Kamarku pagi itu redup. Sinar matahari tak kunjung muncul, seakan tak akan ada musim semi di Coldstream.

Perapian kecil di pojok telah lama padam. Aku membungkus tubuh kecilku dengan selimut wol dan menghampiri jendela yang tertutup gorden linen putih. Aku menyingkapnya; tak menemukan apapun yang bisa dilihat karena embun beku melapisi panel jendela. Hanya samar bayangan wajah Ibu di akhir hidupnya yang terlihat dimana saja di rumahku.

Ibuku meninggal di awal musim semi yang beku seperti ini Oktober tahun lalu.

“Aku mau ke Melbourne,” kata Ayah saat kutuangkan kopi panas ke cangkirnya. Ayahku tidak terlalu jangkung dan bahunya lebar. Kumis dan alisnya tebal. Mata birunya selalu memberiku harapan akan musim panas yang hangat.

“Kau mau ikut?”

“Aku di rumah saja.”

Ayah mengernyit. Tidak biasanya aku menolak pergi dan memilih bertahan di rumah. Terutama sejak Ibu meninggal.

“Aku cemas jika kau sendirian di rumah. Ayo, bersiap-siap. Aku ingin kau ikut denganku. Kita akan membeli bibit-bibit bunga untuk ditanam. Bunga-bunga piaraan ibumu mati karena tak terawat sejak dia pergi dan pekarangan kita sekarang tampak gersang.”

Aku berpura-pura batuk dan menggosok-gosok hidungku sampai merah. “Hari ini dingin sekali. Sepertinya aku demam dan aku ingin tidur lagi.”

Ayah mendesah. Ia beranjak dari kursi, memakai mantel, memasang sepatu bot dan menyambar topinya yang tergantung di dinding kayu di dekat pintu. “Mungkin Ayah akan lama. Jangan main di kebun anggur, ya?”

Ayah menghampiri truk tuanya yang berwarna biru laut. Karat ada di sana-sini, terutama di baknya. Ada gulungan tali tambang dan perkakas pertanian lainnya di sana, tapi tak ada kapak merah berkarat andalan Ayah. Kapak itu menghilang di hari kematian Ibu. Anehnya Ayah tak kunjung membeli yang baru.

Setelah mobil itu melaju dengan deru kasarnya, aku meraih jaketku dan pergi ke kebun anggur di belakang rumah. Semuanya gundul dan tertutup embun beku, kecuali pohon golden wattle yang mulai berbunga harum. Langit diselubungi berlapis-lapis awan kelabu. Benar-benar tak terlihat musim semi akan segera datang.

Angin dingin berhembus pelan menusuk tulang; aku merapatkan jaketku. Seekor gagak bertengger di pagar kayu, mengawasiku dengan mata kelamnya.

Aku berjalan di lorong kebun anggur, mengenang mimpi buruk saat nyawa Ibu melayang di tempat ini. Dia terjatuh begitu saja. Kata dokter dia terkena serangan jantung. Wajahnya yang membiru dan penuh teror itu terus menghantui pikiranku. Matanya membelalak dan mulutnya terbuka. Ia pasti melihat sesuatu yang sangat menakutkan di sini.

Angin dingin bertiup semakin kencang. Aku berbalik untuk pulang; kurasa tidak ada yang aneh dengan tempat ini.

Tunggu. Ada suara tanah tercabik di dekatku. Perlahan aku memberanikan diri menoleh ke belakang dan menemukan kapak merah berkarat milik Ayah tertancap tegak di sana.

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s