imagePenulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2014
Tebal: 318 halaman
***

Walking after you. Ini adalah novel karya Windry Ramadhina pertama yang saya baca.

Desain sampulnya yang shabby chic sukses memikat saya. Tagline-nya–“Kau tak perlu melupakan masa lalu. Kau hanya perlu menerimanya.”–juga memberi saya gambaran sebuah kisah sentimentil yang lagi kepingin saya baca. Lagipula beberapa bulan sebelumnya, saya sudah membaca sneak peeknya di blog Mbak Windry, jadi rasanya sudah wajib untuk membelinya.

Kisah dibuka dengan prolog tentang anak kembar bernama An dan Arlet yang menemukan passion masing-masing pada suatu hari di masa kecil mereka. Arlet tertarik pada kue-kue Prancis, sementara An terpikat pada masakan Italia. What a short nice one, seperti sebuah hidangan appetizer berwarna cerah yang merangsang nafsu makan. So here we go.

Kisah An langsung lompat ke usia dua puluhan, pada hari pertamanya bekerja di toko kue milik sepupunya. Tidak ada Arlet di sini. Di bab pertama kita diperkenalkan dengan koki kue yang mirip cowok Korea dan superperfeksionis, Julian, yang membuat perjuangan An untuk bekerja di dapur kue menjadi lebih sulit.

Kemudian ada perempuan pembawa hujan yang selalu memesan soufflé coklat tanpa pernah memakannya. Julian yang memuja kesempurnaan sampai patah hati gara-gara cewek satu itu.

Ada juga Jinendra, em… Pemilik restoran Italia tempat An sebelumnya bekerja. Di restoran milik pangeran berdarah campuran itulah semua kerumitan hubungan An dengan saudari kembarnya, Arlet, bermula.

What happened with Arlet?

Mengapa An memutuskan untuk menguburkan cita-citanya sebagai koki masakan Italia dan memilih untuk mewujudkan cita-cita saudarinya untuk bekerja di dapur bakery?

Akankah An memaafkan masa lalunya dan move on?

Apakah dia akan kembali pada Jinendra yang merupakan obsesinya atau dia akan berpaling pada Julian yang mengingatkannya pada Arlet?

Feminine side of this story works well until the end. Tentang bagaimana An mendapati perempuan pembawa hujan itu sebagai refleksi dirinya dan membantunya untuk move on. Tentang bagaimana ia akhirnya memilih jalan yang ini walaupun ada banyak godaan lezat menunggu jika ia memilih jalan yang itu. Tentang betapa eratnya hubungan batin An dengan saudarinya…

But that’s it.

Yang menjadi ganjalan bagi saya saat membaca novel ini bukanlah penggambaran tempat yang manis dan pernak-pernik di dalamnya yang cute, tetapi saya hanya merasa settingannya terlalu kental dengan nuansa Eropa sementara di ceritanya mereka tinggal di Indonesia.

I think it’s better taking place in Paris, London, or Brusell in a winter time or fall. Don’t you think so?

Karena, dari gaya hidup hingga tempat-tempat yang dipilih dalam novel ini (termasuk San Diego Hills itu) berorientasi western. There’s almost no reason to keep the setting in Indonesia. Kecuali ya mungkin, An dan Arlet ini blasteran Indonesia.

Cuma itu sih. Sedangkan detail-detail lainnya saya suka banget. Jadi pengin beli karya Mbak Windry lainnya.

Oh, and I give it 3 stars. One for the sweet doodles that scattered in every chapter. Another one for the atmosphere that drunken me inside. And the last star is for the smart safe ending.

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s