Gemericik suara hujan begitu deras, mengisi kekosongan malam yang gelap dan pekat. Sesekali gelegar guntur menggertak bumi, begitu pula kilatan yang menerangi langit beberapa saat.

Ada sebuah rumah berdinding kayu, gelap gulita, tampak tak berpenghuni, namun samar-samar, di antara suara hujan, melodi piano sendu terdengar, dari dalam rumah ini.

Nada pertama bagaikan teriakan getir yang menyayat hati, diikuti nada-nada yang menggambarkan ketak berdayaan hidup. Nada-nada itu berulang-ulang, menegaskan sebuah kisah sedih yang ingin diceritakannya.

Rumah itu memiliki lorong panjang yang menghubungkan ruang depan dengan ruang makan dan juga tangga menuju lantai atas. Langit-langitnya tidak terlalu tinggi dan di saat seperti ini terkesan seperti lorong bawah bawah yang membawa menuju kematian.

Di sepanjang dinding lorong dipenuhi bingkai foto, yang hanya terlihat seperti kotak-kotak hitam yang menempel tanpa arti di dinding.

Kilat menyambar, menembus jendela besar yang terbuka dan menampakkan deretan awal foto-foto itu, diikuti gelegar guntur.

Foto pertama adalah foto pernikahan sepasang kekasih dengan latar belakang sebuah gereja kecil yang berhiaskan bunga. Setelan jas hitam biasa untuk sang pengantin pria dan slayer putih sederhana untuk sang pengantin wanita.

Nada piano mereda. Mengingatkan kenangan indah yang terabadikan menjadi deretan foto di dinding lorong itu. Tapi tak ada yang mau mengingatnya. Rumah itu terlalu gelap dan sendirian. Hanya ada seseorang yang duduk meringkuk di anak tangga, bagaikan tak punya semangat hidup lagi.

Piano masih berbunyi, seseorang di rumah ini sedang memainkannya di suatu ruangan, sedangkan orang yang duduk di tangga itu memutuskan untuk bangkit, menyalakan lentera, dan berjalan di sepanjang lorong untuk melihat satu per satu foto di dinding.

Foto sepasang pengantin baru di rumah baru mereka yang sederhana dan penuh kehangatan ini. Senyum bahagia dan penuh cinta melekat kuat di wajah mereka berdua.

Nada piano menjerit lagi. Ia berpindah ke foto berikutnya. Foto natal pertama yang mereka rayakan bersama-sama. Tetap dengan senyuman ceria yang tak terperi.

Ia memindahkan lentera ke foto berikutnya. Foto kelahiran bayi perempuan mereka. Bayi yang cantik, sehat, dan menggemaskan. Kebahagiaan pun bertambah di keluarga kecil itu. Seakan senyum adalah milik mereka yang tak akan pernah bisa direnggut.

Kilatan halilintar menyambar lagi, menerangi lantai lorong itu, yang terdapat tumpahan cairan yang tak terputus, menyebar rata di sekujur lantai rumah.

Ia berjalan menuju foto di sebelahnya lagi. Foto keberhasilan langkah pertama putri mereka yang telah tumbuh lebih besar. Rambutnya mulai panjang dengan warna hitam berkilau. Senyum cerianya begitu membahagiakan siapapun yang bersamanya.

Ia menyentuh gambar putrinya di foto itu, seakan tak bisa ia panggil lagi ke masa sekarang. Ia ingin mencengkeram gambar putrinya, dengan tangan bergetar, seolah marah dan menyesali apa yang telah terjadi pada putrinya.

Ia menjatuhkan lenteranya hingga berantakan di lantai, dan seketika api menyebar ke seluruh tumpahan cairan di sepanjang lorong, ruang depan, ruang makan, selusur tangga, dan mulai merambat ke dinding.

Kini lorong yang gelap itu menjadi terang benderang, dan tampaklah semua wajah foto yang tertempel berderet di dinding.

Foto ulang tahun pertama putri mereka, dengan kue penuh krim dan sebatang lilin yang sedang ditiup sang putri, dan kedua orang tuanya ada di sisinya.

Foto hari pertama putri mereka duduk di bangku sekolah, bertemu guru pertamanya dan teman pertamanya.
Foto perlombaan pertama yang diikuti oleh putri mereka dalam rangka merayakan hari ulang tahun sekolah, dan berikut-berikutnya, foto-foto itu berkesinambungan dan bercerita sendiri.

Nada piano merendah, dengan lembut dan sopan mengingatkan suatu kesedihan yang menorehkan luka mendalam dan tak kunjung bisa disembuhkan.

Bahwa pada perlombaan lari yang diikuti putri mereka itu, terjadi sebuah kecelakaan yang menyebabkan putri mereka tak mampu bangkit berdiri lagi.

Senyum seketika hilang dari wajah mereka. Mereka segera berlari menghampiri putri kebanggaan mereka. Dengan air mata berlinangan. Air mata pertama dalam keluarga mereka.

Duka pertama menimpa keluarga kecil itu. Putri mereka dinyatakan tak akan bisa berjalan lagi selama-lamanya.
Nada piano melukiskan kepedihan yang tak dapat terungkapkan, terdengar seperti air mata bisu.

Mereka membawa putri mereka kemana-mana, demi kesembuhannya, agar mereka dapat melihat putri mereka tumbuh normal. Dan juga berlari sebebas angin di taman.

Namun seiring dengan itu, uang mereka habis, sedangkan anak mereka tetap tak berdaya di atas kursi rodanya.
Senyum benar-benar hilang dari wajah mereka, dari hidup mereka. Satu persatu harta benda yang mengisi rumah mereka tak ada lagi di tempatnya. Demi anak mereka, juga senyum bahagia yang harus mereka beli kembali.

Pertengkaran demi pertengkaran memperdebatkan apa yang harus dijual besok telah menggantikan senyum mereka. Dan puncaknya pada sebuah malam berbadai, pertengkaran kembali terjadi pada jamuan makan malam.

Sang istri begitu jahat mengungkapkan kemauannya, dan sang suami sudah lelah mendengarkannya. Pisau pun melayang, menghabisi sebuah nyawa yang tak bisa dijual untuk kesembuhan sang anak.

Dan di tengah kobaran api yang semakin besar, di atas meja makan, terkulai sosok sang istri yang telah tak bernyawa. Darah menetes-netes ke lantai dari bibir meja di dekat si mati. Bersamaan dengan bunyi guntur, melodi pilu pun berakhir.

Sang ayah memasuki sebuah ruangan yang telah terkepung api. Di tengah ruangan itu ada sebuah piano. Dan sang anak, di atas kursi rodanya, menelekan kepalanya di atas tuts piano, kelelahan, pasrah, akan semua yang telah terjadi.

Sang ayah mendekatinya, lalu menggendongnya. Ia berjalan meninggalkan rumah yang telah terbungkus api. Ia tak peduli betapa derasnya hujan, betapa anaknya menggigil kedinginan. Ia hanya berusaha menghangatkannya dalam pelukannya, dan terus berjalan menuju ketidak pastian.

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s