staf yang menjadi bagian dari perpustakaan berdinding kutukan itu. Ia selalu berpikir untuk melompat keluar jendela, tetapi setiap kali setelah memikirkannya, ia memikirkannya lagi, dan rencana itu tidak pernah terwujud. Akhirnya ia berhenti berpikir, menelan kehampaan ruang bersama detik jam yang bergerak maju, lalu kembali mundur.

Waktu hidupnya bertambah satu hari ketika gadis itu muncul di ruangan tempatnya terperangkap, berkata “Halo” dengan ekspresi lega seakan baru saja berhasil keluar dari kemacetan parah di jalanan.

Saddam masih memiliki ingatan tentang seperti apa kemacetan itu, namun tidak tahu pada masa kehidupannya yang mana ia pernah mengalaminya.

Dan gadis berambut tembaga itu sudah seumur hidup pula dikenalnya. Seorang gadis yang bersemangat, dipenuhi aura positif, agak ceroboh dan mengaku lebih takut kepada manusia daripada hantu. Saddam tidak ingat di mana dan kapan ia mengenal gadis itu, yang jelas ia mengetahui namanya:

Tatyana.

Gadis itu menanyakan hal yang sama setiap saat dan bereaksi sama pada apapun yang ia ceritakan padanya. Sepanjang waktu. Selamanya.

Saddam mulai lelah dengan semua ini. Di setiap pertemuannya dengan gadis itu ia tidak pernah sempat menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi padanya. Dan meskipun gadis itu telah diberitahu, “kutukan déjà vu”, ia akan kembali lagi pada jam yang sama di hari berikutnya untuk menanyakan hal yang sama.

Di antara waktu-waktu krusial sebelum masa dua puluh empat jamnya berakhir, Saddam terus mencamkan pada Tatyana, bahwa dialah satu-satunya orang yang akan mengeluarkannya dari kurungan sihir ini.

“Ingat-ingatlah aku, Tatyana. Kumohon. Déjà vu, déjà vu, déjà vu. Ingatlah itu!” Ucapnya suatu waktu, sebelum mengulanginya lagi di kesempatan berikutnya dan berikutnya lagi. Tanpa kelanjutan.

Ia ingin mendengar lebih banyak tentang gadis berparas lembut itu, ia ingin menghabiskan waktu lebih dari dua puluh empat jam yang abadi ini bersamanya. Ia tidak ingin gadis itu melupakannya. Ia tidak ingin sosoknya terhapus begitu saja dari ingatan gadis itu setelah dua puluh empat jam berlalu.

“Tatyana, ingatlah aku…”

Hari berganti hari di luar sana. Garis di lengan Saddam telah mencapai tekukan siku. Dan gadis itu masih selalu datang pada jam yang sama setiap pagi, mengulangi perkenalan dan pertanyaan-pertanyaan yang sama lagi.

Hingga Saddam menyadari sesuatu. Tatyana telah terjebak bersamanya dalam kumparan anomali waktu ini. Tanpa awal, tanpa akhir.

Maka tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Ia telah memiliki teman sebagai hantu perpustakaan ini.[]

 

 


Ini merupakan “fan fiction” untuk sebuah serial terpopuler di storial.co berjudul “Potret” yang ditulis oleh Aditia Yudis. Tadinya mau diposting juga di Storial, tapi tidak ingin mendistraksi apa yang sudah ada. Kisah ini murni fiksi dan tidak berhubungan dengan original work-nya.

Potret sendiri berkisah tentang jelang pernikahannya Saddam dan Tatyana yang penuh tantangan. Kisah selengkapnya dapat dibaca di sini.

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s