Suatu siang yang cerah, aku mengikuti les fisika di sekolah. Huh, males, pelajarannya ribet, gurunya apalagi.

Tap..tap..

Lho? Pak Yudi yang ngajar? Bukan Bu Ita?

Guru Fisika tetap untuk anak kelas tiga seharusnya Bu Ita, tapi berhubung beliau sedang berhalangan, Pak Yudi menggantikan. Aku sih lebih suka kalau diajar Pak Yudi, soalnya lebih nyambung. Mungkin metodenya memang lebih familiar bagi anak-anak SMA edan kayak aku. Kalau Bu Ita yang ngajar, susah banget ngertinya, bahkan kuakui dari mulai masuk kelas 3 kemarin, belum ada satu rumus pun yang nyangkut di otak.

Tapi…harapan bisa mengerti pelajaran Fisika tiba-tiba lenyap. Spidol nggak ada! Mau pinjam-pinjam ke kelas tetangga malu!

Sementara pelajaran sudah harus dimulai. Lalu?

Dengan gaya santai, Pak Yudi berkata,

“Anak-anak, perhatikan ke papan tulis!”

Beliau membawa sebuah tongkat kayu yang sepertinya memang sengaja disediakan di atas meja guru saat beliau masuk tadi. Mulailah Pak Yudi menggambarkan sesuatu dengan tongkat kayu itu. Kemudian beliau berkata lagi,

“Hitunglah resultan vektor kedua gaya tersebut!”

Lho, lho, lho?

“Pak, mana gambarnya?” tanya salah satu temanku.

“Lho, ini gambarnya…,” Pak Yudi menunjuk papan tulis yang baru saja digambarinya tadi. Papan tulis kosong itu.

Kami hanya bisa terpaku memandangi papan tulis kosong itu, berharap tiba-tiba tulisannya muncul secara ajaib.

Salah satu temanku yang lain, yang paham maksud sindiran Pak Yudi itu kemudian memberikan sebuah spidol.

Dan proses belajar mengajar kembali normal.

Kemari, kamu pasti ingin berkata sesuatu.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s