Naskah Drama 3 Orang

Inilah naskah drama yang iseng-iseng kubuat atas permintaan seorang guruku. Beliau ditugaskan membina siswa yang mau ikut FLS2N tingkat kabupaten.

Pesertanya tiga orang.

Tema dramanya tentang pelestarian hutan.

Guruku sendiri punya banyak tuntutan yang harus kupenuhi dalam naskah drama itu.

Pertama, harus penuh pesan moral baik secara tersurat maupun tersirat.

Kedua, harus ber’cita rasa tinggi’. Tadinya aku bingung dengan istilah guruku itu. Beliau memang berjiwa seni tinggi.

Ketiga,harus mencantumkan ekspresi yang mewakili kata-kata, suasana yang membuat penonton larut, intinya, pertunjukan yang sangat mengesankan.

Oke, kucoba buat naskah sesuai permintaan guruku. Tapi setelah naskah selesai guruku memberitahuku tentang perubahan tema dan jumlah pemain, yang tentu saja membuatku patah semangat. Jadinya, naskah yang sudah susah-susah kubuat ini nggak berguna buat sekolahku T_T.

Check it out…

Meranti

I

Azan subuh baru selesai dikumandangkan.

Fajar menyingsing.

Kokok ayam bersahut-sahutan.

Irama pagi khas tepian hutan yang tak akan bisa dijumpai di perkotaan.

Udara dingin dan basah yang menyegarkan.

Terpaan sinar mentari pagi yang hangat menembus celah-celah pepohonan.

Dan makhluk-makhluk hidup yang mulai berkeliaran.

Aku cinta alam tempat tinggalku.

Sebagaimana aku cinta pada pemilik alam ini.

(Meranti membuka jendela kamarnya dengan perasaan riang)

Ibu                   : Meranti, ayo cari kayu bakar di hutan….

Meranti            : Iya, bu….

(Dengan ceria, Meranti melangkahkan kakinya, mengayunkan tangannya, menuju hutan)

Meranti            : selamat pagi semuanya….

(suara teriakan monyet, kicauan burung, berbagai serangga menyahut)

Meranti            : (merundukkan tubuh di depan sebuah tanaman yang menurutnya aneh) Hei, kita belum pernah melihat ini sebelumnya! (memetik satu bunga lalu membawanya pulang ke rumah)

Meranti            : Ibu, lihatlah apa yang kubawa (sambil menghampiri ibunya yang sedang menyiangi sayuran di belakang rumah)

Ibu                   : Apa itu…oh, cantik sekali. Dimana kamu menemukannya?

Meranti            : Di hutan, bu. Aku jadi ingin tahu jenis apa ini. Tidak ada di buku ipa SMP-ku.

Ibu                   : Jangan berlagak seperti ilmuwan. Tidak ada untungnya bagimu juga….

Meranti            : Ooh…tentu saja untungnya banyak, ibu. Jika ini adalah jenis baru, kita bisa menamainya sendiri, lalu kita tentukan keberadaannya dalam klasifikasi 5 kingdom dan mencari kegunaannya ataupun bahayanya….

Ibu                   : Pelajaran sekolahmu sungguh mengerikan. Untung saja kamu tidak lanjut SMA.

Meranti            : Waah…ibu salah besar jika mengira SMP itu sudah cukup tinggi. Guru-guruku selalu menasehati agar aku menuntut ilmu setinggi-tingginya. Mereka sangat sedih ketika tahu aku tidak melanjutkan sekolah hanya karena….

Ibu                   : Hanya karena apa? kamu mau menyalahkan ibu? Kamu tidak tahu terima kasih. Waktu kamu sekolah, kamu tidak bisa membantu ibu mencari nafkah, kamu sibuk dengan urusan sekolah, pergi entah kemana dan baru pulang ketika magrib….

Meranti            : Kan aku sudah bilang, kami ada tugas kelompok. Selain menerima pelajaran di sekolah, kami juga belajar bersama-sama dari alam sekitar, ibu.

Ibu                   : Kamu nggak usah berdebat ketika kamu salah dan ibu benar! (suaranya meninggi)

Meranti            : Aku nggak mau berdebat dengan ibu cuma gara-gara bunga ini, dan ibu menyesal kenapa dulu aku sekolah?

Ibu                   : Cukup! Buang bunga itu dan bantu ibu! Sekolah membuat seorang anak jadi pembangkang dan akhirnya jadi perusak!

Meranti            : (terdiam lama dan merunduk, kemudian melangkah ke luar rumah, duduk di beranda rumahnya dan memandangi bunga itu di depannya)

Oh bunga yang cantik,

Spesies apakah dirimu,

Apakah tergolong jenis lili,

Atau jenis mawar?

Apakah termasuk jenis pohon berkayu,

Atau tanaman perdu?

Apakah bisa dikembangbiakkan dengan cara setek,

Ataukah cangkok?

Tetaplah mekar secara indah, tetaplah hidup,

Hingga aku tahu, siapa dirimu…

(tatapan Meranti terpusat pada suatu hal di depan sana. Datang seorang pemuda bertampang mahasiswa yang tampak kebingungan)

About these ads

3 thoughts on “Naskah Drama 3 Orang

  1. “Guruku sendiri punya banyak tuntutan yang harus kupenuhi dalam naskah drama itu”
    hay.. hay… gak sampe d tuntutkan??? haahaa
    “Kedua, harus ber’cita rasa tinggi’. Tadinya aku bingung dengan istilah guruku itu. Beliau memang berjiwa seni tinggi” hohohoooo L>E>B>A>Y
    “Oke, kucoba buat naskah sesuai permintaan guruku. Tapi setelah naskah selesai guruku memberitahuku tentang perubahan tema dan jumlah pemain, yang tentu saja membuatku patah semangat. Jadinya, naskah yang sudah susah-susah kubuat ini nggak berguna buat sekolahku T_T.”—-> tdk ada yg sia-sia, smuanya akan sangat berarti, thanks dah memenuhi tuntutan, thanks dah berusaha sebaik mungkin, seorang anggita “tiwi”juno” rintiwi akan slalu d kenang atas segla jasa2-a slama ini,, hanya penghargaan kemaren yg bsa saya bantu usahakan u/ mu, smoa bermamfaat nantinya,, :-)

  2. Ping-balik: Naskah Drama 7 Orang | A Drowsy Monster Page

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s