M. Arief Darmawan, bisa dibilang dia adalah anak terculun di kelasnya. Tubuhnya kecil sendiri, suaranya pun belum pecah seperti semua kawan laki-lakinya. Gayanya amat sederhana, cengengesan, dan suka melamun di tengah pelajaran.

Kalau kupinta pendapatmu, bisakah kau mengubah Arip (nama sapaannya) menjadi sedikit lebih baik? Kenapa tidak kita buat dia menjadi anak penentang tata tertib sekolah seperti Khairul? Atau kita buat menjadi anak kutu buku seperti Marlina? Atau anak jago ngerumpi seperti Leni, Tiara, dan kawan-kawan? Bisakah dia berubah menjadi sosok diktator dan otoriter seperti Yoan? Atau mungkin anak gila fashion yang cute seperti Dearma?

Entahlah, kepolosan Arif masih merupakan kepolosan seorang anak kecil. Jiwa seninya belum apa-apanya dibanding Erwin Ketawa, bodinya belum se-jangkung Lilis,orangnya belum punya kepribadian menganehkan seperti Manto. Kurang suka mencela orang, tak seperti Wendri dan rombongannya. Bahkan baru bisa membuat tingkah lucu, bukan membuat cerita lucu seperti Sandi dan Iman.

Ya, kalau kita expose lebih dalam, ternyata Arip belum mempunyai ciri khas tersendiri. Tapi karena kepolosannya itulah, dia menjadi murid yang unik. Tak punya suara merdu seperti Tiara atau Tika, tak punya kecerdasan berbicara seperti Irena, tak unggul seperti Marlina. Yah, prestasinya pokoknya melempem saja. Padahal dia diamanatkan sebagai sekretaris kelas tahun ini, tapi dia tak menunjukkan tanggung jawabnya. Benar-benar seperti anak kecil bau kunir yang baru dilepas di SMP, tak tahu apa-apa.

Siapakah di antara kamu yang ingin Arip berubah menjadi sosok dewasa seperti Steffanny? Atau mungkin menjadi pembaca puisi yang ekspresif seperti Wiranata? Selama ini Arip hanya jadi murid pendiam dan nggak nyambung dengan pelajaran guru.

Ataukah menjadi anak pelamun di pojok kelas seperti Abedul Amid?

Baiklah, kita akan pergi ke dunia khayalan tentang kelas 9-1 yang tercinta ini. kita berandai-andai bahwa tiba-tiba Arip jatuh cinta pada seorang adik kelasnya di kelas 7.

Tapi ternyata tak semudah itu bagi Arip untuk mengungkapkan isi hatinya pada gadis kecil yang disukainya itu. Di lain sisi, sebentar lagi Arip akan tamat dari sekolah ini. teman-temannya menganjurkan agar Arip tak menyembunyikan perasaannya itu di dalam hati. Arip harus mengungkapkannya terang-terangan!!

“Carilah waktu yang tepat dimana kau tidak perlu janjian dengannya dan kau dapat tampil gagah. Buatlah kejutan untuk semua orang!” saran Steffanny yang berpengalaman dalam hal begituan.

“Berlatihlah dalam suatu hal untuk menarik perhatian gadis itu!” tambah Tiara yang berharap Arip akan berlatih menyanyi padanya. Erwin juga setuju, barangkali Arip akan datang padanya untuk mendalami per-gitar-an.

“Busungkan dada dan tampillah sok angkuh!” saran Lilis yang seorang anggota paskibraka tingkat kecamatan. “Berjalan tegap seperti prajurit!”

“Jangan. Melengganglah seperti pragawan!” bantah Tika. “Tampilkan aura maskulin.”

“Melawaklah untuk memancing pembicaraan dengannya,” Sandi dan Iman ikut nimbrung.

“Jangan, dong. Kamu harus cool!” bantah Leni.

Bagaimanakah dengan aksesoris dan waktu/tempat yang direncanakan? Beginilah pendapat teman-teman.

“Pakai jas hitam dan pita akan membuatmu makin terlihat berkelas,” anjur Dearma.

“Pakai kacamata supaya terlihat pintar dan berwibawa,” timpal Marlina.

“Sok kenal sama semua orang biar kelihatan hebat,” bisik Manto.

“Kubuatkan daftar kalimat yang harus kamu ucapkan pada anak itu deh,” ide Rene.

“Nyanyi lagu rock biar kelihatan sangar,” kata Tiara. “Soalnya, waktu yang paling tepat untukmu adalah acara pensi besok. Kita kan bisa pakai baju yang tak terduga….”

Acara pensi tiba. Acara itu diselenggarakan di gedung serbaguna pada malam hari. Saat semua sudah datang, tinggal satu peserta perpisahan yang datang melanggar batas waktu. Kedatangannya menarik perhatian semua peserta pensi. Siapa lagi kalau bukan Si Arip.

“What name?” protes Sandy melihat gaya Arip yang sangat lain. Arip sedang bersandar di pintu masuk, sok cool kayak Shinichi Kudo seperti kata Leni.

Arip mulai melangkah di red carpet, sempat pula dia mengusap rambutnya yang mengkilap kebanyakan minyak, entah minyak kelapa, minyak sayur, atau minyak ikan. Ia memakai jas hitam yang tampak kebesaran di tubuhnya seperti saran Dearma. Ia juga berjalan tegap seperti saran Lilis. Namun dia tersandung sambungan karpet dan jatuh tersungkur.

Arip bangkit lagi, ia lalu memakai kacamata besar seperti Conan seperti saran Marlina. Ia memutuskan untuk berjalan melenggang seperti saran Tika. Sesekali dia mencoba menyapa cewek-cewek di dekatnya seperti saran Manto. Akhirnya Arip menghampiri gadis pujaannya itu.

“Ehem,” Arip berdeham, merogoh sakunya dan melihat daftar kalimat dari Rene. “Selamat malam, gadis manis,” katanya dengan nada anak kelas 1 SD belajar membaca.

“Hueek,” kata Tiara yang memantau dari jauh.

“Maukah kubacakan puisi buatanku?” lanjut Arip. Wira menutup mata, Amid menutup telinga, dan Wendri menutup mulut.

Baru mau membuka kertas kedua, tiba-tiba Arip bersin, “Huaacih!!”

“Hehe, bercanda,” dia menggaruk-garuk kepalanya karena malu.

“Puisi? Cape deh…,” kata gadis kecil yang baru menginjak bangku SMP itu.

“Hmp, baiklah kalau begitu,” di mata Arip ada api yang mulai berkobar. Dia berlari ke atas panggung sambil membuka jas hitam kebesarannya. Saat Iman mulai menabuh drum, Sandy memetik gitar dan Erwin memainkan bas, Arip pun bernyanyi lagu rock andalan grup band kelasnya.

Tiara tersenyum puas. “Sukses aku mengajarinya nyanyi.”

Dan penampilan garang Arip itu membuat gadis kecil itu terkagum-kagum. Sayangnya, itu cuma bayangan dan khayalan kita, hahaha. Andaikan cerita ini benar-benar terjadi pada Arip.

Tebing, 23 Juli 2008

Satu pemikiran pada “Si Arip 1

  1. hahahah si arip sekarang udah sangar,,, jadi salah satu designer penting dan partner kerja saya sekarang kita berdua ngurus banyak hal mulai dari majalah, adversting, sampai design ,,, bekerlas gitulah sekarang si arip oh ya sekrang kita bedua juga jadi photografer,,

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s