Dear Ojan,

Walaupun kau telah tiada, kami masih selalu menganggapmu ada. Ingatkah kamu waktu bermain domino bersama kami? Kamu lucu sekali waktu itu, berlagak ikutan padahal kamu tidak tahu cara bermain domino. Aku ingin mengajarimu, sih, tapi kamu bandel, ah. Waktu mau diajarin malah tidur. Memang sih, jatah tidur kucing itu 16 jam sehari, tapi sekali-sekali tidur 12 jam saja apa salahnya sih?

Kami sudah tidak pernah bermain domino lagi, karena kami sudah sibuk dengan tugas sekolah masing-masing. Kami merindukan masa-masa liburan waktu itu, dimana kami bisa menghabiskan waktu untuk bermain bersamamu.

Kamu adalah kucing yang istimewa. Kamu memahami setiap perasaan kami, kamu menjadi pengganti orang tua yang mau mengasuh kami hingga kami kelelahan bermain. Kalau diingat-ingat, aku jadi tidak enak hati padamu, Ojan, karena aku suka marah jika kamu mengambil makananku tanpa izin. Aku lupa kalau kamu tidak bisa bicara. Kamu mengeong minta makan malah kukira membuat kegaduhan. Sekali lagi aku minta maaf, ya, aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi pada…aduh, pada siapa? Kamu ‘kan sudah tiada?

Ojan, bolehkah aku bertanya? Sekarang kau ada di mana? Apakah kau masih suka mengintip dari jendela seperti yang sering kau lakukan dulu ketika minta dibukakan pintu? Apakah kamu masih sering berjalan ke kamarku lalu meringkuk di sebelahku yang enggan beranjak dari kasur? Dulu aku pikir kau sangat menyebalkan, tapi sekarang aku benar-benar merindukanmu. Maukah kau kembali? Setidaknya ke dalam mimpiku?


Sahabatku Ojan, aku sangat menanti musim liburan anak sekolah karena aku jenuh disuruh belajar terus. Tapi sayang sekali, saat liburan akhirnya tiba pun, kau sudah tidak ada lagi. Padahal aku kangen bermain denganmu.

Omong-omong, apakah kau bertemu saudaramu, si Doni? Dia merana sekali saat kau tinggal pergi. Dia menyusulmu beberapa minggu kemudian karena tidak tahan jika harus hidup tanpamu. Mudah-mudahan kalian bertemu kembali, jadi kalian bisa bermain bersama dan tidak ada yang merasa kesepian lagi. Sayang sekali, ketika Doni hendak pergi, aku lupa titip salam untukmu. Ya sudah, aku menulis surat saja, meskipun aku tidak tahu harus kukirim ke mana.

Aku dan teman-temanmu di sini baik-baik saja, kau pasti begitu juga di sana, aku tak perlu khawatir tentang itu, bukan?

Salam ya, buat Doni, juga jika kamu bertemu kucing-kucing lain yang sudah mendahuluimu, salam cakar dariku.

With love,

Aku yang jahat dan merindukanmu.

P.S. Temanmu Opet sudah beranak, loh. Anak-anaknya sama jeleknya dengan induknya, tapi tetap lucu kok. Opet adalah ibu terbaik yang pernah kutemui. Andaikan kau masih ada dan mengajari anak-anaknya bermain domino juga😉

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s