Lampu rambu-rambu berubah menjadi hijau.

Semua kendaraan yang terhenti di perempatan jalan itu melaju.

Pemandangan dari jendela restoran cepat saji di sudut sana pun menjadi lega. Meskipun yang terlihat hanya… yah, hiruk-pikuk jalanan di siang bolong.

Terik matahari memanggang trotoar yang dilalui pria tua dengan sepeda untanya, anak-anak SD dengan jajanan tidak menentu, ibu-ibu dengan keranjang sayuran, dan orang-orang yang disebut seniman jalanan: pengamen, pengemis, pencopet, dan satu orang lagi yang tak mau dijuluki apapun.

Ia adalah seorang pemuda yang seharusnya sedang giat-giatnya belajar di sekolah dan aktif di keorganisasian. Tapi nasib tak pernah ramah padanya. Ia tak mau ikut gerombolannya dalam aksi pencopetan, ia tak ingin lebih merendahkan martabatnya dengan cara mengemis, dan bahkan ia ditolak oleh kawanan pengamen karena suaranya fals.

Lalu, bagaimana ia menghadapi hari-harinya yang tak berarti?

Ia berdiri di luar jendela restoran itu, memperhatikan orang-orang menikmati santap siang. Melihat orang meneguk minuman dengan biasa saja, dan menyantap makanan dengan tak berselera, membuatnya keheranan.

Kenapa bukan dia yang menghabiskan makanan itu?

Kenapa makanan itu datang kepada orang-orang yang perutnya kenyang?

Kemudian muncul seekor kucing hitam kurus berbulu jigrak dan terlihat berminyak, mengeong dengan suara parau di dekat kakinya. Kucing itu menengadahkan kepala dan terus mengeong, seolah mengajak pemuda itu berbicara.

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s