Judul Buku: Hibiscus; samaran, misteri,
dan balas dendam
Penulis: Agnes Arina
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 252 halaman
Tahun Terbit: 2013

(PERHATIAN: review ini dipenuhi opini pribadi–dan curhat colongan–jadi bawa selow aja ya😉 hoho)

Oke, ini novel detektif Indonesia pertama yang saya beli karena tertarik dengan karakter detektifnya, Bagaskara. By the way, Bagaskara itu nama prototype saya sebelum lahir, tapi kemudian orang tua saya terpaksa menggantinya karena saya tidak terlahir sebagai anak laki-laki😦

Mulai lagi deh. Bab pertama bikin greget karena penggunaan kalimat-kalimat pendek yang terasa nendang. Banyak Bahasa Perancis di sana-sini dan terus terang lidah saya terbalik-balik saat mencoba membacanya keras-keras (siapa suruh?)

Tokohnya terlalu banyak dan namanya susah-susah jadi pusing deh. Tapi untuk anak-anak jurusan sastra Perancis udah biasa kali ya? Emang dasar sayanya yang buta huruf.

Detail tempat, nama jalan, nama hotel, dan lain-lain itu saya suka. Saya yang buta arah ini suka terheran-heran karena setiap penulis yang saya baca novelnya punya kemampuan penunjuk arah yang luar biasa. Detail karakternya kurang tajam, atau mungkin itu karena saya kesulitan mengenali tokoh yang agak banyak.

Dari segi penyelidikan, karena ini novel detektif, saya kesulitan menebak siapa pelakunya dan apa motifnya. Untuk pembunuhan pertama terhadap Monsieur Villeneuve saya bisa mengerti motifnya, tapi untuk Madame Rolland nggak ngerti. Mana cara ngebunuhnya sadis begitu. Saya kaget ketika tiba-tiba cerita berakhir begitu saja padahal saya berharap bisa menemukan klimaks tertinggi dari cerita ini.

Dari tokoh detektifnya sendiri, saya sangat suka. Terutama karena digambarkan si Bagas itu guanteng ya (reviewer ganjen nih). Sayangnya takut kucing, yang bikin saya langsung illfeel karena saya maniak kucing. Metode yang sering dipakai mata-mata banyak ditemukan di novel ini, tapi kayaknya lebih cocok dipakai untuk novel detektif remaja aja.

Yang jadi ganjalan di kepala saya, itu si Christine Le Coq mati ya? Kok mati? Terus, kasus pencurian kayu itu nggak ada hubungannya dengan kasus pembunuhan ya? Padahal saya berharap ada korelasi antara kasus pencurian kayu, pembunuhan Villeneuve dan Rolland, cincin kawin yang hilang, dan Hibiscus. Oh tidaaak novel ini bikin saya penasaraaan >_<

After all, saya memberi tiga bintang untuk novel ini. Satu bintang buat gaya bahasanya yang sangat saya suka. Satu bintang berikutnya buat detail tempat yang ciamik. Dan satu bintang lagi khusus buat Bagas *kedip mata*

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s