imagePengarang: Erin Morgenstern
Penerjemah: Berliani Mantili Nugrahani
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun Terbit: 2011
Tebal: 610 halaman

Sirkus itu datang tanpa pemberitahuan.

Well, cover buku yang di atas adalah versi aslinya dalam bahasa Inggris, tapi terus terang, saya lebih suka versi Indonesianya karena berwarna merah. Tapi tetap saja berkesan creepy creepy gimanaa gitu.

Saya membeli novel ini tahun lalu, 2014, cuma karena berpikir ‘daripada gak ada bacaan di rumah.’ Saya sering sekali dipengaruhi pesimisme semacam itu yang akhirnya bikin saya nyesel sendiri. ‘Eh, rupanya novelnya uhuy!’

Aura misteriusnya sudah berasa sejak prolog. Novel ini memanjakan pembacanya dengan kelima indera (atau lebih) dengan deskripsi-deskripsi singkat nan memikat.

Terpusat pada sebuah sirkus misterius yang beroperasi hanya pada malam hari, novel ini rupanya tak hanya menggembar-gemborkan kehebatan sirkus, tetapi kisah-kisah di belakangnya. Dari mulai perencanaan, malam peresmian, intrik-intrik dan percintaan yang panas, juga masa depan sirkus ini nantinya. Terbagi-bagi menjadi beberapa bagian dan banyak chapter, saya tersesat di dalamnya dalam artian mengasyikkan. Pastikan kamu melihat angka tahun yang tertera di judul chapter agar tidak tersesat.

Tentang tokoh utama dalam novel ini. Ehem… Ada Marco Alisdair dan Celia Bowen. Kisah mereka benar-benar bikin gereget. Yah, seperti kebanyakan kisah romance-lah, hanya saja berbumbu sihir. Meskipun saya bilang gereget, saya juga kurang suka sama Marco meskipun membayangkan sosoknya bikin mimisan. Mungkin karena pada dasarnya saya kurang tertarik dengan cerita romantis apalagi yang berbau cinta segitiga atau cinta yang tak direstui. Males banget.

Saya paling suka Burgess bersaudari, mengingatkan saya pada hubungan dengan adik saya sendiri. Kami sekompak dan semirip itu ketika bersama. Saya juga suka detail-detail sirkusnya, terutama ide tentang botol aroma kenangan (Antologi Memori) yang diciptakan oleh Widget. Saya sepakat dengan Widget bahwa kenangan terkuat dapat diikat dalam aroma.

Sayangnya, soal tempat kurang detail, padahal sirkus itu selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain di seluruh dunia. Mungkin penulis bisa menambahkan trademark setiap kota dalam elemen sirkus. Misalnya ketika show di Kairo, temanya piramid, tapi lupakanlah karena itu nggak terlalu penting.

Yang lebih penting adalah atmosfernya. Di angka-angka tahun disebutkan cerita ini bergulir pada abad ke-19 hingga awal abad 20, tetapi atmosfer yang saya rasakan nggak begitu. Rasanya sama dengan masa modern, hanya saja tanpa peralatan listrik canggih. Entah cuma perasaan saya saja atau pembaca lain juga merasa begitu.

Hmm…apalagi, ya? Oh, perlukah saya beritahu bahwa novel ini bergenre fantasi? Apakah itu berita mengecewakan atau menggembirakan? Yang jelas, tak lama lagi novel ini akan berdiri di antara jajaran novel fantasi yang diangkat ke film lebar seperti Harry Potter dan Twilight (ada banyak contoh lain tapi saya nggak hapal).

Saya beri 3 bintang untuk buku cerita misterius ini. Satu untuk detail yang memanjakan kelima indera saya, satu untuk tingkat kerumitan dalam bercerita (alur maju-mundur dan tokoh utama yang lumayan banyak), dan satu lagi untuk ending yang mengecewakan namun brilian.

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s