Setelah terbangun di pagi hari, pernahkah kau bertanya di manakah sebenarnya kau berada?

Maksudku, kau bisa saja berada di meja makan dengan baju seragam yang beraroma pelicin pakaian, namun pikiranmu sedang tersesat di antara lajur-lajur ladang gandum Kansas, Amerika, ketika membaca komposisi yang tertera di kotak sereal di hadapanmu. Mengingat ladang gandum, jiwamu langsung keluyuran di Museum Kröller-Müller tempat lukisan Vincent van Gogh dipajang selama ratusan tahun.

Pikiranmu akan sulit menemukan jalannya kembali, dan ketika kau sudah sepenuhnya melupakan masalah ladang gandum yang menjadi asal dari kandungan tepung terigu pada sereal yang kau makan, kau akan terjebak di dalam fragmen pikiran lainnya; tentang bagaimana susu bisa disulap menjadi ratusan jenis keju dan bagaimana mungkin bakteri yang digunakan adalah bakteri yang sama dengan yang ditemukan pada kaus kakimu.

Kau akan mulai berpikir dulunya orang Perancis tak sengaja menemukan keju ketika baki susu mereka tercemplung kaus kaki dan mendapati rasanya lezat setelah dibiarkan beberapa minggu. Lalu kau membayangkan bagaimana makanan mahal yang terkontaminasi kaus kaki itu terhidang di atas meja dengan iringan musik biola dan segelas anggur yang tak kalah mengerikan proses pembuatannya.

Dalam detik itu juga kau memutuskan untuk tidak lagi menggerogoti keju batangan yang disimpan ibumu di kulkas, hehe.

Lalu kau teringat temanmu yang ayahnya pernah bertugas di Perancis dan memiliki miniatur Menara Eiffel di rumahnya. Lalu kau memupuk niat licik untuk sampai di Kota Paris terlebih dahulu sebelum temanmu itu tiba di sana dan berkata padanya, “semua orang bisa memiliki suvenir dari Perancis, tetapi tidak semuanya pernah ke sana.”

Kau merasakan kemenangan gemilang dengan menjadi yang pertama mendarat di Paris setelah semua omong kosong temanmu yang menyakitkan hati, tapi kemudian kau tersadar dari lamunanmu: neither both of you ever get to Paris.

Persaingan tentang siapa-yang-duluan akan semakin memanas jika itu menyangkut tokoh idola, atau setidaknya orang yang sedang naik daun yang selintas kau ketahui namanya, dulu, jauh sebelum orang itu terkenal.

Kau yang kewalahan dengan kompetisi konyol ini akan beranjak bijak dan bertekad untuk tidak lagi bersikap kekanakan. Tapi kau tidak bisa membendung gejolak yang muncul saat mendengar temanmu bercerita panjang lebar tentang hal-hal yang juga kau ketahui—yang sudah kau putuskan untuk tidak memamerkannya.

Ada titik-titik di mana kau selalu ingin melebihi temanmu, tak peduli sedekat apapun pertemanan kalian.

Lalu, disesaki oleh semua pemikiran ini ketika sarapan, rona wajahmu meredup dan mengundang tanya dari ibumu: “Sepertinya kau sedang punya masalah.”

Kau terdiam. Meragu. Isi kepalamu yang melimpah ruah membuatmu berpikir ulang: masalah apa yang sebenarnya kau hadapi?

 

And all the books you’ve read have been read by other people. And all the songs you’ve loved have been heard by other people. And that girl that’s pretty to you is pretty to other people. And you know that if you looked at these facts when you were happy, you would feel great because you are describing “unity.”

-Stephen Chbosky, “The Perk of Being A Wallflower”

2 pemikiran pada “Keju dan Ladang Gandum

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s