Siang itu begitu cerah. Aku diundang seorang temanku untuk makan siang di sebuah restoran di pinggir laut. Angin laut berhembus agak kencang dan sejuk. Aku mendapati temanku duduk di sebuah meja di dekat jendela yang menghadap laut.

“Suasananya sempurna, bukan?” kata temanku berbasa-basi. Aku tak menghiraukannya. Aku sibuk membuka jasku, menaruhnya di sandaran kursi, barulah aku duduk.

“Tampaknya hari ini kau sibuk sekali, teman,” kata temanku sambil mematikan rokoknya di asbak lalu mengangkat tangannya, memanggil seorang pelayan. Pelayan itu segera menghampiri kami dan menyodorkan buku menu.

Aku memilih makanan yang standar-standar saja, sedangkan temanku memesan makanan yang di telingaku terdengar aneh. Aku memang tidak biasa makan di restoran.

Dua gelas minuman ala tropis disajikan. Aneh, kubilang rasanya aneh. Temanku tertawa.

“Jangan terlalu kaku, teman,” katanya.

“Lalu apa yang ingin kau bicarakan?”

“Oh, kau terlalu serius. Sebenarnya tidak ada yang serius dari obrolan ini. Percayalah….”

“Kalau ini tidak penting, aku akan kembali ke kantorku. Aku sedang banyak kerjaan,” aku bersiap-siap untuk pergi.

“Duduklah. Sebenarnya ini penting. Duduklah, temanku….”

Aku duduk kembali. Mataku menatapnya tanpa berkedip. Dia adalah seorang ahli kriminal yang kupercaya. Dia akan memberiku banyak informasi dan tak mungkin kusia-siakan.

“Kau tahu kasus pembunuhan di Jalan Saka 134 minggu lalu?” dia memulai.

Aku baru saja menelan minumanku. Rasanya yang aneh membuatku berlama-lama mengulumnya di mulutku, untuk mengetahui rasa apa saja yang ada pada minuman itu.

“Kasus pembunuhan terhadap Tuan Hedie itu, ya?”

Temanku mengangguk.

“Katanya memang belum terpecahkan. Apa misterinya?”

“Dia ditemukan telah terbujur kaku di atas sofa pada saat yang sama dia menyampaikan sambutan di acara ulang tahun anaknya….”

“Aku tidak mengerti maksudnya….”

Makan siang kami datang. Dengan ramah temanku mengucapkan terima kasih pada sang pelayan, lalu memegang garpu dan pisaunya.

“Pada jam 8 malam Tuan Hedie memulai kata sambutan, sepuluh menit kemudian dia selesai dan kembali ke ruang duduk. Pada jam 8 lebih 20 menit, seorang pelayan masuk ke ruang duduk dengan membawakan minuman untuk Tuan Hedie karena disuruh seseorang. Pada saat itulah si pelayan mendapati tuannya telah terbaring tak bernyawa di atas sofa. Polisi dan tim forensik dipanggil, mereka datang pada jam 8 lebih 45 menit. Menurut pemeriksaan mereka, Tuan Hedie meninggal 45 menit sebelumnya, yaitu pada jam 8 malam, pada saat dia memulai kata sambutannya….”

Temanku menjelaskannya secara horor. Aku bersikap tak acuh dengan cara mengunyah makananku, menelannya, barulah berkomentar,

“Berarti si pelaku menyamar menjadi Tuan Hedie saat berpidato sedangkan yang asli sudah dibunuhnya di ruang duduk.”

Temanku berdeham.

“Perlu kuberi tambahan sedikit, acara itu dimulai pukul 7 lebih 30 menit dan Tuan Hedie terus berada di ruang tamu tempat acara ulang tahun anaknya diselenggarakan, berbincang dengan para tamu….”

“Yang berbincang dengan para tamu itu si penyamar. Sedangkan yang membunuh adalah komplotannya. Oh ya, dengan apa si pelaku membunuh korban?”

“Yang jelas, ada bekas jeratan tali di lehernya….”

“Apakah senjata pembunuh itu ditemukan?”

“Sudah gosong di perapian ruang tengah.”

“Berarti si pembunuh telah berada di ruang duduk bersama korban sebelum kata sambutan dimulai,” simpulku ringan.

“Ruang duduk berada di sebelah barat ruang tamu. Pintunya pun menghadap ruang tamu. Sebelum Tuan Hedie masuk, menurut saksi mata, pintu ruang duduk itu selalu terbuka dan tidak ada yang keluar-masuk….”

“Artinya Tuan Hedie dibunuh di tempat lain dan baru dipindahkan ke ruang duduk dengan memakai trik. Oh ya, siapa yang menyuruh pelayan mengantarkan minum untuk Tuan Hedie ke ruang duduk?”

“Asisten Tuan Hedie, Makino. Dia mengantar Tuan Hedie ke ruang duduk lalu menyuruh pelayan mengantarkan minuman karena mendadak kondisi kesehatan Tuan Hedie memburuk.”

“Setelah itu Makino ke mana?”

“Dia kembali ke ruang tamu untuk mewakili kehadiran Tuan Hedie.”

“Menurutmu, perlukah 10 menit bagi si pelayan untuk mengambilkan tuannya minum?” tanyaku kemudian.

Temanku memilih untuk menghabiskan makanannya dulu, lalu mengelap mulutnya dengan serbet.

“Itu misterinya, temanku. Bagaimana pendapatmu?” senyum temanku terasa menikamku.

“Apakah si pelayan menggunakan troli untuk mengantarkan minuman pada tuannya?” tanyaku, ingin membalas tikaman senyumannya.

Temanku mengangguk pasti. “Biasanya kan memang selalu begitu. Ayolah, teman, jangan terlalu tidak tahu peraturan di rumah orang kaya….”

“Tuan Hedie berpostur 165 cm dan beratnya 60 kg, kan?” tanyaku memastikan.

Temanku bertambah semangat mengangguk. Dia senang karena aku terlihat tertarik dengan kasus ini.

“Baiklah, temanku. Pelayan itu pelakunya. Dia membawa korban yang telah mati di dalam trolinya, lalu membaringkannya di atas sofa. Sedangkan Tuan Hedie palsu yang lebih dulu masuk ke ruang duduk bersembunyi di suatu tempat di ruangan itu hingga suasana menjadi kacau dan ia memanfaatkan kekacauan itu untuk melepaskan samarannya dan berbaur dengan para tamu. Juga, membuang senjata pembunuh ke perapian agar polisi beranggapan bahwa pembunuhan terjadi di runag duduk….”

Temanku tersenyum puas dengan penjelasanku. Sedangkan aku semakin tajam menatapnya.

“Sayang sekali, temanku yang hebat. Aku belum memberi tahumu nama si pelayan,” katanya dengan nada mengejek.

“Aku tahu,” ungkapku.

“Siapa?”

“Kau.”

Tawanya meledak.

“Jadi maksudmu, aku menyamar sebagai pelayan dan aku membawa seorang komplotan untuk menyamar sebagai Tuan Hedie?”

“Bukan seorang, tapi dua orang.”

Tawanya tenggelam di balik kengerian yang mulai timbul di wajahnya.

“Siapa komplotanku yang satu lagi?”

“Makino. Soalnya dia yang menyuruhmu membawakan minum untuk Tuan Hedie. Ada empat pelayan di rumah itu. kalau Makino tidak tahu adanya pembunuhan ini, dia pasti tidak akan memilihmu untuk memindahkan mayat Tuan Hedie ke ruang duduk dengan kedok membawakan minuman untuknya….”

Temanku itu bertepuk tangan. Tatapan matanya menunjukkan kekaguman sekaligus kebencian padaku.

“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang, temanku?” tanyanya dengan nada menantang.

“Kembali ke kantor. Obrolan kita sudah selesai, kan? Terima kasih untuk traktirannya,” aku beranjak dari kursi makan lalu memakai jasku kembali.

“Mungkin lain kali aku akan mentraktirmu lagi, teman. Soalnya aku punya rencana bagus setelah ini,” serunya saat aku berada di pintu keluar restoran.

Aku tahu, teman. Yang berikutnya, kau berencana untuk membunuhku.

2 pemikiran pada “Close Criminal

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s