Semua orang sudah mati.

Yang tersisa dari barisanku hanyalah aku, dengan baju compang-camping, noda darah dan lumpur di sekujur tubuhku.

Kau pasti menganggapku gila karena aku hanyalah gadis kecil berambut tipis dan lepek, kulitku sepucat langit November, tulang-belulangku gemetar. Yang kuhadapi adalah tentara musuh dengan senapan mesin terbidik ke kepalaku.

Debu padang pasir menghambur bersama angin dari Terusan Suez. Mengubah rambut kelamku jadi kepirang-pirangan. Mataku tak berkedip. Aku tak mau kehilangan sepertiga detikpun momen kekalahan musuh.

Satu per satu serdadu terkapar di depanku. Mereka menggelepar-gelepar seperti ayam yang disembelih. Meraung-raung, membuat ngeri teman-temannya yang lebih baru. Tapi itu tidak mempengaruhiku. Semakin banyak dan semakin cepat mereka mati, itu semakin baik.

Mereka membunuh keluargaku beberapa hari yang lalu. Pertama ayahku. Dia mati berkalang tanah bersama puluhan pejuang sipil lainnya. Dimakan rudal. Lalu ibu dan adik kembarku yang masih merangkak. Rumah kami diberondong peluru. Tetangga-tetanggaku bilang seharusnya aku ikut mati bersama mereka. Tapi aku menolak untuk mati. Ayahku berkata aku memang anak yang keras kepala.

Tinggal satu serdadu di depanku. Dia mengangkat senjatanya. Jaraknya hanya satu jengkal dari mata kananku. Telunjuknya gemetar. Aku tahu dia kelelahan. Sudah tiga hari kami berdiri berhadapan begini. Kami sama-sama tidak makan, tidak tidur, tidak memalingkan wajah satu sama lain.

Dia pria muda bermata biru. Kulitnya terbakar matahari. Dia berkali-kali meneriakiku dalam bahasa yang tak kukenal. Mungkin menyuruhku menyerah. Dia tidak berani mendekat satu langkahpun dariku. Aku terlalu berbahaya untuknya.

Dia punya dua pilihan. Lari dariku selama-lamanya, atau memanggil lebih banyak tentara untuk menghujaniku dengan lebih banyak peluru. Tapi mereka sudah melakukannya kemarin. Aku belum juga mati. Roboh saja tidak. Mereka tentara pengecut.

Sebelum ini aku dan keluargaku selalu berdoa pada Tuhan agar Dia mengirimkan malaikat pelindung pada kami. Kami memuji-muji dan merayu-rayu Tuhan dengan sikap baik kami. Kami tahu Tuhan mencintai orang-orang baik. Tapi ada yang tidak kumengerti, kenapa malaikatnya terlambat sekali?

Sebelum menghembuskan napas terakhirnya ibu tersenyum padaku. Dia bilang dia melihat cahaya di belakangku.

“Itu malaikat. Dia datang untukmu, anak manis. Jangan takut. Kelak kamu akan jadi orang besar. Kamu akan tumbuh besar dan hidup bahagia. Jangan lupa terus berdoa pada Tuhan. Aku sudah melihat rumah kita di sana. Menyusullah ketika sudah tua. Kami menyayangimu, nak.”

Aku hendak berbalik untuk memarahi malaikat itu, “Kenapa lama sekali!”

Tapi saat itulah malaikat lain membawa ibu dan kedua adikku pergi. Mereka masuk surga. Aku tidak yakin aku bisa menyusul mereka ke tempat yang sama, sebab aku sudah membunuh satu serdadu dengan tanganku sendiri. Kalau itu tidak kulakukan, aku tak mungkin berhadapan dengan pemuda mata biru yang bersiap mengeksekusiku ini.

Dia tidak selamanya dalam keadaan membidikku. Sesekali dia merogoh saku untuk mengeluarkan foto orang tuanya, lalu menciumnya. Dia tidak boleh mati muda. Dia harus kembali ke negaranya dalam keadaan hidup, karena tidak ingin membuat orang tuanya menangis. Itulah yang membuatku mengulur-ulur waktu. Aku menahan malaikatku supaya tidak langsung menghabisinya.

“Menyerahlah!” Raung pria muda itu lagi, tampaknya dengan tenaga dan nyali terakhirnya. Dia jatuh berlutut di hadapanku, meletakkan senjatanya, dan tersedu-sedu. “Aku lelah. Tolong, menyerahlah.”

“Kenapa tidak kau saja yang menyerah?” Balasku.

“Aku belum pernah membunuh orang. Apakah sekarang aku harus membunuh anak sekecil kau?”

“Kalau begitu akui saja kekalahanmu. Ini daerah kekuasaanku.”

Kata-kata pongahku memberinya kekuatan. Tepatnya kemarahan. Alasan untuk membunuh. Dia bangkit dan mengarahkan mulut senapannya ke keningku lagi.

“Aku sudah siap melakukannya sekarang.”

“Lakukanlah. Sebanyak apapun kau membunuhku, aku tidak akan mati.”

Dia melepaskan satu tembakan. Dia menjerit dan air matanya mengalir deras.

Aku ambruk. Dengan cepat terbentuklah kolam darah mengelilingi tubuh kurusku. Pria itu tak bisa berhenti menangis. Telingaku risih. Aku ingin memarahinya. Dasar cengeng.

Pemuda itu ingin memutar mundur waktu. Dia menyesali perbuatannya. Apalagi setelah mendapatiku ternyata hanyalah gadis kecil biasa. Aku ternyata masih bisa mati. Setelah peluru yang keseribu.

Satu pemikiran pada “You Shoot Me I Won’t Die

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s