Bagi sebagian orang, hidup adalah ladang ujian. Tapi bagiku, hidup adalah kesempatan. Kesempatan untuk memanfaatkan semua kemungkinan yang ada. Jika ada kesempatan untuk merasakan cinta, maka kita akan mencintai. Jika ada kesempatan untuk mencuri maka kita mencuri, dan jika ada kesempatan untuk mendapatkan uang maka kita akan bekerja.

Bekerja? Tidak. Itu kata yang sangat menyakitkan untuk diucapkan. Dalam Bahasa Inggris, kerja adalah work, dan rumus fisika untuk work adalah gaya dikali perpindahan,W=F.s. Berarti, dalam bekerja kita membutuhkan banyak gaya dan perpindahan agar nilai ‘kerja’ kita juga banyak.

Ya! Kita butuh gaya dan perpindahan dalam pekerjaan kita. Bekerja berpindah-pindah? Tidak. Itu adalah lambang ketidak-konstan-an. Sementara dalam Fisika, semua serba konstan. Kecepatan yang konstan, atau percepatan yang konstan. Lalu muncul protes, bekerja tanpa berpindah-pindah kan membosankan, tidak banyak pengalaman, atau malah, sedikit peluang menjadi atasan.

Hei, dalam Fisika, work tidak berarti kerja, melainkan usaha. Di Bahasa Indonesia, kerja hampir tidak sama dengan usaha. Dalam bahasa kerennya, kerja berarti menjadi bawahan dan usaha berarti menjadi atasan.

Teman sebangkuku di SMA, Ririn, adalah salah satu penerap rumus Fisika ini. Berawal dari tugas pelajaran Tata Boga untuk membuat kue tradisional, Ririn pun membuat gethuk. Sebuah panganan tradisional terbuat dari ketela pohon yang ditumbuk lalu diberi gula aren dan dihiasi kelapa parut. Waktu itu dia hanya membuat sedikit, bahkan dengan bangganya dia mencantumkan label “Gethuk Limited Edition”.

Namun apa dikata? Semua menyambut baik makanan yang rasanya bikin merem melek ini. Selepas dari penilaian Tata Boga, Ririn langsung kebanjiran pesanan. Seisi sekolah ingin gethuk buatan Ririn. Tidak siswa, tidak guru, tidak orang-orang pasar, tidak ibuku, semuanya ingin merasakan cita rasa gethuk buatan Ririn.

Dan keuntungan mengalir deras ke kantongnya. Setiap hari ada saja yang memesan gethuk. Hingga pada akhirnya dia terlalu kelelahan, otot-otot lengannya pegal-pegal akibat seringnya Ririn menumbuk ketela pohon menjadi gethuk. Selain itu, dia jadi selalu terlambat ke sekolah karena harus mempersiapkan gethuknya pagi-pagi. Dia rela mengorbankan sekolahnya demi usaha kecil-kecilannya yang memberinya keuntungan cukup besar.

“Aku nggak bisa lanjut kalau begini, badanku sakit-sakit, sering telat ke sekolah,” curhatnya padaku suatu hari.

“Udah deh, Rin. Fokus belajar aja dulu,” saranku.

“Nggak bisa! Duit, mamend, duit!”

Ya…itu masalahnya. Seperti teori kelembaman alias Hukum I Newton, “Benda yang bergerak cenderung akan mempertahankan geraknya dan benda diam akan mempertahankan diamnya.”

Aku pun hanya terdiam melihat kekeras kepalaannya. Dia tidak bisa berhenti. Itulah virus pengusaha, bikin ketagihan. Ririn lalu menyadari sesuatu dalam rumus usaha Fisika yang dianutnya itu.

W=F.s

W=m.a.s

Usaha sama dengan emas. Oh, betapa makin bersemangatnya dia. Dia menerapkan gaya baru. Sekarang dia menciptakan gethuk beraneka ragam dan berwarna-warni. Ada gethuk bertabur coklat, gethuk hijau, dan hampir saja dia membuat gethuk keju.

Dan berkat usahanya, Ririn pun dikenal sebagai Nyonya Gethuk. Image-nya begitu kuat melekat dalam dirinya.

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s