imagePenulis: Lexie Xu
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 235 halaman
Tahun terbit: 2010

 

I must be a girl out of trend. Tapi itulah saya, paling hobi membaca buku, menikmati musik, dan menonton film yang sudah ketinggalan zaman. But who cares, ya know, tidak ada istilah ketinggalan zaman untuk dunia literatur.

Frankly ini adalah pinjaman dari teman saya sebagai penyelamat kebosanan di saat kantong lagi cekak. So here it is…

Novel ini dibuka dari sudut pandang Jenny Angkasa, yang mendapat julukan Jenny Jenazah (belum-belum udah bikin merinding nih) untuk membedakannya dengan Jenny-Jenny lainnya di kelas yang sama. Dua Jenny lainnya adalah Jenny Bajaj dan Jenny Tompel. Pokoknya si Jenazah ini yang paling ngeri julukannya.

Nah, Jenny ini orangnya kuper bin culun banget deh. Tipikal cewek nerdy. Tapi sahabatnya, Hanny, adalah ratu sekolah. Kisah percintaannya heboh, kecantikannya memukau, dan hebat di banyak bidang. Berkebalikan banget sama si kikuk Jenazah.

Si Jenazah ini (ngapain gue jadi keterusan manggil dia jenazah?) ternyata tinggal di sebuah rumah seram yang memiliki sejarah mengerikan. Sayangnya Jenny yang bolot baru tahu kalau rumahnya sungguhan berhantu saat Hanny main ke rumahnya untuk fitting baju buat ngedate.

And bla bla bla.

Secara alur cerita, novel ini saya acungi jempol deh. Ini adalah contoh bagaimana sebuah cerita detektif (remaja) seharusnya dieksekusi. Ada klimaks yang memuaskan dan kejadian-kejadian sebelumnya yang mendukung meletusnya klimaks. Bahkan endingnya sukses bikin saya terbelalak. But that’s all really make sense dan kalaupun saya yang diminta bikin cerita begini saya juga akan bikin ending yang sama (hellow, lo siapa?)

Keistimewaan lainnya adalah karakter-karakternya yang tajam. Kita bisa membedakan pemikiran Jenny dan Hanny dan watak-watak orang di sekelilingnya. Dan yang terpenting adalah…tokoh antagonisnya. Ibaratnya dalam mitologi Yunani, ada Dewi Hestia, Aphrodite, Dewa Apollo dan Hermes yang bersatu untuk melawan Dewa Hades.

Cuma, ketegangannya masih kurang nendang, meskipun tetap saja saya bersemangat membuka halaman-halaman berikutnya tanpa tidur dan makan (lebay). Juga ada pergantian kata ganti orang yang kurang konsisten. Seharusnya kalau pakai lo-gue ya lo-gue aja sampai akhir, biar nggak ngebingungin.

Untuk sebuah teenlit bergenre detektif, saya kasih bintang 3 buat novel ini. Satu buat alur ceritanya yang memuaskan, satu buat penokohan yang tajam, satu lagi buat tokoh antagonisnya yang kuat dan kepribadiannya yang kompleks.

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s