Judul: Melbourne Rewind
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit:  2013
Tebal: 324 halaman

Ini buku pertama yang saya resensi. Setelah sekian tahun jadi pembaca pasif, saya mencoba untuk sedikit reaktif B-)

Terus terang ini buku pertama yang saya beli dengan genre romance dan up to date. Biasanya yang saya beli itu buku yang udah puluhan tahun terbit atau malah berabad-abad yang lalu. Orang jadul banget pokoknya.

Nah, kita mulai membedel buku yang sudah berhasil menggebrak hati saya ini. Salah satu pertimbangan saya ketika membelinya adalah karena saya sedang terobsesi dengan keunikan Melbourne dan mati penasaran setelah membaca first chapternya di blog Kak Winna. Juga karena dia memberi soundtrack tersendiri di setiap babnya. Hmm…uwalah…

Jadi ceritanya ada Max dan ada Laura. Max menggandrungi cahaya dan Laura punya selera musik aneh. Mereka pernah pacaran waktu kuliah dan berpisah ketika Max memutuskan untuk mengejar cita-cita dan obsesinya pada cahaya. Mereka ketemu lagi beberapa tahun kemudian, lalu kembali melakukan rutinitas seperti dulu, duduk-duduk ngopi di sebuah kafe bernama Prudence.

Gaya berceritanya asik. Dari sudut pandang Max dan dari sudut pandang Laura. Bab pertama sukses menggugah selera membaca saya. Bab-bab selanjutnya bercerita tentang masa lalu yang muncul ke permukaan akibat peristiwa yang relevan di masa sekarang. Begitulah hingga akhir, seakan semuanya cuma sebuah lagu yang di-rewind. That’s sweet.

Sejujurnya karena saya terbiasa membaca novel bergenre suspense, saya merasa hambar saat membaca Melbourne. Yang saya nikmati dari novel ini justru teknik menulisnya yang bener-bener keren dan menggelitik jemari saya untuk ikut-ikutan menulis walaupun nggak jelas nulis apa. OK, forget it. Back to topic.

Well karena nggak terbiasa membaca novel romance, saya nggak merasakan apa-apa setelah membaca novel ini. Kalimat per kalimat memang ditulis dengan detail dan sensitif, tapi saya gagal menangkap feel yang ingin ditebarkan Kak Winna dalam cerita ini😦 mungkin saya perlu lebih banyak novel romance untuk dibaca.

Saya mengunduh semua track yang ada di setiap babnya, dan lagu-lagu ini, meskipun bukan sesuatu yang luar biasa, tetapi pas banget didengerin sambil membaca novel ini.

Cerita Laura dan Evan ini yang menarik perhatian saya karena saya memiliki hubungan serupa dengan someone. Cuma karena selera musik kami serupa, kami suka chattingan sampai lupa waktu demi berbagi info musik dan nggak nyadar si cowok udah punya pacar sementara saya tetap jomblo. (WARNING: Curhat Area)

Karena tokohnya sedikit, setiap tokoh punya detail yang memorable. Setiap tokoh memiliki flaw yang memicu konflik dan akhirnya menggerakkan cerita. Cuma, menurut saya cerita ini akan lebih ngena secara emosional jika urutannya nggak dibolak-balik. Maksudnya nggak perlu dibuat semacam flashback. Karena kejadiannya, pas saya sudah baca sampai tamat terus ngulang lagi, saya malah menitikkan air mata di bagian pertengkaran Max dan Laura soal Evan (WARNING: spoiler). Tapi cuma itu aja sih.

Finally, di Goodreads saya memberinya 3 bintang. Satu bintang untuk plotnya yang apik. Satu bintang untuk bahasanya yang menawan. Dan satu bintang lagi buat penggambaran tempat yang indah.

Simple but written sweetly. That’s it.

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s