Berkhayal tentang Arip memang asyik. Teman-teman sekelasnya yang bilang begitu. Khayalan kali ini bukan seperti yang kemarin-kemarin, lebih logis dan mungkin bisa terwujud dengan doa teman-teman tersayangnya.

Ceritanya berawal dari pengisian absen pagi ini. sudah banyak yang sadar bahwa besok adalah hari ulang tahun Arip. Si Arip-nya sendiri no comment and no expression.

“Cih, kasih tanggapan dikit dong!” kesal Tiara,

“Heh, Rip. Kalo besok kau mau ulang tahun, buatlah daftar doa dan harapan yang kau mau!” bisik Sandy.

Cuma gara-gara satu perintah itu, Arip pusing seharian memikirkan doa apa yang ingin dipanjatkannya.

“Arip, hapus papan tulis! Cepat!” perintah bu Risma ketika masuk jam pelajaran matematika. Sewaktu ingin menghapus bagian atas, ia merasa kesulitan. Ia pun melirik Lilis.

Istirahat tiba. Awalnya Arip hanya main kejar-kejaran dengan Sandy. Begitu masuk kelas, ia terbengong mendengar lagu yang dinyanyikan Tiara and The Backbone, eh, The Friends. Arip makin ternganga melihat jemari Erwin yang sangat lincah menari di antara senar-senar gitarnya.

“Tolooo…ng!!” jerit Tika. Ia dikejar Amid, mau dipetet pakai dasi.

Arip melihat kearah meja Marlina. Tampak anak itu sedang berkerut kening menghadapi soal latihan di depannya.

Setelah itu Arip berpaling ke arah pintu, terlihat Wira dengan pede setengah mati sedang joget ala Michael Jackson.

“Wenli….!!!” teriak Yoan sambil mengejar-ngejar Wendri yang tadi menyagilinya.

“Hua..hahahahaha!!!” tawa Khairul yang menggelegar meletus di tengah kegaduhan suasana kelas. Kalau Manto sok cool, cuma mondar-mandir keliling kelas kayak orang bingung. Steffanny sibuk merapikan rambutnya yang ‘indah’. Irena dan Dearma sibuk ngota-ngota sendiri. Leni cekakakan sambil balas-balasan ejek bersama rival ngomong terberatnya, Wendri. Untung Yoan sang pemuda kelas sangat bijaksana dan dapa manjatuhkan vonis paling tepat untuk terdakwa Wendri.

Arip geleng-geleng kepala, ia lalu memandangi Iman yang ikut main dasi-dasian di depan kelas.

“Bule yang satu itu…” gumam Arip dalam hati.

Malam tiba. Arip merenung di teras rumahnya, mengingat-ingat kejadian di sekolah tadi siang.

“Aha!” Arip tiba-tib mendpat ide. Ditulisinya sebuah kertas panjang dengan kalimat,

“Ya Allah, besok aku ulang tahun. Aku ingin engkau mengabulkan doa-doaku. Yang aku inginkan tidaklah banyak, hanya :

• Ingin bodi jangkung seperti Lilis
• Ingin suara merdu seperti Tiara
• Ingin agak gemukan dikit seperti Tika
• Ingin pintar seperti Marlina
• Ingin punya rambut bagus seperti Steffanny
• Ingin pede abis seperti Wira
• Ingin pintar main gitar seperti Erwin
• Ingin jadi konsultan ke-ganteng-an seperti Irena
• Ingin nyeleneh sendiri seperti Manto
• Ingin punya suara besar seperti Khairul
• Ingin punya nyali untuk mencela orang seperti Wendri
• Ingin jadi pemimpin hebat seperti Yoan
• Ingin jadi orang mirip bule nyasar seperti Iman
• Ingin kocak tapi galak seperti Sandy
• Ingin jadi orang pendiam tapi berkasus seperti Amid
• Ingin full ekspresi/lebay seperti Leni
• Ingin berjiwa feminine seperti Dearma
Amiiin…..!!

Setelah menulis doa se ‘pendek’ itu, Arip membakar kertasnya hingga dapat dihambur-hamburkan seperti debu, entah apa maksud dari tindakan nyeleneh itu.

Esok harinya, benar saja ketika Arip datang ke sekolah teman-temannya langsung menyambutnya dengan ucapan selamat. Arip terharu, namun ada yang janggal dari teman-temannya.

Tubuh Lilis terlihat pendek, suara Tiara terdengar fals, Tika terlihat kurus, Marlina jadi nggak pintar lagi, rambut Steffanny jadi acak-acakan, Wira jadi pemalu, Erwin main belajar main gitar pada orang yang seharusnya lebih nggak tahu, Irena hanya terbengong-bengong mendengar keluhan tiap orang yang datang ke mejanya, Manto tidak tampak sok misterius atau meng-aneh-kan, suara Khairul berubah jadi suara anak-anak, Wendri justru memuji-muji orang, tiap komando Yoan tak ada yang mendengarkan, Iman tampak hitam legam, Sandy berubah jadi seriusan dan baik hati pada Arip, Amid jadi cerewet, Leni malah jarang ngomong, dan Dearma berubah jadi preman!!

“Lho, lho, lho, lho????” bingung Arip.

“Bukan ini doa yang kupinta tadi malam!”pikir Arip sambil menggaruk-garuk kepala.

Apa maksudnya? Jangan berharap bisa jadi orang lain! Jadilah diri sendiri! Arip juga baru menyadari hal itu begitu bangun dari tidurnya di tengah-tengah jam pelajaran. Semuanya masih normal, tak ada yang berubah. Lalu Arip berseru pada seisi kelas,

“Aku punya ide! Gimana waktu ulang tahun besok aku berdoa mudah-mudahan kita lulus semua?”

“Setujuuuu…!!” sambut seluruh temannya.

 

22 September 2008

Satu pemikiran pada “Si Arip Ulang Tahun

  1. Ping-balik: My Homepage

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s