Sudah beberapa bulan belakangan saya bergulat dengan diri sendiri untuk membaca buku ini. As expected, another classic literature! Saya pertama kali mengenal karakter Kurtz di novel ini di sebuah e-book tentang penokohan cerita. Lalu saya tertarik begitu saja untuk mengunduhnya dari internet (mental unduhan ya begini).

Entah mengapa saya lebih memilih membaca sastra klasik daripada sastra modern. Mungkin salah satu alasannya ya itu, bisa diunduh gratis dari internet tanpa menyalahi hukum Kekayaan Intelektual—dan bisa diakses dari situs terpercaya semacam Gutenberg. Dan lagi, ah, saya suka saja dengan hal-hal yang hidup di masa lalu. Saya ingin menghayati stereotipe diri sendiri sebagai orang kuno yang konservatif (baca: susah move on).

But, seriously, don’t start with Jane Austen or Charles Dickens. Dari tahun alif saya baca karya mereka belum ada yang beranjak dari bab pertama.

Ehem! Karena omongannya sudah ngalorngidul liwat toko numpak montor, sekarang lanjut ke isi bukunya.

Seperti judulnya, buku ini bercerita tentang kegelapan. Kita diajak berlayar ke Sungai Thames di penghujung senja dan berkenalan dengan si empunya cerita, Charles Marlow. Ia adalah seorang pelaut, atau pria yang menghabiskan hidupnya di laut. Ia bercerita panjang lebar tentang pengalamannya ketika berlayar di perairan air tawar. Dalam hal ini sungai Kongo di Afrika, ketika ia menjadi pengangkut gading.

Novel pendek ini menggambarkan perbudakan dan penyiksaan dengan begitu kental dan kelam. Saya lebih terfokus pada unsur horornya, seperti ketika di tengah kegelapan pekat tiba-tiba terdengar teriakan menakutkan dari dalam hutan rimba ketimbang jalan cerita secara keseluruhan.

I can’t tell that I like this story but the atmosphere remains haunting me. Sosok-sosok manusia yang sekarat di tengah terik matahari, budak-budak yang lehernya dirantai dan membawa beban berat di kepala mereka, juga sebetulnya penampakan Kurtz, yang lebih menyerupai hantu ketimbang manusia. Kegelapan dan kepekatan kabut dan asap di sepanjang cerita terdengar seperti gimmick yang meyakinkan. I almost expecting a river monster like anaconda or swamp devil.

In a word: ghastly.

Over all, saya beri empat bintang untuk karya Joseph Conrad ini. Satu bintang karena ia klasik. Satu bintang lain karena penggambaran suasananya yang mencekam. Satu untuk banyaknya kosakata asing yang membuat saya semakin rajin buka kamus. Dan satu yang terakhir buat Kurtz karena saya kasihan sama dia.

3 pemikiran pada “[Resensi Buku] Heart of Darkness

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s