Ketika berdiri di atas selusur jembatan dan menatap genangan air yang luas membentang puluhan meter di bawah kakimu, kau takkan pernah mengira kengeriannya akan menyiksa seperti ini.

Kau berjalan ke jembatan ini sendirian menjelang matahari terbenam, begitu putus asa dan merindukan kematian. Kendaraan berlalu lalang tanpa sempat memperhatikanmu.

Kau memandangi pantulan cahaya keemasan di permukaan sungai sembari mengisap dalam-dalam rokok terakhirmu. Sampai sejauh ini, tak ada seorangpun yang menandai keganjilan pada dirimu.

Singkatnya, tak akan ada yang menjeritimu sekalipun kau melompat ke sungai tanpa aba-aba.

Tapi keyakinanmu memudar diterpa angin yang menderu-deru di atas ketinggian tertentu. Terutama, tinggi badanmu sendiri lebih dari 180. Detak jantungmu berdentam-dentam di dalam rusukmu. Ada pergolakan besar di dalam batinmu.

Satu sisi dirimu mengatakan lebih baik kau sudahi saja kekonyolan ini sebelum setan air menyedotmu ke dasar sungai. Namun, sisi dirimu yang lain dengan lugas menyatakan bahwa kau tak lagi punya rumah.

Hiks…

Tak akan ada yang mencarimu sekalipun kau menghilang selama berhari-hari.

Tak akan ada yang menangisimu ketika mayatmu ditemukan mengambang di sungai.

Hiks…hiks…

Aku tidak sanggup lagi melanjutkan monolog ini. Hatiku remuk redam… tak ada lagi jalan kembali. Tapi, aku tidak bisa memungkiri bahwa tiba-tiba aku takut mati. Aku ingin turun… aku ingin pulang…

Aku ingin apa saja selain berdiri di sini…

Kini mobil-mobil yang semula melaju kencang berhenti dan berbaris panjang di lajur kiri jembatan, para penumpangnya turun dan berteriak-teriak sambil menunjukku. Bahkan sudah ada mobil polisi dan satu unit mobil pemadam kebakaran, seakan aku adalah kobaran api.

Cih… ke mana harga diriku jika menyerah secepat ini.

Sekarang ada sekitar… tujuh puluhan orang yang akan mencegahku terjun ke sungai. Bahkan ada beberapa yang mengangkat smartphone-nya tinggi-tinggi untuk memotretku. Tapi di antara mereka pasti ada yang berpikir begini:

“Lekaslah terjun dan selesaikan kerumitan ini!”

Entahlah, aku hanya menarik kesimpulan berdasarkan cara mantan rekan kerjaku menanggapi setiap keluhanku. Mereka selalu berharap aku segera enyah dari dunia ini.

“Hei, pria kurang kerjaan!” terdengar hardikan seorang wanita melewati corong toa, sepertinya ditujukan padaku.

Aku berbalik, dan mendapati seorang perempuan berseragam polisi yang luar biasa cantik sedang berkacak pinggang di depan mobil patrolinya. Kecantikannya tidak memudar meskipun saat ini ia terlihat cemberut.

“Cepat turun dan hentikan kelakuan bodohmu atau—”

Benar, kan? Pasti ada yang berkata begitu.

“Atau apa?” balasku sambil berteriak. Aku mau mematikan diriku sendiri, apa lagi yang lebih buruk daripada itu?

Polwan itu menggeram. “Dengar, ya? Saya sedang mengejar buronan dan perbuatan bodohmu sudah menghambat pekerjaan saya!”

“Kalau begitu pergilah!” raungku. “Jangan hiraukan saya. Saya lebih tidak penting daripada buronan itu, Bu Polwan!”

Aku benar, kan?

“Saya hidup sehari lagi pun tak ada yang dirugikan oleh kehadiran saya. Tetapi buronan itu… dia bisa saja menghancurkan seisi kota ini nanti malam!”

Wah, wah, wah… bijak sekali pria jangkung tak berguna yang mau bunuh diri ini.

Perempuan berambut bob itu melemparkan toanya ke dalam kabin mobil, lalu naik ke atapnya. Di sana, ia mengambil sikap kuda-kuda yang kokoh. Dan sembari mengeluarkan pistol dari sabuk yang melingkari pinggangnya, ia menjerit, “Minggir semuanya!”

Para penontonku tercinta kocar-kacir menuju kendaraan masing-masing. Geraman mesin-mesin mobil dan motor bersahutan membentuk kebisingan yang menyerupai dengungan mimpi buruk.

Sesaat aku merasa pusing sampai harus berpegangan pada pilar jembatan agar tidak jatuh lebih awal. Kalau dipikir-pikir, apa lagi yang kutunggu?

Oh, lihatlah wanita ini. Sekarang pistolnya terbidik tepat ke arah jantungku.

“Biar saya buat ini menjadi lebih mudah,” katanya dengan seringai penjahat.

Sialan, dia ini polisi atau buronan yang katanya kabur tadi?

Polwan gila ini mengubah derajat bidikannya dan serta-merta menembak. Pelurunya meleset hanya beberapa mili dari telinga kiriku, tapi tetap saja itu melumpuhkanku. Jantungku serasa berhenti berdetak. Pandanganku berputar-putar dan pijakanku menjadi goyah.

Saat cengkeramanku terlepas dari pilar jembatan, aku menyadari bahwa kata-katanya benar.

Dia membuatnya menjadi mudah. Bukankah ini seperti melepaskan plester luka? Mulanya memang sakit dan menakutkan, tapi setelah lompatan besar itu dilalui, segalanya mengalir seperti air.
Dan aku tidak takut lagi…

Tubuhku terjun bebas, namun begitu lambat, seakan aku bergerak dalam mode slow motion. Aku menatap langit yang berlapis kepulan awan kelabu dan melihat gelembung-gelembung mikroskopis yang memenuhi udara. Bisa kurasakan sensasi geli di seluruh permukaan kulitku di saat gravitasi menarikku menuju sungai.

Tapi aneh—lagi-lagi aneh. Jika dihitung secara matematis antara ketinggian jembatan dan permukaan sungai serta kecepatan jatuh dan massa tubuhku, aku seharusnya sudah menabrak permukaan air dalam sepuluh detik. Tapi di detik kesebelas, aku masih mengambang di udara, seakan waktu telah dibekukan oleh semacam sihir.

Dia ini polwan stres, penjahat buron, atau penyihir cantik???

Kemudian aku menyadari sesuatu.

Entah sejak kapan tim pemadam kebakaran merentangkan jaring di bawah jembatan dan aku terjerat di atasnya, menggantung dan terayun-ayun tanpa kepastian.

Dari tempatku berdiri semula, polwan itu melongok padaku, senyum angkuhnya mengembang, sudah lebih dari cukup untuk berkata bahwa aku kalah telak.

***

Sejurus kemudian, aku sudah duduk di dalam mobil patroli, di sebelah polwan itu, dengan satu tangan terborgol ke handel pintu. Ini sungguh-sungguh membuatku berpikir bahwa percobaan bunuh diri adalah sebentuk tindak pidana.

Dia tidak menjelaskan apapun sepanjang perjalanan. Ia menyetir dengan satu tangan, satu tangannya lagi tersampir di jendela yang terbuka lebar. Angin meniup rambut halusnya hingga berpijar kecoklatan ditimpa cahaya matahari senja.

Bagaimanapun juga, akan selalu datang waktu-waktu tertentu ketika wanita terkuat pun terlihat rapuh. Aku jadi malu pada diriku sendiri, karena bisa-bisanya aku, yang memiliki ukuran tubuh jauh lebih besar, diselamatkan oleh perempuan kecil ini sendirian.

Di antara kami, sebuah lagu rock yang bernada seperti sore hari berdendang sayup. Ini pasti lagu kesukaannya, sebab jemarinya mengetuk-ngetuk setir mengikuti irama, dan kepalanya mengangguk-angguk pelan.

Bahkan setelah kejadian yang melibatkan banyak adrenalin tadi, dia bisa kembali santai, seperti cewek remaja yang tak mau ambil pusing dengan masalah hidup dan pergi kemanapun yang ia mau.

Aku suka semangat polwan ini.

“Ngomong-ngomong, apa penyebabnya?” setelah sekian lama terdiam, polwan ini mengajak bicara duluan.

“Apanya?” tanyaku tolol.

“Kamu. Penyebabmu ingin bunuh diri.” Tatapannya tetap pada jalanan, tak menoleh padaku.

“Oh,” aku ikut-ikutan menyampirkan lenganku yang bebas di jendela, membuang muka ke pemandangan hamparan sawah dan rawa di luar sana.

“Putus cinta?” polwan itu membuat hipotesis sendiri.

Lebih buruk lagi.

“Nggak dapat restu dari camer?”

Come on… aku bahkan belum punya pacar!

“Dengar,” aku menjelaskannya. “Pernahkah kamu merasa seperti selalu saja berada di tempat yang salah pada waktu yang salah dan bertemu dengan orang-orang yang salah? It sucks, you know. Kemanapun aku pergi aku dihantui rasa bersalah atas keputusan lemah yang terlanjur kuambil, tapi tidak berani berubah haluan karena jalan memutar di belakangku menghilang begitu saja setelah aku membuat keputusan.”

“Hm…” dia manggut-manggut. “Sedikit rumit dan puitis, dan saya tidak mengerti sama sekali. Tapi baiklah.”

Aku mengacak-acak rambutku sambil menggeram.

“Begini deh—” ia melanjutkan kata-katanya. Aku berhenti membuat keributan dan mendengarkan. “Itu baru saja terjadi pada saya. Berada di sini ketika ada yang mau melompat ke sungai sementara di depan sana ada buronan yang harus saya kejar. Saya bisa saja mengabaikanmu kalau saya pikir kamu adalah orang yang salah. Tapi di mana letak kemanusiaan saya? Intinya, jangan dramatis. Bukan cuma kamu yang punya masalah di dunia ini dan nggak semua orang harus tahu masalahmu.”

Gilak… pedes banget omongannya. But she’s devastatingly right.

Aku berdeham, berharap bisa mengembalikan harga diriku, namun sepertinya harga diriku sudah menceburkan diri ke sungai. Tak ada lagi yang ingin dikatakan. Lagu rock itu kembali menjadi tembok pemisah di antara kami.

“A-anu… ini lagunya siapa, ya?” aku mencoba menembus tembok tak kasat mata itu.

“Kamu suka?” dia mengerling padaku sambil tersenyum.

Well… lumayan. Lirik lagu ini sudah mengejekku habis-habisan.

Saat jiwamu

Terlarut dalam gundah dan seakan

Tiada jalan keluar

Cobalah engkau pahami

Bahwa hidup ini

Terlalu singkat untuk disesali

“Dan sebenarnya kita mau ke mana, Bu Polwan?”

“Kantor polisi,” jawabnya singkat, dengan senyum aneh yang seperti mau mempermainkanku.

“Apakah saya akan dipenjara karena mencoba bunuh diri?”

Polwan itu menghela napas. “Ya. Kamu harus tahu apa yang dirasakan seorang penjahat ketika tertangkap dan dipenjara, paranoia apa yang menghantui mereka, dan apa arti kematian sebenarnya.”

Hm…hm… Polwan ini pasti keponakannya Mario Teguh.

“Ngomong-ngomong, siapa namamu?”

Oh… dia menanyakan namaku. NAMAKU, saudara-saudara!

“Andre.”

“Baiklah, Andre. Jangan coba-coba bunuh diri lagi, siap?”

Siap, Bu!

“Setidaknya jangan lakukan itu di wilayah kerja saya,” tambahnya sambil terkikih.

Hatiku yang sudah mengembang kembali mengempis hingga kisut. Ternyata benar bahwa semua orang menginginkanku mati. Aku tidak bisa menerima itu.

Aku akan mengecewakan mereka dengan cara hidup lebih hidup lagi.

Radio mobil berbunyi. Bu Polwan mematikan musik dan menjawab panggilan rekan (atau atasannya) dengan kode-kode khas polisi.

“Buronannya bergerak ke pusat kota,” tuturnya saat meletakkan gagang radio ke tempatnya. “Saya tidak akan bisa pulang sebelum dia tertangkap.”

Aku langsung mengajukan diri untuk menggantikan posisinya di belakang kemudi. “Saya pernah mau bunuh diri dengan cara mengebut di pinggir jurang, tapi masih selamat.”

Bu Polwan seketika mengerem dan membukakan borgolku, dengan begitu aku bisa berpindah ke kursi pengemudi. Oh, hangat…

“Pasang sabuk pengamannya, Bu Polwan. Mari kita lihat apa yang bisa dilakukan benda ini,” kataku, berharap terdengar sekeren Brian O’Connor, tapi gagal.

Maka, hingga kegelapan menyelimuti kota, kami masih melaju kencang, menggertakkan gigi dan menyetel musik keras-keras agar adegan kejar-kejaran ini lebih dramatis seperti di film-film.

Aku menemukan kembali semangat hidupku.

-The End-

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DanBernyanyilah yang diselenggarakan oleh Musikimia dan Nulisbuku.com

Satu pemikiran pada “[Cerpen] Sore Andre

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s