Mari kita lanjutkan khayalan tentang Arip. Anggap saja cerita sebelumnya tidak pernah terjadi, tapi situasinya masih sama, Arip jatuh cinta pada adik kelasnya. Kita akan cari cara lain untuk membantunya mengungkapkan isi hatinya.

Misalnya, gadis yang disukai Arip adalah primadona sekolah yang kebetulan juga banyak tingkah. Walaupun masih baru, tapi dia sudah berani memberi penilaian terhadap siapapun di sekolah ini. Dan Arip sudah terlanjur jatuh hati padanya.

Bagaimana cara meruntuhkan hati cewek yang tinggi dan angkuh itu? si Arip pusing tujuh keliling memikirkan apa yang harus dilakukannya. Apalagi, Arip tak sejangkung Lilis, tak semerdu suara Tiara, tak sealim Manto, tak sekonyol Sandi, tak sepintar Marlina, tak se-dewasa Fanny, dan tak seputih Iman….

Sementara gadis pujaan Arip itu lebih pintar dari Marlina, lebih putih dari Iman, lebih centil dari Dearma, lebih lebay dari Leni, lebih otoriter dari Yoan, dan lebih misterius dari Amid.

Hmm…sudah jelas Arip butuh bantuan teman-temannya. Arip tidak bisa memutuskan keinginan sendiri. Semua saran dari temannya diterima dengan hati terbuka, tanpa banyak protes seperti Manto. Tapi apa kata teman-temannya?

“Tipe cewek judes tuh, cari yang lain aja deh!” kata Sandi.

“Kalau diibaratkan isi kebun binatang, cewek itu komodo,” kata Khairul.

“Setelah kuterawang isi pikirannya, ternyata cewek itu lagi punya lima pacar, Rip!” kata Rene.

Bukannya menciut nyalinya, Arip malah makin nekad. Dia mulai mencari info tentang gadis itu dari teman-temannya. Tapi ternyata gadis itu tahu apa yang dilakukan Arip.

Gadis itu menemui Arip secara langsung dan memberinya tantangan. Jika Arip bisa mengumpulkan 100 kumbang kepik kesukaannya dalam satu hari selama di lingkungan sekolah, maka mereka bakal jadian.

Mendengar tantangan dari gadis itu, anak-anak 9-1 tertawa.

“Ayo! Bolos belajar aja kita hari ini!” tantang Erwin.

Semua anak laki-laki 9-1 langsung berlari ke semak-semak di belakang ruang kelas mereka. Mereka belum sadar, menemukan kepik sekecil upil di padang rumput setinggi perut itu susah setengah mati. Yang mereka temukan malah jangkrik, capung, lebih-lebih Khairul bertemu ular.

Merasa putus asa, Arip berlari kembali ke sekolah dan melapor pada gadis itu,

“Lapor, saya tidak bisa melakukannya, laporan selesai.”

Padahal teman-teman Arip sudah jatuh bangun untuk mencarikan kepik demi perjuangan cinta Arip yang tak bisa dicegah.

“Laporan saya terima, silakan pergi jauh-jauh,” jawab gadis itu angkuh.

“Tunggu! Beri aku kesempatan, kali ini aku pasti berhasil!”

“Oke, kalau gitu…coba kasih aku fotomu bersama gajah. Kumpul besok. Paham?”

“Mak! Aku mana punya foto sama gajah!” seru Arip lalu menelan ludah.

“Wah, gampang kalau cuma foto sama gajah!” cetus Sandi setelah mendengar pengaduan Arip.

“Kita berangkat ke Sungai Tapa! Sekarang!!” tandas Khairul menganggap enteng.

Secara konvoi motor, mereka pergi ke Sungai Tapa setelah pulang sekolah. Begitu sampai di tempat tujuan, mereka merasa lega, karena beberapa gajah kebetulan sedang stand by di tempatnya.

Iman mengeluarkan kamera digitalnya. “Yo, Rip, berpose sana, sama gajahnya. Pegang kakinya,” suruh Iman. Arip menuruti kata-kata Iman, dan Iman bersiap mengambil fotonya.

Sesaat sebelum di-jepret, gajah itu menaikkan belalainya dan mengeluarkan suara melengking. Arip yang ketakutan langsung kocar-kacir entah ke mana. Akibatnya, misi kedua pun gagal.

Esok harinya Arip kembali menghadap gadis itu dan menceritakan kegagalannya. Tapi dia masih belum menyerah. Dia memohon kesempatan sekali lagi.

“Hmm…kalau gitu…belikan aku DVD Harry Potter dari yang pertama sampai yang terakhir, original. Oke?”

Arip pun berkeliling pasar 2 ½ untuk mencari kaset DVD Harry Potter yang original.

“Di sini cuma ada yang bajakan!” keluhnya setelah puas berkeliling.

Dia lalu minta konsultasi lagi pada teman-temannya.

“Okelah, kita cari di Jambi, naik Megis!” ajak Manto dengan penuh semangat. Sepulang sekolah mereka langsung berangkat ke Kota Jambi. Mereka menginap di rumah Manto di Talang Banjar pada malam harinya. Esok paginya mereka baru kelayapan ke pasar. Setelah dapat DVD Harry Potter itu, mereka kembali pulang ke Tebing. Perjalanan dari Jambi ke Tebing memakan waktu kurang lebih 3 jam. Tambah lagi Arip yang beberapa kali mabok, jadi mobil travel harus berkali-kali berhenti.

Dan, hari ini mereka membolos dari sekolah. Jadi Arip harus menunggu di luar pagar sekolah hingga jam pulang.

“Daripada nunggu, mending kita nonton DVD itu dulu,” usul Wira. Mereka pun menonton DVD itu di rumah Sandi. Saking asiknya nonton, tak terasa hari beranjak malam. Arip baru sadar setelah DVD selesai ditonton seluruhnya.

Akhirnya esok harinya Arip datang lagi pada gadis itu untuk minta maaf atas keterlambatannya. Tapi gadis itu tidak mau lagi menerima DVD itu.

“Aku belum mau nyerah!”

“Terserah!” kata gadis itu mulai bosan dikejar-kejar Arip.

Arip seperti biasa menceritakan hal itu pada teman-teman cowoknya, dan lagi-lagi teman-temannya tertawa. Arip yang kesal pun berkata,

“Oke, mulai sekarang aku nggak bakal minta tolong kalian lagi. Aku mau berusaha sendiri!”

“Baguslah, makin ringan kerjaan kita,” celetuk Khairul.

Esok harinya, Arip memberikan coklat pada gadis itu. Oleh gadis itu, coklat itu dipatahkan menjadi dua dan diberikan pada dua temannya.

Di lain waktu, Arip memberi sebuah novel romantis yang didapatnya di perpustakaan. Olah gadis itu, novel itu dikembalikan ke rak buku di perpustakaan itu.

Lain waktu lagi, Arip memberi sekuntum bunga mawar segar pada gadis itu. Gadis itu lalu menanam bunga itu di pot di depan kelasnya.

“Aku nggak suka cowok romantis,” kata gadis itu.

Esok harinya, Arip berdandan tak biasa. Rambutnya dijigraki, baju keluar, pakai sepatu warna-warni, pakai kalung rantai…wah, pokoknya bertampang bejat. Belum lagi masuk ke gerbang, dia sudah diusir oleh Bu Titik, sang kepala sekolah.

Keesokan harinya lagi, Arip menyendiri di pojok kelas. Ia mengamati tingkah teman-temannya. Marlina membaca buku, Tiara menyanyi, Erwin main gitar, Steffanny sibuk bercermin, Yoan ngomel-ngomel pada Wendri, Wira berpuisi, Khairul mondar-mandir nggak jelas, Sandi sibuk membuat cerita lucu dengan Iman, Manto duduk di meja guru, Amid menyendiri, barangkali bersemedi, Lilis, Dearma, Leni sedang berkonsultasi dengan Rene.

Arip pergi ke meja Erwin untuk nimbrung, Erwin tak peduli dan tetap bermain gitar. Arip lalu pergi ke meja Wira. Arip coba menegur Wira, tapi malah,

“Kumau tak seorang ‘kan merayu, tidak juga kau!!” gertak Wira. Arip yang takut lalu pindah ke tempat Leni dan Tika.

“Expelliarmus!!” seru Tika pada Leni.

“Avada kedavra!!” balas Leni.

Arip menggeleng-gelengkan kepala. Ia beranjak ke meja Marlina. Arip mencoba menyapa Marlina.

“Dasar anak pinter, belajar terus….”

“Maaf, rayuanmu nggak laku!” usir Marlina. Arip merana. Tapi kemudian dia dapat ide.

Suatu siang saat istirahat sekolah, Arip datang lagi pada gadis itu dengan membawa gitar.

“Biar kata kau nenek sihir, bagiku Nirina Zubir, o, oo…I lop you bibeh. Biar kata kau mirip kera, bagiku Cinta Laura, o, oo…I lop you bibeh…,” nyanyi Arip.

“Kurang ajar! Kamu bilang aku nenek sihir, mirip kera!!”marah gadis itu lalu menyiramkan minumannya ke muka Arip. “Awas kamu datang-datang lagi!”

Arip ikut marah. Ia membanting gitarnya. “Kumau tak seorang kan merayu, tidak juga kau!” dia menunjuk muka gadis itu.

Gadis itu terpaku beberapa saat.

“Kamu keren…,” gumam gadis itu seperti dihipnotis.

“Maaf, rayuanmu nggak laku!” kata Arip pahit. Ia lalu pergi dari gadis itu.

Akhirnya Arip tidak jadi suka pada gadis itu. Teman-temannya benar tentang gadis itu. jadi Arip memutuskan untuk mencari cewek lain. Begitulah kira-kira khayalannya.

Tebing, 24 Juli 2008

4 pemikiran pada “Si Arip 2

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s