Halo. Aku Elska, girl-on-the-go yang senang bepergian dengan skuter antik warisan Papa. Aku bekerja di kantor konsultan marketing di Jakarta. Tapi itu tiga bulan lalu. Sekarang aku cuma gadis berkaki satu yang kerjanya makan-tidur sepanjang hari.

“Ka! Oi… Elska.” Pagi-pagi, Jihan menggedor rumahku seperti mau mengajak adu jotos.

Mama tergopoh-gopoh membuka pintu, sementara aku menyusul lambat-lambat, belum terbiasa dengan tongkat besi sialan yang harus kusanding seumur hidupku.

Ketika berhadapan dengan ibuku, Jihan baiknya bukan main. Cium tangan, menanyakan kabar rematik Mama, dan memuji aroma sedap yang datang dari dapur. Tapi begitu Mama meninggalkan kami berdua di ruang tamu, kepribadian Jihan kembali ke mode pertama:

“Woi, pemalas. Mau sampai kapan leha-leha di rumah?” tanyanya sambil menggebuk pundakku.

Itu belum seberapa. Saat pertama kali aku pulang ke Jambi dalam keadaan begini, bukannya berharu-biru, dia malah menciptakan julukan ‘Cinderella Berkaki Satu’ itu.

Jahat, ya? Padahal tungkaiku masih dua, hanya saja salah satunya tak bisa diandalkan lagi.

Tapi aku memaafkannya karena dialah yang setiap hari bolak-balik ke rumah untuk merawatku. Lukaku lumayan parah karena waktu itu aku menabrak seorang pengendara sepeda.

Penyebab: rem blong. Sejujurnya itu sudah pernah terjadi sebelumnya, tapi itulah yang terparah. Masih mending aku yang hanya kehilangan kemampuan berjalan, sedangkan gadis yang kutabrak kehilangan sebelah kakinya.

Tapi kalau dipikir-pikir, masih lebih mujur nasib anak itu karena tidak perlu kehilangan skuter kesayangan dan pekerjaan idaman di ibukota seperti aku. Sekarang siapa yang mau menerima cewek pincang ini sebagai tenaga kerja?

“Kamu mau tetap di rumah tapi berduit?” tanya Jihan kemudian. Tentu saja aku lebih senang berkeliling kota dan bertemu dengan banyak orang. Tapi kakiku sudah menjadi aib sekarang, jadi itu tidak mungkin lagi.

“Aku punya kenalan. Namanya Kliff,” Jihan menyempil bersamaku di sofa kecil kesukaan kami. “Dia juga kuliah di Jakarta sepertimu, dan sekarang balik ke Jambi untuk memulai usaha. Katanya dia butuh saran untuk mempromosikan bisnisnya.”

“Modus percomblangan apa lagi ini, Jihandak?” sindirku.

Jihan kalang kabut karena rencananya ketahuan. “Di-dia bukan tipemu, kok. Kuper banget. Tapi dia butuh kamu untuk menyelamatkan tokonya dari kehancuran, Ka.”

***

Imej introver kelas berat tampak jelas pada cowok yang Jihan bawa ke rumahku esok harinya. Sudahlah jangkung, bungkuk, gondrong, janggutnya pun awut-awutan.

“Apa bisnismu, Kliff?” tanyaku dalam sesi interogasi di ruang tamu. Jihan dan Kliff duduk di hadapanku seperti pasangan kekasih yang minta restu bunda.

“Em…” gumam Kliff dengan suara bass seperti kerbau. “Semua yang berbau biker, deh.”

Aku melirik sengit pada Jihan. Dia memang ahli bermain dengan ironi.

Balik lagi pada si sapi gondrong. “Kenapa kamu tertarik membuka usaha yang sangat membosankan ini?”

“Membosankan?” aku menangkap nada tajam pada suaranya. Pasti begini kelanjutannya: Dia akan berceramah tentang keselamatan di jalan raya lalu menunjuk kakiku sebagai hasil dari kelalaian pengendara sepeda motor. Tapi ternyata aku salah. Dia hanya berkata, “Itu hobiku.”

Cowok sesuram ini bisa punya hobi setara cowok keren?

“Nggak punya komunitas motor yang bisa ditumpangi sampel untuk promosi?” tanyaku ketus.

Dia menggeleng.

“Lewat medsos?”

“Sudah, tapi yang nge-like cuma satu.”

Cape deh…

“Mending kamu lihat dulu tokonya, baru memikirkan strategi pemasarannya,” usul Jihan.

Aku terdiam. Bukankah barusan Jihan mengajakku keluar dari rumah suram ini?

“Emang boleh?” tanyaku pelan.

Jihan menepuk pundakku lagi. “Ayolah, Ka. Kamu sudah lama nggak melihat matahari, kan?”

***

Di jalan raya, Kliff adalah seorang biker yang taat. Ia memakai helm standar SNI, jaket kulit, celana panjang denim dan sepatu, semuanya serba hitam dan itu membuatnya terlihat seperti cowok macho sungguhan. Dan motor cc besarnya masih asli pabrikan, belum dimodifikasi, kaca spionnya lengkap, dan BH[1]-nya juga yang standar.

Itu berkebalikan dengan kami para gadis yang berkendara dengan celana pendek, motor matik yang sering cegukan di tengah jalan, dan plat motor custom bertuliskan BH 71 HAN.

Kami berhenti di emperan toko yang dinaungi kanopi, lalu aku turun pelan-pelan dengan bertumpu pada tongkatku. Aku sudah jengah dengan rutinitas ini, padahal aku masih punya sisa waktu seumur hidup untuk berurusan dengan kaki menyusahkan ini.

Kesan pertamaku pada toko ‘KLIFF’: kebesaran dan tidak menarik.

Kesan itu berubah ketika toko itu dibuka. Alih-alih kental dengan bau oli dan karat seperti toko spare part motor, toko ini lebih seperti konter HP. Clean-look. Dihiasi instalasi lampu led berwarna-warni. Bersih. Artistik.

Namun, yang paling mencuri perhatianku bukanlah jaket kulit superkeren atau bagasi tambahan untuk motor turing, melainkan pojok khusus untuk pengendara wanita.

Selama ini yang identik dengan atribut lengkap berkendara selalu laki-laki, seolah hanya kaum Adam yang perlu dipikirkan keselamatannya sementara kaum perempuan tidak. Tapi toko ini…

Toko ini harus diperjuangkan…

Agar tidak ada lagi Elska-Elska lainnya di jalan raya.

***

“Bagaimana dengan bersosialisasi ke sekolah?” kataku pada sesi konsultasi via telepon. Di hadapanku berdiri gunungan koran yang sejak tadi kubolak-balik bersama Jihan untuk mencari posisi iklan yang strategis bagi bisnis Kliff.

“Em…” Kelihatannya Kliff selalu butuh waktu lama untuk memutuskan sesuatu. Aku sampai lupa kalau teleponku masih tersambung dengannya. “Kamu yang bersosialisasi?” dia balik bertanya.

Aku menepuk jidat. “Ya kamulah, oon. Masa’ kamu mau mengandalkan cewek pincang ini?”

“Soalnya aku nggak pandai bicara di depan orang banyak,” ucapnya pelan.

“Ya udah, coba kirim contoh iklan yang kamu buat. Cuma itu solusi terakhir kita,” kataku pasrah, lalu kuakhiri panggilan.

Jihan terkekeh melihat bibir manyunku.

“Kliff itu keluarganya tertutup,” katanya. “Bahkan belakangan ini aku baru tahu kalau adiknya cacat. Naik kursi roda ke mana-mana. Kurasa dia terbebani kewajiban untuk mengurus adiknya sampai nggak bisa mengurus diri sendiri. Harap maklum, ya?”

“Maaf, deh,” kataku, masih agak jengkel.

Ketika aku membuka surel dari Kliff, keringat dinginku mengalir.

Iklan yang dibuat Kliff memuat gambar kecelakaan tragis dengan tulisan di bawahnya:

JANGAN SAMPAI KAMU JADI KORBAN BERIKUTNYA. AYO BELI PERLENGKAPAN BERKENDARAMU DI ‘KLIFF SAFETY CENTER’!!!

“Han?” kataku dingin. “Aku nyerah.” Jihan menggantikanku untuk meladeni Kliff, sementara aku kembali sibuk memindai halaman-halaman koran.

Tak lama, mataku tertuju pada iklan besar di halaman kelima. Sesungguhnya itu adalah promosi event balap sepeda yang akan diselenggarakan di GOR Kotabaru minggu depan. Dikatakan pada event itu juga disewakan stan-stan untuk berjualan.

Sebuah stan!

Aku buru-buru menghubungi contact person yang tertera untuk bertanya apakah masih ada stan kosong yang tersisa. Dan jawabannya ‘ya, kebetulan tinggal satu.’

***

“Jreeeng!” aku menunjukkan iklan ajang balap sepeda itu pada Kliff keesokan paginya.

Dia tampaknya baru bangun tidur dan terburu-buru ke rumahku setelah kutelepon pagi-pagi buta. Ia hanya garuk-garuk kepala saat membacanya.

“Jangan lamban, Kliff, nanti keburu diambil orang,” aku memberinya contoh dengan berjalan cepat. Masa’ cowok normal kalah sama cewek bertongkat.

“Kita akan sibuk hari ini. Pertama, menyerahkan tanda jadi pada panitia event. Lalu membuat brosur—nantinya akan kita sebar selama event berlangsung. Hei, kamu dengar, nggak, Kliff?”

Lagi-lagi Kliff hanya garuk-garuk kepala. Duh, rambutnya itu pasti penuh dengan kutu purba.

Aku pun mengusirnya. “CUKUR RAMBUTMU BARU BALIK LAGI KE SINI!”

Maaf, deh, Kliff. Aku memang jadi temperamen sejak kecelakaan itu.

Kliff kocar-kacir entah ke mana. Aku ragu setelah kubentak-bentak begini dia akan kembali lagi ke rumahku seperti keledai tolol. Tapi rupanya dia memang kembali satu jam kemudian…

Dalam wujud seperti Zayn Malik.

Di balik brewok Charles Darwinnya rupanya cowok ini seksi, bok.

“Jadi pergi, nggak?” tanyanya dengan suara bass yang sekarang terdengar memabukkan.

Sialan. lututku lemas.

“Oke!” teriakku. Sekarang aku yang kalang kabut mempersiapkan diri sebelum pergi dengannya. Aku mengenakan atribut berkendara lengkap untuk menyeimbangkan diri dengan Kliff si astronot jalanan. Ah, betapa kerennya kami jika menjadi pasangan.

Kecepatan motor yang dikendarai Kliff ini paling-paling 40 km/jam, konstan melaju di jalur kiri dan berhenti sebelum garis di perempatan lampu merah. Kliff sungguh keterlaluan dalam urusan taat rambu-rambu jalan. Aku jadi tergelitik untuk bertanya mengapa ia begitu terobsesi untuk mematuhi peraturan lalu lintas.

Namun dia tidak bicara sepatah katapun sepanjang jalan, membuatku luar biasa bosan. Aku rindu menjadi penumpang Jihan yang cara berkendaranya lebih macho daripada Jorge Lorenzo.

Kliff baru menjawab ketika sampai di tokonya untuk mengambil beberapa foto produk sebelum membuat brosur.

“Waktu di Jakarta,” dia memulai, seperti biasa, sangat lambat. “Adikku ditabrak motor. Baik dia maupun penabraknya sama-sama cedera parah.”

Jantungku mencelos. Tiba-tiba aku merasakan firasat buruk. Sangat-sangat buruk.

Toko telah terbuka, namun tak satu pun dari kami yang melangkah masuk.

“Aku sih nggak terlalu marah. Tapi tetap aja.” Sekilas aku menangkap senyum getir di wajahnya. “Yang namanya diamputasi itu mimpi buruk. Aku nggak mau ada yang menderita seperti dia lagi.”

Kedua kakiku lemas, tak hanya yang pincang itu saja. Aku bersandar ke lipatan pintu besi, berusaha mengumpulkan kekuatan lagi.

“Elska? Kamu kenapa?” itu kali pertamanya menyebut namaku.

Mama, aku mau pulang. Jihan, tolong jemput aku. Aku tidak sanggup berada di dekat abang dari anak yang telah kuhilangkan kakinya ini lebih lama lagi.

Seakan mengamini ketakutan terbesarku, sebuah sedan lawas berhenti di depan toko ini.

Aku sempat berharap mobil itu akan membawa pembeli pertama Kliff. Lalu pengemudinya turun, seorang wanita menjelang paruh baya yang tak asing lagi di mataku.

Kliff menghampiri pintu penumpang untuk membantu seorang gadis turun. Kliff mengangkatnya lalu mendudukkannya ke kursi roda.

“Tumben datang,” kata Kliff pada gadis yang satu kakinya terbuat dari kayu itu.

Perutku mulas. Kepalaku berkunang-kunang.

“Tadi Abang bilang mau ikut balap sepeda itu. Makanya aku semangat,” jawab gadis itu ceria. “Aku memang nggak bisa naik sepeda lagi, tapi Abang bisa mewakili aku, kan?”

Kliff mengacak-acak rambut gadis itu. “Abang nggak ikut balapannya, cuma mau jualan di sana. Tanya Kakak itu kalau nggak percaya.”

Bencana. Kenapa kamu menunjuk ke arahku, Kliiiff?

Senyum gadis itu seketika menyusut saat tatapannya berserobok denganku.

Aku terduduk di lantai teras. Sekarang sudah terlambat untuk memanggil bantuan. Ibu gadis itu kini juga menatapku sengit. Aku masih mengingat tatapan itu dengan jelas.

“Kamu yang menabrak anak saya, kan?” kata ibu Kliff tajam. Hanya itu yang dikatakannya, tapi sudah sanggup memporak-porandakan batinku.

Dalam keputusasaanku, aku melirik Kliff, berharap menemukan deux en machina. Tapi Kliff hanya berdiri diam di sana dengan wajah datar tanpa ekspresi.

Rasanya aku sedang dikepung oleh vampir yang haus darah. Aku menguatkan diri untuk berdiri, berjalan secepat mungkin meskipun luka lama di tungkaiku kembali nyeri. Aku mencegat angkot dan pulang. Toh Kliff tidak melakukan apapun untuk membuatku tetap tinggal.

Seumur hidup aku tidak ingin berurusan dengan Kliff lagi.

***

Aku ketakutan setengah mati sampai-sampai menggigil di bawah selimutku. Mama yang panik pun menelepon Jihan, seolah justru Jihanlah ibu kandungku.

“Ngapain kayak bekicot kena air garam gitu?” sergahnya. Aku tak mengatakan apa-apa selain menangis. Rupanya itu ampuh untuk melunakkan hatinya. Jihan duduk di tepi ranjangku dan merendahkan suaranya. “Acara kalian nggak berjalan lancar?”

Sambil terisak-isak, aku pun menceritakan apa yang terjadi di depan toko Kliff.

Jihan mendengarkanku sampai selesai tanpa menyela sepatah katapun. Setelah tak ada yang ingin kusampaikan lagi, dia membelai-belai rambutku. “Tidurlah.”

Maka aku pun tidur.

***

“Han, katakan padaku Elska bukan orang yang menabrak adikku.” Jihan membacakan isi sms yang diterimanya saat sarapan.

“Aku jawab: ‘kenyataannya memang begitu’,” lanjutnya. Aku mengunyah roti selaiku pelan-pelan. Semuanya terasa seperti duri ketika melewati kerongkongan.

Ponsel Jihan berdenting. “Nih, dari Kliff: ‘Sampaikan maafku pada Elska. Kemarin aku benar-benar blank. Kami nggak marah lagi sama dia, kok.’ Kamu mau balas apa, Ka?”

Aku membaringkan kepala di atas meja. “Entahlah.”

Lalu aku teringat bahwa batas pendaftaran stan itu adalah tengah malam tadi, jadi sekarang stan itu pasti sudah jatuh ke tangan orang lain. “Ah! Stannya, Han!” seruku. Aku buru-buru menghubungi panitia yang kemarin untuk menanyakan barangkali stan itu masih tersisa.

Namun selagi aku mendengarkan nada tunggu, Jihan sudah menerima pesan baru dari Kliff: “Aku tidak peduli lagi pada event itu. Aku akan berusaha sendiri seperti kata Elska. Ngomong-ngomong, aku belum membalas jasanya. Kira-kira dia sedang membutuhkan apa?”

Jihan menatapku penuh arti. Aku mengesah. “Nggak usah repot-repot.”

***

Hari-H.

Karena Jihan sedang lengang, aku mengajaknya melihat balap sepeda itu. Aku sedang butuh hiburan. Meskipun event ini tidak terlalu menarik bagiku, tapi aku senang berada di keramaian.

Kami membeli gula kapas dan duduk di pinggiran trek jauh sebelum balap dimulai. Aku menyembunyikan tongkatku di bawah bangku karena benda ini memalukan.

Tak lama setelah aku duduk, seseorang dengan kursi roda duduk di sebelahku.

Seorang gadis. Bersama abangnya.

Mati aku.

“Hei, kalian,” si abang menyapa kami duluan. Tubuhku meriang lagi. Jihan membalas sapaan itu, sementara aku memalingkan wajah dari mereka.

“Hai, Kak,” kudengar sapaan lembut dari si gadis berkursi roda.

“Hai,” balasku, air mataku menggenang lagi.

Anak ini. Caranya melihat sepeda pasti sama dengan caraku melihat skuter antikku. Kini kami sama-sama kehilangan kemampuan untuk meraih prestasi lewat kendaraan kesayangan kami.

Lalu aku tercetus ide. “Hei, Kliff.”

“Hm?” cowok seksi yang pendiam itu pun menoleh.

“Di tokomu ada pelindung siku dan lutut dan helm sepeda, kan?”

Mata Kliff memicing curiga. “Memangnya kenapa?”

***

Selagi Kliff ‘terbang’ ke tokonya untuk mengambil barang-barang yang kuminta, aku pergi ke meja panitia. “Bisakah dua orang mendaftar untuk satu nomor peserta?”

Si panitia memberengut. Jawabannya tentu saja tidak boleh.

“Masalahnya aku cuma punya kaki kanan dan anak itu cuma punya kaki kiri. Kami harus bersatu untuk membuat sepeda itu berjalan. Please, buat akuh.” Aku memasang puppy eyes.

Aku pastilah sangat pro dalam merayu sampai si panitia meloloskan kami sebagai peserta. Aku memberitahu adik Kliff untuk bersiap-siap. Dia terbelalak kaget, tapi kemudian ia memelukku erat. Kalau bisa jejingkrakan, mungkin dia akan melakukannya.

Kami menggunakan sepeda dengan boncengan untuk mengikuti lomba. Aku duduk di belakang sementara adik Kliff duduk di depan. Dia mengayuh pedal sebelah kiri dan aku mendayung pedal kanan. Di saat pebalap lain bersaing menjadi nomor satu, kami sibuk berteriak ‘Kiri! Kanan!’ untuk menjaga kekompakan. Kami finish paling belakang.

Meskipun begitu, kami tetap mendapatkan penghargaan atas keikutsertaan kami. Aku dipanggil naik ke atas panggung, diberi buket bunga, dan ditanyai macam-macam. Termasuk soal kakiku.

Sialan, soal itu lagi. Dari barisan penonton, Jihan mengangguk untuk menguatkanku, sedangkan adik Kliff yang digendong oleh abangnya mengacungkan dua jempol padaku.

Ini saatnya aku bicara.

Selanjutnya, semuanya mengalir seperti air. Aku telah mengubah suka cita kemenangan menjadi biru. Tapi aku tidak menangis lagi. Aku sudah merelakannya. Inilah jalan hidupku.

Dan, sebagai penutup, aku mempromosikan toko Kliff. “Ngomong-ngomong, abang ganteng yang di sana punya toko perlengkapan berkendara buat kamu-kamu, ladies. Diborong ya, biar kamu selamat sampai tujuan namun tetap kece di jalan raya.”

Riuh sorakan dan tepuk tangan membanjiri halaman GOR. Kliff juga ikut bertepuk tangan dan tatapannya tak kunjung berpaling dariku.

Keesokan harinya aku mendapat berita dari Kliff bahwa dia kewalahan melayani pesanan dan membutuhkan seorang karyawan. Siapa sangka aset terbesarnya adalah wajahnya?

Aku menatap Jihan, meminta persetujuan, dan dijawab dengan anggukan oleh sahabatku. Tampaknya aku akan terus berurusan dengan Kliff seumur hidupku.[]

[1] Sebutan untuk plat nomor kendaraan bermotor di Jambi.

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s