Ketika sedang bergulat dengan diri sendiri, tiba-tiba saya teringat film ini, “Inside Out.”

Ini adalah salah satu film keluarga yang sekelas dengan “Up” dan “Finding Nemo”, atau malah bagi saya lebih bagus lagi. Sejak saya lihat iklan coming soon-nya di TV, saya langsung semangat buat nontonnya karena ide ceritanya unik banget.

(WARNING: SPOILER)

Kebetulan waktu itu saya lagi pengin bikin cerpen tentang “kru” yang bekerja di dalam kepala kita. Tapi karena film ini sudah sangat jauh melampaui imajinasi saya tentang seperti apa “kru di dalam kepala” itu, ya sudah saya batalkan proyek cerpennya.

Kita hanya perlu menulis apa yang ingin kita baca, bukan? Jika apa yang ingin kita baca sudah terpampang di depan mata, just sit down and eat your popcorn.

Well, as expected of a Disney Pixar’s movie, film ini bernuansa cerah dan warna-warni. Film dimulai dengan kelahiran Riley, manusia dengan kru-kru di dalam kepalanya yang menjadi tokoh utama.

Meet with Joy, kru pertama yang bekerja di kepala Riley segera setelah ia lahir. Ia bertugas mengendalikan emosi bahagia Riley. Joy selalu berpikir positif dan ceria, tapi sangat egois. Dia bertekad membuat Riley bahagia selamanya.

“Just you and me,” katanya. Tapi itu hanya terjadi selama 33 detik sebelum Riley mulai menangis. Rupanya, kru lain telah muncul.

“Hi, I’m Sadness,” kata makhluk berkacamata dan berkulit biru itu. Sekilas kayak Smurf, hehe. Tapi kehadiran Sadness ini membuat Joy resah karena dia bekerja dengan cara kebalikan, yaitu membuat Riley menangis dan selalu berpikir negatif. Bisa dibilang, Sadness inilah tokoh antagonis yang menghalangi tujuan utama Joy untuk membuat Riley bahagia selamanya.

Psst…padahal kita tahu tanpa adanya kesedihan, kita tidak akan mengenal kebahagiaan, ya kan?😉

Oke, kembali lagi. Seiring pertumbuhan Riley, kru-kru lain yang bertolak belakang dengan Joy pun bermunculan.

Ada Fear yang selalu paranoid, Disgust yang angkuh namun cerdas, juga Anger. Anger ini menurut saya mirip Raphael si kura-kura ninja, deh. Cara kerjanya paling lucu. Setiap dia ingin menyalurkan emosi marah pada Riley, ia akan mendorong dua tuas di atas panel emosi seperti pilot pesawat yang ingin lepas landas, lalu dari kepalanya menyembur api.

Ketika keluarga Riley pindah dari Minnesota yang bersalju ke San Fransisco yang selalu disinari matahari, ketiga kru inilah yang mengambil alih konsol emosi di “Head-quarter”, sementara Joy dan Sadness terjebak dalam sebuah petualangan menyusuri rimba ingatan jangka panjang Riley.

Kini Riley bukan lagi gadis kecil bahagia dengan kekonyolannya. Ia memberontak, karena yang tersisa di ruang kru kepalanya adalah Anger, Fear, dan Disgust. Tak ada lagi yang membuatnya bahagia karena jatuhnya memori inti menyebabkan runtuhnya pulau-pulau kepribadian dasar Riley.

Kepribadian polos Riley ini kelak akan digantikan dengan kepribadian yang lebih kompleks. Namun sebelum itu, Joy harus berjuang agar bisa kembali ke markasnya dengan membawa kelima memori inti milik Riley, sebelum Riley berubah total dari anak yang ceria menjadi anak yang dingin tanpa kepribadian.

Dalam perjalanannya, Joy dan Sadness dibantu oleh Bing Bong, makhluk khayalan Riley semasa kecil. Secara ‘hukum penulisan cerita’ mungkin kehadiran Bing Bong memang wajib ada, tapi tak hanya sampai di situ. Di dunia nyata, anak kecil memang kerap memiliki teman khayalan (saya juga) yang akan dilupakan begitu si anak beranjak remaja, seperti masa transisi yang sedang dialami Riley.

Nah, di masa transisi itu seorang anak punya khayalan baru, bukan lagi berwujud makhluk fantasi yang aneh bin ajaib, melainkan cowok khayalan!😀

Pokoknya, film ini berhasil menjelaskan teori-teori ilmiah psikologi seorang anak dalam kemasan cerita yang menarik dan menyentuh sanubari.

Saya menonton film ini berulang-ulang dan tetap terharu di penghujung ceritanya, jadi bisa dibilang sutradaranya sukses. Tapi bisa jadi karena saya agak sensitif masalah kenangan. Saya sendiri sejak kecil selalu berpindah-pindah tempat tinggal, yang pada suatu waktu memicu pemberontakan juga, tapi saya nggak berani berbuat seperti Riley. (WARNING: curhat area)

Saya sangat suka film-film seperti ini karena tidak melibatkan kekerasan dan hal-hal kotor lainnya, dan langsung meruntuhkan teori bahwa film yang berkualitas harus menampilkan sesuatu yang vulgar.

Leluconnya tetap menggelitik tanpa harus terdengar sarkastis ataupun porno. Bagi saya “Inside Out” inilah film berkualitas yang sesungguhnya. Di IMDb, saya beri rating 10 bintang deh, kagak nanggung-nanggung.

Om Peter Docter, besok bikin film macam ini lagi, ya🙂

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s