Tangisan kencang seorang balita merobek dinginnya udara malam, disusul raungan geram ibunya dan sesuatu yang dibenturkan ke tembok rumah. Tangisan pun terhenti.

Malam belum terlalu larut dan deretan rumah serupa yang mengapit rumah itu masih terang-benderang. Semua tetangga—terutama Naya yang berbagi tembok dengannya—tahu apa yang diperbuat Kira setiap malam untuk menidurkan anaknya. Memukulkan gagang sapu ke pintu, mengempaskan sofa ke dinding, menjerit-jerit sambil mengentak-entakkan kaki ke lantai—belum ada yang berani mengintip ke dalam rumah Kira setiap kali bunyi-bunyi ganjil itu terdengar, tapi dari suaranya, mereka bisa menebak sendiri.

Kira dan suaminya termasuk orang baru di kompleks itu. Suaminya sedang bekerja di luar kota, dan grup rumpi tetangga mengait-ngaitkan kesintingan Kira dengan ketiadaan sang suami. Kira biasanya pemalu dan sangat pendiam di acara-acara RT. Anaknya, Mentari, selalu dipangkunya. Jika berjalan sedikit dituntunnya, jika meminta sesuatu langsung diambilkan. Mentari anak yang ceria dan tidak bisa diam. Orang-orang bisa melihat betapa Kira muda kewalahan mengasuh putri semata wayangnya, tapi wanita itu hanya tersenyum dan berkilah, “biasalah anak pertama.”

Lain halnya jika Mentari mulai merengek. Wajah Kira yang semula lembut dan penakut tiba-tiba berubah menyeramkan. Matanya melotot dan rahangnya gemertak. Tangannya diangkat, siap memukul buah hatinya. Satu kali saja Mentari menangis, ia tak akan memaafkannya. Ia menyeret putri kecilnya pulang ke rumah, melemparkan tubuh mungilnya ke atas kasur, dan meneriakinya supaya diam.

Tentu saja, ayah Mentari tak pernah tahu hal ini. Dan tak akan pernah tahu, sampai Mentari pintar berbicara dan bisa mengadu pada ayahnya lewat telepon. Untuk sementara ini ia benar-benar dikuasai sang ibu.

“Tadi malam kenapa Mentari menangis?” tanya Naya saat membeli sayur yang dijajakan keliling. Itu bukan pertanyaan basa-basi. Naya sudah pernah mengontani Kira untuk memberikan Mentari padanya kalau-kalau memang tidak sanggup mengasuhnya. Naya sudah lima tahun belum punya anak.

Kira langsung memucat dan mengerutkan tubuhnya ditanyai begitu. Ia tersenyum, namun senyum yang merasa bersalah.

“Biasalah, Tari nggak mau tidur, maunya main terus. Padahal untuk anak seusia dia, harusnya tidur dua belas jam sehari,” jawabnya pelan. Ia sudah berusaha menjelaskan, walaupun ia sendiri tidak yakin orang-orang akan memakluminya.

Setelah bungkusan sayur diterimanya, ia cepat-cepat membayar tanpa mempedulikan kembalian dan masuk ke rumahnya. Mengunci pintu.

Mentari kecil berlari dari ruang televisi ke arahnya, lalu memeluk kakinya.

“Jangan lari-lari, Sayang!” hardiknya lembut. “Main sama boneka, ya, Ibu mau masak dulu.”

“Ayi mau bantuin Ibu masak,” Mentari berlari kecil di samping Kira.

“Tapi jangan ganggu Ibu, ya?”

Namanya juga anak-anak. Apa yang sedang dilakukan ibunya, itulah yang diinginkannya. Maka saat memetik sayur, Mentari ikut memetik sayur, lalu pura-pura memasaknya. Namun ketika sang Ibu memintanya untuk dimasak sungguhan, Mentari malah menendang baki sayur hingga daun-daun yang sudah dipetik berhamburan di lantai.

Kira mengatupkan giginya dan terdiam beberapa saat, lalu keluar kata-kata lembut, “jangan nakal, Sayang.”

Dengan tekun, ia memunguti daun-daun di lantai ke dalam baki lalu mencucinya di wastafel. Ketika ia hendak merebus air untuk membuat sayur, kompor gasnya tidak menyala.

Kira mendesah. Gasnya habis.

“Nasib, nasib. Mau makan aja harus begini dulu, begitu dulu. Sudahnya beli lauk jadi. Tapi nanti dimarahi, ‘boros amat! Belum sebulan sudah habis uang belanjanya!’ Nggak belanja, anaknya nggak makan. Emang serba salah,” keluhnya sambil berderap ke kamar, berganti baju dan mengambil kunci motor. “Sayang, mau ikut Ibu ke toko besaaar, nggak?”

Toko besar adalah istilah Mentari untuk supermarket dan sebangsanya.

Mentari jejingkrakan mengiyakan. Kira langsung mendekapnya dan merapikan rambut dan baju anaknya. “Jangan lompat-lompat, Sayang, nanti jatuh.”

Maka pergilah Kira dengan membonceng Mentari di bagian depan. Mentari memakai helm kecil berwarna pink yang seragam dengan warna jaketnya.

Kira memulai sesi belanja dengan menarik sebuah troli besar. Ia menaikkan Mentari ke tempat duduknya dan mendorong troli itu menyusuri rak demi rak di seantero supermarket.

Mentari banyak maunya. Dia ingin jajanan ini dan jajanan itu. Beberapa dikabulkan oleh sang Ibu, tapi akhirnya Kira bergeming.

“Jajanan Tari kan udah banyak, tuh, lihat.”

“Ayi mau itu,” Mentari menjejak-jejakkan kakinya sementara tangannya menunjuk deretan wafer coklat.

“Ini juga enak. Rasa coklat juga,” Kira mengambil satu jajanan dari trolinya dan menunjukkannya pada Mentari. Tapi tidak mempan. Rengekannya semakin menjadi.

“Eh, kalau banyak-banyak nanti siapa yang—”

Tidak mempan. Mentari mulai terisak-isak.

Darah Kira menggelegak. Kepalanya berdenyut-denyut dan pandangannya berputar. Sosok menggemaskan putrinya dalam baju serba pink itu berubah menjadi sampah yang ingin ia lemparkan jauh-jauh dari hidupnya. Anak setan! Bangsat! Babi kau! Jeritnya dalam hati. Tangisan itu meremas-remas jantungnya dan membuat tangannya gatal. Andai makhluk kecil brengsek ini bisa dicabik-cabik saat ini juga.

Kira menggertakkan giginya keras-keras. Dadanya sudah sesak. Ia ingin menjerit di depan telinga mungil anak itu dan menjambaki rambut halusnya yang diikat satu di samping. Tapi ia tahu tempat ini bukan tempat yang tepat. Ia memilih mengalah.

“Iya, boleh, kok. Tapi satu aja, ya?”

Mentari menghapus air matanya saat Kira memasukkan wafer coklat ke dalam troli. Dasar anak demit! Dan mereka berjalan lagi.

Tampak olehnya satu pojok yang sepi dengan kardus-kardus besar produk yang belum dibuka. Di bagian atas pojok itu memang ada cermin cembung, tapi tidak memantulkan pemandangan tepat di bawahnya.

Tercetus ide frustasi itu begitu saja di kepala Kira. Ia membisiki anaknya,

“Tari tunggu di sini, ya, Ibu mau ambil detergen di situ.”

Mentari mengangguk. “Boleh buka permennya?” Ia menggenggam erat sebungkus permen coklat kunyah.

Detak jantung Kira kembali memburu. Telinganya berderu-deru. Namun ia tersenyum. “Boleh, Sayang.”

Makanlah, anjing.

Sekejap Kira meninggalkan anaknya. Bukan untuk mengambil detergen, melainkan untuk berbaur dengan kerumunan dan menyelinap keluar dari supermarket melewati pintu lain.

Akhirnya, bebanku hilang. Enyahlah kau dari duniaku.

Saat ia menghampiri motornya, suara dari pusat informasi terdengar dari loudspeaker terdekat.

“Diberitahukan kepada ibu yang meninggalkan anaknya di pojok stand Baby Diapers—”

Kira menelan ludah. Ia cepat-cepat memakai helm-nya dan menggeber gas motornya. Ia menghirup udara dalam-dalam. Penuh emisi, memang, tapi benar-benar melegakan. Akhirnya dia tidak perlu mendengar tangisan siapapun lagi! Mentari belum tahu arah pulang. Dia akan pergi dibawa siapapun itu. Terserah! Yang jelas setan perusak ketenangan hidup itu sudah tertinggal jauh di belakang.

Namun jantung Kira berdenyar saat ia hendak memasuki gerbang kompleks perumahan. Bagaimana jika ditanya kemana Mentari? Ah, jawab saja lagi di tempat saudara. Bagaimana esok hari dan lusa? Ah, jangan pikirkan sekarang. Kreativitas akan terpancing di saat terdesak. Yang jelas, nikmati dulu kebebasan ini.

*

Kira melemparkan sepatu dan helm-nya begitu saja di garasi, mengunci semua pintu dan jendela, mengurung diri di kamar, dan mendarat di ranjangnya yang rapi dan empuk, dan sejuk dengan wewangian softener bercampur aroma kulitnya.

Kira tersenyum menatap langit-langit. Andaikan hidupnya setenang ini selamanya. Ia tidak merasa kehilangan sesuatu. Sesuatu itu memang harus hilang darinya.

Baru saja ia mau memejamkan mata, ponselnya berdering. Dadanya berdesir, dan ia kaget dengan sentakan rasa tidak nyaman itu di sekujur tubuhnya. Dengan jemari gemetar, ia meraba-raba samping bantal dan mendapatkan ponselnya.

Suaminya menelepon.

Setiap hari di sekitar jam yang sama suaminya memang menelepon. Kira mengangkatnya, berupaya bicara sedikit mungkin dan lebih banyak bertanya. Tapi pertanyaan itu datang juga.

“Mana suara Tari?”

“Dia lagi main di sebelah,” jawab Kira dengan rahang gemetar.

Ia tidak mengerti perasaan apa yang mencengkeramnya. Ia mencoba tertidur selama beberapa waktu, dan terbangun oleh suara krosak dari dapur. Ia melonjak dari kasur dan melejit untuk memeriksa. Dapurnya masih berantakan seperti saat ditinggalkan, dan seekor kucing warna jahe sedang mengorek-ngorek keranjang sampah.

Biasanya Mentari mengajak kucing itu bermain dengannya. Kucing itu jinak dan bersikap seperti pengasuh. Sekarang ia mondar-mandir mengelilingi dapur dan mengeong-ngeong mencari sesuatu.

Kira menendangnya keluar lewat pintu, lalu membereskan dapurnya. Namun kucing itu masuk lagi lewat kisi-kisi jendela dan kembali meneror dapur dengan meongannya yang menggema.

“Tidak ada makanan hari ini!” Kira mengentakkan kakinya ke lantai, membuat kucing itu memasang posisi defensif. “Huss!”

Kucing itu malah melesat ke ruang tengah tempat Mentari biasa bemain. Ia kemudian bergelung di sebuah kursi plastik kecil milik Mentari dan tertidur.

Kecemasan melanda benak Kira. Apakah kucing tahu apa yang terjadi pada anaknya jauh di sana?

Kira menggeleng. Masa bodoh.

Sepanjang sisa hari ia habiskan berbaring-baring menonton televisi, melihat status Facebook, dan memejamkan mata. Tapi ia tak bisa tidur. Perutnya keroncongan, namun ia tak bisa memasak apapun dengan gas habis. Sejak pergi ke supermarket, ia sudah berniat tidak masak untuk merayakan kemerdekaannya dari memberi makan anak orang.

Menjelang sore, ia memanggil Mentari untuk mengajaknya mandi setelah itu berjalan-jalan mencari camilan, sampai ia sadar Mentari sudah tidak lagi bersamanya.

Apa yang terjadi padanya? Apakah seseorang membawa anaknya pulang? Atau ke kantor polisi? Atau adakah yang mengaku-ngaku sebagai sang ibu lalu menjual Mentari ke luar negeri? Apakah ginjal dan hati anaknya akan diambil?

Kira segera mengenyahkan paranoia itu. Tapi semakin ia berusaha, ia semakin ketakutan.

Saat hari telah gelap, ia mondar-mandir tak jelas di seluruh bagian rumahnya. Bagaimana jika Mentari kelaparan? Haus? Dimana dia akan tidur malam ini? Apakah dia bisa tidur tanpa boneka kesayangannya? Bagaimana jika dia bermaksud mengejar ibunya dengan meninggalkan supermarket dan lari ke jalanan yang ramai?

Semakin mendekati tengah malam, yang menghantuinya hanya satu: suara tangisan Mentari.

Sejak dilahirkan, tangisan Mentari selalu memekakkan telinga, seolah dunia harus tahu ia telah menjadi penduduk baru di Bumi. Tangisan itulah yang menandai dimulainya penderitaan Kira. Ia nyaris kehabisan darah saat berjuang mengeluarkan anak sialan itu, dan pengorbanannya dibalas dengan rentetan tangisan yang membuat kepalanya sakit.

Ia membenci tangisan. Ia membenci musik kondangan, gelegar mesin pesawat, motor dengan knalpot racing, bahkan suara pintu yang dibanting. Semua itu membuatnya marah dan hilang kendali. Tapi sekarang suara tangisan itu terngiang-ngiang di kepalanya, tak bisa diusir, tak bisa dimatikan, sekalipun ia menyetel musik dengan headset dan memutar volumenya sampai maksimal.

Itu hanya membuat sakit kepalanya semakin menjadi.

Kira terhuyung memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Sekarang bersama dengan tangisan itu ia mendengar dengungan, semakin lama semakin keras, seperti distorsi gitar dalam loudspeaker besar.

“Tari, diaaam!” jeritnya. Sekarang rasanya celah-celah tengkoraknya merenggang, dan nyeri hebat menyerbu kepalanya. Kira berbaring meringkuk di lantai, sejenak tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan serangan rasa sakit menyiksanya.

*

Naya terjaga dari tidurnya saat mendengar jeritan itu. Tak seperti malam-malam biasanya dimana ada tangisan anak disusul teriakan ibunya, malam ini hanya ada teriakan sang ibu. Tidak ada anak.

Jelas ini tidak bisa ditolerir lagi. Ia membangunkan suaminya dan mengajaknya menengok apa yang terjadi di rumah sebelah. Naya tidak punya nyali jika harus berhadapan dengan orang gila yang sanggup melempar sofa ke dinding dengan satu tangan.

Dengan piyama, Naya menyeberangi halaman dan mengetuk pintu rumah Kira. Ketukan yang kuat dan tak sabaran. “Ada apa, Bu? Kira? Buka, tolong, ini Naya.”

Suaminya berdesis, menyuruhnya menempelkan telinga ke pintu. Terdengar suara erangan lemah. Tak salah lagi, ada sesuatu.

“Kita dobrak aja, Mas,” Naya mengangguk pada suaminya.

Dalam dua kali percobaan, pintu itu berhasil terdobrak, dan tampaklah Kira yang meringkuk tak bergerak di lorong menuju ruang tengah.

Naya berlari menghampiri wanita malang itu dan mendapati wajahnya seputih kertas. Dari hidungnya keluar darah.

“Kira? Kira?” Naya mengguncang-guncang tubuhnya. “Dimana Tari?”

Kira tidak membuka mata. Bibirnya bergerak, namun suaranya tidak keluar. Naya mendekatkan telinganya untuk menyimak.

“Supermarket?”

Kira mengangguk.

“Mas, cari Tari di supermarket!” Naya menyikut suaminya.

“Mana ada supermarket buka jam segini?” heran suaminya.

“D-di pos polisi terdekat! Pasti dia dititipkan di sana! Cepat! Biar aku yang telepon ambulans.”

Meskipun bertanya-tanya mengapa anak sekecil itu harus ditemukan di supermarket, suami Naya berangkat juga.

Setelah pintu mengatup—walau tidak rapat—Naya beralih pada Kira di pangkuannya. “Apa yang terjadi? Tari diculik? Hilang? Ibu kenapa?”

Kira tidak menjawab. Ia menggenggamkan ponselnya pada Naya dan bibirnya kembali komat-kamit. Naya diam mendengarkan, dan setelah mengerti apa maksud kata-kata Kira, ia menitikkan air mata.

“Anakmu masih kecil, Ra,” bisiknya.

Kira mengangguk, lalu menutup mata.

*

5 tahun kemudian,

Serombongan gadis kecil berseragam merah putih melewati bangku panjang di halaman sekolah mereka. Ada seorang murid perempuan berkuncir satu di samping duduk di sana, headset menyumpal kedua telinga mungilnya.

“Hai, Tari!” sapa rombongan itu sambil melambaikan tangan.

“Jangan dengerin musik terus, nanti hapenya disita guru,” kata yang lain.

“Aku dengerin suara ibu aku, kok!” balas Mentari saat rombongan itu berlalu.

Ia membuka kotak bekal di pangkuannya. Lima potong bolu gulung. Ia mengambil satu dan menekan tombol Play di layar ponselnya. Suara lembut namun panik sang ibu pun mengalun.

“Sayang? Mulai sekarang Tari main sendiri, ya? Ibu nggak bisa temenin Tari lagi. Maafin Ibu, ya, Sayang. Ibu sayang kamu. Ibu sayaaang banget sama kamu. Tari jangan suka nangis lagi, ya, Sayang? Ibu takut kalau dengar kamu nangis. Apapun itu, Sayang. Bulan, bintang, semuanya akan Ibu ambilkan untuk kamu asalkan kamu tidak menangis. Kamu harus terus bersinar cerah seperti matahari, seperti yang kamu lakukan untuk Ibu selama dua tahun awal hidupmu—atau dua tahun terakhir hidupku, terserah. Jangan cariin Ibu, ya, Tari, Ibu nggak kemana-mana, kok. Jadi anak yang baik-baik, ya, Sayang?”

Tari menyuapkan potongan terakhir bolu gulung, lalu mengangguk seolah sang Ibu bicara di hadapannya. “Iya, Bu. I love you.”

~

2 pemikiran pada “Mom Never Wants You Cry

  1. I wonder… what will I do when it’s finally my time to have a child. I really hate their crying sounds. I’m always awkward near them and I try to keep a distance. As far as I can.

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s